Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Rindu #2

Tubuhnya masih diambang pintu utama. Gerombolan angin masih mengalir. Melintas hilir-mudik. Sesekali menghantam bagian tubuh. Hanya terpental sesaat kemudian kembali dalam arus. Mengabaikan selaput kulit pembungkus gadis berambut cokelat, masih di ambang pintu. Helainya tak cokelat berkilau. Menggelap. Meredup. 

Rahangnya mulai bergetar. Antara gigi atas dan bawah, ia bergemeletuk. Bukannya menghindar. Sepasang bola mata yang baru beberapa menit lalu sehat berputar mencari. Selagi tenaga masih melekat. Belum ikut menguap bersama angin. Udara yang satu ini juga semakin lama makin dingin. Tapi dirinya tetap gigih. Kepala dan leher bergulir.

Kemana cerahnya langitku? Mendapati langit abu-abu gelap. Permukaan bergumpal-gumpal. Tak ada cerah-cerahnya cahaya yang ia damba dari balik kaca jendela kamar. Kemana matahariku? Mana tahu matahari bersikukuh tetap bersinar seperti dirinya. Semburat cahaya juga tak nampak. Gumpalan awan terlampau tebal. Celah pun tak ada. Kemana hijau bahagiaku? Setitik. Titik-titik air. Rintik-rintik dan berisik. Awan abu-abu jelek menumpahkan air begitu saja. Dedaunan hijaunya gelap. Gemerlapnya tersapu air yang membilas.

Anak rambutnya melambai ingin lepas dari kulit kepala. Dingin sudah sampai selaput sendi. Sebentar lagi akan menjangkau tulang-belulang. Teringat tentang tubuh yang sedang sakit. Kala rindunya datang lagi. Tubuhnya lemah lagi. Tak kokoh lagi. Benar saja, hembusan angin terakhir, maka ia akan tumbang. Angin dingin yang jahat.

Seseorang menarik ganggang pintu. Menutup. Daun pintu tepat di depan batang hidungnya. Sepasang tangan yang sama merengkuh bahunya. Sepasang bola mata hangat menatap. Kerut di sebagian sisi kelopak matanya. Sambil tersenyum sembari mengusap wajah, tangan, dan tungkai anak gadisnya. Diam diambang bingkai pintu dengan hujan angin besar cukup membasuh setengah tubuh mungilnya. Alaika yang sudah menginjak usia 10 tahun. Cukup lama memendam rindu hingga jatuh sakit.

Ia ratapi wajah Alaika. Mulai pucat. Untungnya baju tak ikut basah, minimal ia tidak akan menggigil. Wajah, tangan dan tungkai sudah kering. Meraih gadis berambut cokelat dalam dekapannya. Dibawa ke sofa ruang tengah. Ikut berguncang bersama langkah sang bunda. Kedua lengan kurus yang melingkar di leher seakan tak ingin lepas.

Kelopak matanya terpejam tatkala langkah berubah jadi hempasan ringan. Wanita lembut bersama bocah kurang sehat dalam dekapannya. Pelan-pelan melepaskan lipatan selimut dan membalut tubuh mereka berdua. Sambil membelai penuh sayang dari ubun-ubun hingga punggung belakang.

Dalam diam ingatannya berputar tentang reuni singkat bersama cahaya setelah bangun dari tidur. Menyesapi kebahagiaan saat segalanya terang. Bersamanya dedaunan hijau cerah menyapa. Kenapa pergi begitu cepat?

Pelan-pelan dirinya mencoba bangkit dari angan-angan benderang. Ada sepasang lengan bunda memeluk tubuhnya. Satu telinga bersandar di tubuh kuat bundanya. Mungkin tepat di dada. Ada hangat yang menyeruak dari telinga kemudian kepala. Hingga pada akhirnya merekah luas sampai kuku di ujung-ujung jarinya. Bunda juga hangat. Dan berdenyut. Sama seperti hangatnya cahaya benderang dari balik kaca jendela selepas tidur siang hingga menjelang sore.

Tetap saja gemuruh hujan menyapa daun telinganya. Mengarahkan sepasang mata Alaika bertandang ke jendela ruang tengah. Sama juga berkaca dan bergorden. Langit masih jelek dengan abu-abunya. Dan tumpahan air yang resmi membilas permukaan kaca. “Bunda, kapan soreku cerah lagi?” Sepatah kalimat dalam peluk. Untuk memastikan, Alaika melupakan sejenak hujan diluar sana. Hanya bayangan wajah sang bunda dalam bola matanya. Bukan jawaban, hanya senyum penuh harapan di wajah sang bunda dan kecup lembut di keningnya. “Bunda, bisakah engkau kembalikan soreku?”

selesai

Category: Serpihan Kaca
  • Mahmud says:

    Subhanallah….
    gak berenti2 senyum2 sndri dri tadi, tumben bisa baca smpek kerasa dingin. biasanya klo gak karna kita yg bner2 fokus, itu tulisannya yg bisa ngarahin kita..

    thank you sista.. :)

    bundanya keren bgt, subhanallah..

    March 16, 2013 at 12:45 pm
  • ayu says:

    Mahmud :

    Subhanallah….
    gak berenti2 senyum2 sndri dri tadi, tumben bisa baca smpek kerasa dingin. biasanya klo gak karna kita yg bner2 fokus, itu tulisannya yg bisa ngarahin kita..
    thank you sista..
    bundanya keren bgt, subhanallah..

    inilah hasil tulisan perpaduan dari kangen rumah, mama dan sebel sama hujan yang datang tiap sore hahahaha sore itu lebih bagus kalo cerah… alhamdulillah ngerasa maksimal waktu nulisnya hehehee… keren kan kado dari gw? heheheh

    March 16, 2013 at 9:03 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 2 multiplied by 3?