Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Sebuah Pertimbangan #62

“Saya sudah buat keputusan~baiklah, semoga ini adalah jalan keluar yang tepat.”

Bersandar santai pada kursi kerja. Membalas jawab sambil tersenyum. Sesekali mengangguk walau lawan bicara belum tentu juga melihat.

“Terimakasih banyak, pak Handi.”

“Sama-sama.”

Percakapan berakhir. Ganggang telpon pulang ke habitatnya. Sosok paruh baya ini kembali membenarkan posisi duduknya. Menarik kursi kerja beroda, lebih dekat dengan meja. Inilah posisi terbaik agar dapat duduk tegak.

Posisinya siap, namun tidak dengan kondisi. Bukan kondisi terbaik. Nyatanya pak Handi masih merisaukan percakapan dalam telpon beberapa saat lalu. Mungkin tubuhnya mulai letih. Tetapi hari masih bersinar. Masih pagi. Cipratan sinar matahari juga masih padat mengisi celah gorden yang menutupi sebagian jendela. Ada beberapa jendela dalam ruang kerjanya.

Tangan yang sama ketika mengangkat dan mengembalikan ganggang telpon. Sudah berganti job desc jadi pemijat pelipis. Terasa ada keriput tipis. Sudah cukup ia sadari. Usia memang tak lagi muda. Kemudian berhenti, memijat juga bukan karena pusing. Risau belum juga hilang. Kalau sudah begini memang harus diselesaikan.

Satu tarikan nafas mantap. Menahan sejenak lalu dihembuskan kuat. Risau berbaur dengan uap nafas. Semangat melebur bersama udara yang ia hirup. Ternyata cara ini lebih ampuh ketimbang memijat pelipis dengan telunjuk dan ibu jari. Terkesan tua.

Bertumpu dari satu telapak tangan di tepi meja kayu. Pak Handi menggapai lagi ganggang telpon.

“Sherly.”

“Iya pak?”

“Tolong panggilkan ibu Rea. Langsung ke ruangan saya.”

“Baik pak.”

Hirup lagi nafas dalam-dalam. Berharap suply tenaga bertambah. Dihembuskan kuat-kuat. Sebuah sugesti diri tentang risau yang ikut berbaur saat nafasnya dihembus kuat. Dan sugesti berhasil.

Berputar lagi pada posisi semula. Menyisingkan kemeja lengan panjang. Dilipat pelan hingga menyentuh siku. Selain engsel tubuh mulai mengapur, kain yang menjulur hingga pergelangan tangan ternyata cukup membatasi pergerakan.

Percakapan pertama yang ia lakukan pada pagi hari ini. Sebuah mitos tentang pagi dan berbagai kelakukan yang dilakukan di pagi hari. Salah-salah justru akan berlanjut hingga siang, sore dan berakhir di malam hari. Pagi-pagi sudah dirisaukan satu protes halus dari orang baru dikenal. Sudah menggela nafas, tetap saja risaunya masih tersisa.

Map hijau transparan di salah satu sudut meja. Sejauh ingatan tuanya, benda berlembar ini sudah mendarat dari beberapa hari lalu. Sama beratnya dengan menahan pertimbangan yang selama ini ditahan. Dimana kesempatan datang saat butuh keputusan setelah berlama-lama menimbang. Masalahnya terlalu berat. Dua sisi berat, jadi sama-sama bermassa.

***

“Hai jagoan cilik. Jaga bundamu baik-baik ya. Kalau dia terlalu lelah, tendang saja perutnya. Biar bunda ingat kalau dia butuh istirahat.”

Jordan memang tersenyum dan itu lembut. Masih mengiang dalam telinga dan menguasai sudut otak. Jordan sangat paham bagaimana kerasnya aku. Melawan dengan keras hanya akan menghancurkan satu sisi. Kerat berbenturan dengan keras. Jadi ia lebih memilih lembut yang kokoh. Persis seperti lantunan pesan yang ia layangkan pada janinku. Aku luluh sendiri.

Aku juga tak harus sok kuat agar mendapatkan pengakuan. Usia juga sudah purna dari remaja. Tak lagi meraja. Apa daya seorang arsitek sekaligus ibu hamil harus melawan seorang dokter spesialis bedah sekaligus suamiku sendiri.

Lama-kelamaan memang jadi letih. Ya.. Ya.. Ya.. Aku akui aku kuat dan terbukti sebagai wanita kuat seperti yang ayahku inginkan. Tetap jadi rentan kalau harus berbagi tenaga dengan jagoan kecil dalam tubuhku. Baru beberapa kali bolak-balik screen pc – print out layer kemudian kembali ke pc dan seterusnya. Begitu saja sudah mulai letih.

Oh! Ya ampun. Maafkan bunda ya sayang. Aku buru-buru menyandarkan tubuhku pada sandaran kursi dan menenangkan malaikat dalam rahimku. Nampak ia sangat menyimak pesan dari ayahnya. Terbesit dalam benak bahwa aku sudah mulai lelah. Satu tendangan semakin menguatkan segalanya. Bunda janji tak akan ulang lagi ya. Bunda janji. Terus membelai dengan kedua tanganku. Semoga dengan begini Abraham kecil dapat percaya.

Jordan, maafkan aku. Kepahamanku terlambat. Sudah saatnya aku mengalah.

Kriing… Kriing… Kriing…

Aku belum dapat jawaban pasti dari jagoan kecilku. Minimal aku masih punya satu tangan untuk menjawab telpon dan tangan yang lain terus mengelus puncak perutku.

“Hallo.”

“Ibu Rea, ditunggu pak Handi di ruangannya.”

Sherly yang selalu ramah. Intonasi suara yang dibuat-buat. Memang begitu adanya pekerjaan operator. Minimal tak akan memancing emosi siapa pun ketika menyambut lantunan suara dari seberang telpon. Walau instruksi sekalipun. Bukan berarti aku akan terus menganalisa bagaimana Sherly berikut pekerjaannya.

Pak Handi tiba-tiba memanggil. Ada apa ya?

“One minute, Sherly. Okey?”

Klik!

Jangan Rea. Jangan pikirkan hal yang tidak-tidak. Atau jagoan ini akan mendengar dan menendang dinding perutku lagi. Mungkin karena ia berada dalam tubuh yang sama, isi benakku juga ia tahu. Tenang dan atur nafas. Katakanlah akan ada berita baik dari sahabat sejawat ayah yang satu ini.

Bangkit dari kursi. Masih pelan-pelan, jadi kursi beroda ini tak terhempas jauh kebelakang ketika aku bediri dengan segenap tenaga. Little Abraham sudah memboikot setengahnya. Hampir 50%.

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 7 in addition to 8?