Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Keputusan Karena Kesempatan #63

Menyelami bayangan dalam cermin datar. Sengaja aku letakkan menyatu dengan dinding di satu sisi strategis. Setiap kali aku akan pergi meninggalkan meja, akan kudapati bayanganku sebelum menggapai ganggang pintu. Ini lah diriku bersama si jagoankecil, menyatu dalam tubuhku.

Office dress dan ibu hamil sepertiku. Baby pink menjuntai hingga lutut. Bahan satin yang ringan dan lembut. Seraya ikut bergerak setiap kali aku berputar sedikit. Memastikan bagian kanan-kiri tubuh tak ada yang kusut. Tentu saja tidak. Walau aktif bukan berarti aku ibu yang serampangan. Blazer hitam beserta kantong mungil di kedua sisi depan. Minimal aku masih terkesan sopan.

Lihatlah dirimu sayang. Kehadiranmu meningkatkan berat tubuhku. Menambah gumpalan lemak dalam lapisan kulitku. Jangan khawatirkan masalah itu. Selama tumpukan lemak ini dapat menghangatkan atmosfir yang menyelimutimu, aku rela.

Sedikit berdiri miring agar aku bisa lihat lekuk buncit perutku. Membelai dengan kasih. Lembutnya bahan satin, aku tak henti membelai. Sangat lembut dan menyenangkan. Seandainya aku bisa membungkuk dan mengecup puncak perutku sendiri. Tidak… tidak… Itu menyeramkan.

Jordan mencintai kami berdua. Aku mencintai mereka. Sepertinya aku telah menemukan satu formula untuk bisa bangkitkan unsur riang dalam hati. Setelah itu kebahagian akan memercik, menggelitik pipi. Yah, ini lebih baik. Bayangan dalam cermin berseri-seri. Senyumnya selembut satin, hanya saja jauh lebih tulus. Ini lucu. Aku tersenyum pada diriku sendiri.

Menerawang jauh hingga puncak perut bayanganku disana. Hai malaikat kecilku. Tersenyum seperti bunda yah. Bunda akan selalu ingat apa pesan ayah. Dan hening. Tapi aku merasakan otot-otot yang meregang disekujur perut. Malaikatku tersenyum.

Oh ya ampun, Pak Handi tak harus menungguku sampai selesai bercermin.

Berayun hingga menggapai ganggang pintu dan berlalu. Benak baru menghampiri. Semoga nanti ada hal baik yang akan aku dengar. Amin.

Seraya terus mendekap perut dengan satu tangan. Jangan sampai ia terguncang hanya karena aku berjalan terburu-buru.

***

“Selamat pagi ibu Rea.”

“Ohh, selamat pagi pak Haji.”

Entah siapa nama aslinya, orang-orang di kantor biasa memanggilnya pak Haji. Bukan karena pernah pergi ke tanah suci. Kopiah putih tak pernah lepas dari kulit kepalanya, seperti pak Haji. Sejauh yang pernah kulihat, pak Haji memang botak. Faktor usia. Bahkan beberapa helai kumis dan alisnya sudah berubah keperakkan. Lebih tua dari pak Handi. Office boy tertua di kantor konsultan ini.

Aku cukup lega karena keberadaan pak Haji memberi dampak sangat baik pada office boy yang jauh lebih muda. Siapa pun yang ia temui dalam perjalanan akan disapa bersama senyum usia senja yang bersahaja. Termasuk saat berpapasan dengan ku bersama beberapa gelas kopi dan teh hangat di atas nampan.

Sebelum berada di sini aku juga pernah melihat pak Haji menyapa sedemikian ramah. Saat itu jauh lebih muda. Kerutnya tak sebanyak sekarang. Menyapa ayahku dulu kemudian memanggilku dengan nama lengkap, Reanita. Kemudian tersenyum sambil menyubit pipi kananku. Agak sedikit aneh kalau saat ini pak Haji memanggilku ibu Rea. Justru aku yang terkesan menua. Aku tak pernah memanggilnya mbah Haji.

Itu dia ruangan pak Handi. Pintunya tak tertutup rapat. Ada celah antara daun pintu dengan bingkainya.

Ada apa? Lupakan sejenak senyum ramah pak Haji dan senyum riang bayangku dalam cermin. Pak Handi duduk termenung. Menunduk sedikit. Aku rasa bukan karena sedang membaca. Tangannya hanya sibuk membolak-balik lembaran kertas. Hingga pada akhirnya benda berlembar ini tertutup sempurnya. Itu juga bukan berarti selesai, rekan kerja ayah ini masih tetap meratapi benda itu.

