Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Es

Menari bersama embun. Tenggelamkan tungkai yang berlarian. Ayunan menawan laksana terbang. Melayang-layang bersama uap dingin yang merendah. Bersemayam di sana.

Membenam kesal. Membenam penat yang mengental. Tinggal biarkan ia memadat dan pecah belah.

Membiarkan dirinya terus meluncur bersama ujung pisau dan permukaan es. Beradu. Berayun. Berpacu. Baru mengayuh sudah berbaur. Kalau berlari mungkin tak seberapa bila dibandingkan dengan ini. Kiyara terus melangkah halus. Biarkan skate shoes beradu dengan serpihan es yang tergerus sembari berjalan di atas ice skate.

Tubuhnya terbalut jaket ala kadarnya. Alhasil, kedua punggung tanggan terus bergesek dalam kantong jaket. Cukup tebal kainnya, namun kulit telapak tangan, kulit wajah, kulit leher dan kulit kepala ia biarkan berkerut dan melonggar bersama dingin. Sengaja. Niat ingin membekukannya segala yang ada kemudian ia hentakkan ke atas permukaan es dan pecah. Baginya, es sekokoh marmer. Untuk menggigil, es jauh lebih kuat dan menang.

Permukaan es yang keras. Setiap kali melangkah. Pisaunya mendarat sambil menyentak. Salah satu takdirnya memang harus diinjak.

Cepat dan semakin cepat. Mengabaikan dinginnya suhu in door ice skating yang telah diatur sedemikian rupa agar esnya tetap kokoh dan tak mencair. Walau disinilah kelemahan es yang membuat marmer lebih kuat dan menang. Kiyara tetap berayun dan meyakinin dingin hanya milik es.

Tubuhnya membungkuk. Ikut berayun bersama dua lengan tangan. Seirama dengan tungkai kaki yang menyentak lantai es. Bahunya berayun. Kedudukannya berpacu. Dan beradu kemudian berhenti. Sepasang kaki berbalut selembar skinny jeans kembali tegak. Segaris lurus dengan punggung hingga tulang leher. Masih tetap meluncur. Sisa daya saat berpacu.

Hembusan angin yang ia buat sendiri. Berlari-lari dan menerpa bagian kulit. Ini yang ia cari sedari tadi. Sengaja membekukan kulit untuk dibanting dan bergeming.  Mulai berkeriput dan berkeringat di waktu yang sama. Maka dari itu, Kiyara masih tetap lembab. Satu alasan mengapa ia tak risaukan bagian kulit yang telanjang.

Lintasan terluar memang yang terjauh untuk berputar. Keasyikan berselancar, Kiyara semakin mendekati titik tengah lapangan skate. Dan lelah. Enggan berkeringat tapi tetap bisa tersengal-sengal.

Hidungnya menghirup lebih banyak. Udara bersama bulir uap dingin dari AC dan permukaan es yang sekilas seperti berasap. Asap rendah. Menyelimuti setiap kaki yang bergerak. Menyelimuti kakinya juga. Bagian celana dekat sepatu sudah mulai basah. Itu juga karena ia sudah berkali-kali jatuh. Dan semakin acuh.

Selama berjam-jam dirinya berkutat di atas es dan acuh. Keinginan ingin cepat-cepat membeku. Tak memberikan kesempatan kedua matanya untuk tersadar. Ego mendominasi.

Tiga bocah mungil sedang menari-nari. Meliuk-liuk gemulai sambil terus mengikuti irama musik klasik yang bergema seantero ruangan. Sesekali Kiyara menjatuhkan perhatian pada warna sepatu yang mereka kenakan. Warna putih. Sedangkan Kiyara dan pengunjung lain menggunakan sepatu warna abu-abu kehitaman. Satu hal yang membedakan mereka. Mungkin mereka adalah anak didik kelas ice skate yang sedang berlatih sehabis pulang sekolah. Bisa jadi.

Mengayunkan langkah dengan ketukan. Selaras musik klasik yang berkumandang. Berputar lambat. Kemudian mendekapkan tangan menyilang di dada dan berputar lebih cepat. Hitungan birasa 4/4, putaran berganti dengan ayunan kaki lagi. Meluncur mundur. Dua diantaranya mendekat. Dua pasang tangan bertaut dan berayun bersama. Sesekali tertawa dalam tarian. Indah dan tetap bocah yang ceria. Sesekali salah satu dari mereka terjatuh lalu tertawa.

“Aduh sakit!”

“Hahahaa… Kamu ngapain duduk di bawah?

“Jatoh nih.. Yaah basah deh celanaku.”

“Hahaahhaa…”

Sambil tertawa, sambil menarik tangan agar berdiri kembali. Kemudian tertawa lagi. Kiyara juga ikut tertawa. Ingin, namun ia sembunyikan dalam senyum simpul yang tertahan. Rasa gemas juga menyertai. Betapa lucunya mereka.

Masih di tempat yang sama. Kiyara memutar tubuh sekian derajat ke kanan. Berhenti. Matanya kembali mengamati sambil terus menahan riang dalam senyum simpul.

Seorang ayah dan putri kecilnya. Mungil sekali. Berbanding terbalik dengan tubuh kokoh sang ayah. Untuk mengimbangi tubuh si bocah mungil, ayah raksasa ini sedikit membungkuk. Posisi kuda-kuda. Sedang putri kecil berjaket merah jambu menghampiri sambil tertatih. Tapi tetap riang sambil berteriak , “ayah…”. Sang ayah dengan kuda-kuda membentangkan tangan. Wajah bersahaja dalam senyum sumringah sangat luas. Siap memeluk dan menghangatkan ketika putrinya tiba. Hangat? Seketika tubuh Kiyara merinding. Seakan bereaksi dengan kondisi baru. Walau baru dalam angan ia ucap.

Menyadari kulit tangan mulai keriput. Membayangkan hangat yang terpancar dari setiap tawa yang ia saksikan. Tiga serangkai penari bocah bersepatu putih, tawa riang seorang putri dalam pelukan sang ayah, sepasang remaja yang berdendang sambil bergandengan tangan, dan masih banyak lagi. Ditengah-tengah. Kiyara mendapati dirinya sendiri dan kedinginan.

Galau dalam kondisi nyata dan angan. Dingin yang menyeruak hingga lapisan terakhir kulit tubuhnya. Mendekapkan tangan sekalipun. Dirinya sudah menyerupai marmer di tengah-tengah es. Mematung dan dingin, tapi tak menang.

Kepalanya berputar lagi. Belum mau berselancar menantang hawa. Hanya ingin bergerak saja di tempat. Sampai akhirnya indera penglihatan menemukan seseorang bergerak-gerak. Walau membeku, matanya belum. Sebentar lagi mungkin.

Sama seperti yang Kiyara lakukan beberapa saat lalu. Berpacu melawan angin dari pergerakan uap es di garis terluar dari diameter lapangan. Sepasang tungkai nampak kuat berjalan. Walau begitu, hitungannya tetap berayun agar ujung pisau bergesek sempurna dengan permukaan es. Tatapan mata yang kosong. Lelaki berjaket abu-abu gelap dan headphone putih menutupi seluruh daun telinga.

Seperti naluri yang menggerogoti tubuhnya. Sedang menerka apakan lelaki ini berada dalam angan yang sama dengannya atau tidak. Yang pasti Kiyara juga ikut berputar. Memposisikan dirinya adalah poros dan pergerakan lelaki itu.

Raut wajah kaku. Sekeras marmer dan sedingin es. Kiyara menerka, apakah dirinya juga seperti itu atau tidak? Atau memang dirinya tak sendiri?

***

Bukk!!!

“Aaaww!!!”

“Maaf-maaf.” Dan berlalu

Benar adanya. Membeku lalu terbanting ke lantai. Untungnya Kiyara belum hacur berkeping-keping. Memang kaku, tapi sebagian lagi masih lembab dan belum beku. Tetap saja dirinya tersungkur ketika seseorang menabrak dan egois. Berlalu karena tubuhnya tak ingin ikut labil dan terjatuh seperti gadis berjaket maroon.

Mengagung-agungkan kekuatan es, nyatanya ia tak sekuat marmer. Telapak tangan Kiyara memar dan merah. Untuk berdiri ia harus bertumpu pada telapak tangan yang menyentuh permukaan es. Tanpa sarung tangan. Berusaha berdiri sambil meringis. Ternyata dingin menyakitkan.

Kembali berdiri dengan pinggul sedikit linu. Mungkin juga memar karena berbenturan dengan dingin. Aaahh sial! Telapak tangannya merah, memar. Berbagai sensai yang ia rasakan, namun yang ia pahami hanya satu. Sakit.

Masih tetap sakit tapi teralihkan. Sesuatu mendarat di kepalanya. Sedikit bertekanan. Alunan musik klasik meredam seperti tenggelam dan menghilang. Aliran hasrat mendesir dari daun telinga. Hangat. Kiyara mengadahkan kepalanya cepat. Dan terperanjat.

Tangannya baru kembali ke posisi semula. Baru saja mendaratkan headphone di kepalanya. Kiyara terbelalak bersama raut tanpa gurat emosi. Tanpa senyum. Tanpa tawa. Telinga Kiyara menghangat. Kemudian wajahnya. Ingin tersenyum riang. Ternyata hangat sangat menyenangkan, namun tertahan dalam tanya. Wajahnya kaku. Bagaimana kalau nanti hancur karena beku?

Tanpa berkata, ia kembali berlalu. Kapan ia mendekat? Kapan ia menghampiri. Kiyara juga tak paham dengan kehadirannya. Sudah berkali-kali mencari dan berputar kesana-kemari. Hilang.

bersambung

Category: Serpihan Kaca
Tag: , ,

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 8 * 7?