Tarik nafas pelan dan hembus perlahan. Nampak pak Handi tak sedang bahagia. Bahkan aroma beban sudah semerbak. Pergerakan daun pintu menghancurkan udara diam dalam ruangan. Terkesan ada angin datang. Dari situ aku hirup aromanya.

“Selamat pagi.”

Inginnya memberikan intonasi lebih di akhir kalimat. Itu berlaku ketika pak Handi tak sedang tertekan. Asumsi awal. Beliau terus mengatupkan mulutnya. Bahkan ketika menjawab sapaan pagi yang kuatur sedemikian rupa. Ceria namun tetap sopan. Sangat hati-hati.

“Pagi Rea.”

Suaranya masih normal. Tapi aku mendengar ada sisa hembusan nafas yang ikut terucap. Apa yang sedang terjadi?

“Rea, bagaimana pekerjaanmu?”

Merapatkan kursi dan sedikit membungkuk. Tapi raut wajah ini bukan sebuah rasa antusias tentang laporan pekerjaan. Mungkin ini pertanyaan pengantar. Bisa jadi.

“Pembangunan dome? Perhitungan sudah saya selesaikan semua. Dalam waktu dekat kebutuhan material bangunan sudah bisa dibeli. Kondisi tanah untuk pembangunan pondasi sudah dipastikan stabil dari pihak teknik sipil, jadi~~”

“Rea.”

Apa? Ada yang salah? Atau penjelasanku terlalu jauh dan bertele-tele? Kenapa harus memotong penjelasanku?

“Bagaimana keadaan mu? Kandungan mu?”

Sudah kuduga, ini pertanyaan pengantar. Sekarang aku yang ingin bungkam. Entah apa yang sedang berkeliaran dalam kepala pak Handi, aroma beban itu semakin kentara. Akulah penyebabnya. Bergilir, jadi aku yang sedikit resah. Apa yang bisa aku lakukan? Menghambat pengerjaan proyek, sudah jelas bisa. Sangat bisa.

“Rea, salah satu tahap dalam proyek ini adalah keselamatan kerja. Keselamatanmu dan kandunganmu. Kesehatanmu.”

Sudah kuduga.

“Pak Handi, aku sudah persiapkan semuanya persis seperti yang bapak inginkan.”

“Saya sangat paham dengan semangatmu,Rea. Hanya saja saya tidak ingin membuat kesalahan yang sama.”

“Pak, saya tidak mengerti.”

“Perusahaan kami telah kehilangan seorang arsitek hebat. Kami tak ingin kehilangan reinkarnasi sang arsitek hebat yang hidup dalam dirimu, Rea. Yang terjadi pada ayahmu adalah kelalaian perusahaan tentang aturan keselamatan kerja. Rea, lihat dirimu. Kamu akan menjadi seorang ibu. Sangat banyak harapan yang kau kandung saat ini.”

Perih. Mataku perih. Ini sangat mengiris. Amat perih. Ayah pergi saat kunjungan lapangan. Kondisi dalam keadaan konstruksi. Kecerobohan terjadi dan saat itu juga ayah harus pergi.

Tertunduk bersama malaikatku. Meresapi segala keegoisan diri. Egonya aku.

“Re, saya punya sesuatu. Tetaplah berkarya bersama calon arsitek. Buatlah dia sebaik inspirasi Antonio dalam dirimu.”

Kuangkat lagi wajahku. Sepersekian detik saat pak Handi berbicara lagi. Lantunannya jauh lebih memeluk dan penuh kasih. Lembut sudah pasti. Selembut lekuk senyum selepas beban yang telah meluncur saat mengingatkan perkara kecelakaan yang ayah alami.

Satu tangan menyodorkan benda hijauh transparan dan berlembar. Proposal Magang. Dari seorang mahasiswa jurusan teknik arsitektur.

“Bimbinglah dia. Masalah pekerjaan proyek, tak perlu diteruskan lagi. Aku sudah utus beberapa tenaga ahli untuk mengambil alih pekerjaanmu.”

Sangat leluasa, ketika deretan gigi muncul dari persembunyiannya. Senyum lega. Semburat kekhawatiran sudah tak kutemukan lagi. Aku akan tetap terus berkarya tanpa mempertaruhkan apa pun dalam diriku. Dalam hidupku.

“Terima kasih, pak.”

Satu anggukan pelan. Keruta wajahnya memudar saat senyum merekah. Sangat membangkitkan kebahagiaan yang sempat tertunda. Aku tunda sesaat sebelum melangkah masuk, ketika pintu ruangan pak Hanti bercelah.

Sekilar aku lirik nama dalam cover proposal magang. Arya Prawira.

“Rea?”

“Ya?”

“Berterimakasihlah pada Jordan dan mahasiswa ini.”

BERSAMBUNG

Category: Cerita Rea

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 5 times 4?