Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Rindu

Sudah lama lemah. Saking lamanya, dirinya menamai tubuh ini sedang berpenyakit. Mendambakan cercah dalam penerangan ruang kamarnya. Cahaya lampu membosankan. Terang juga bohong.

Hingga suatu hari tubuhnya masih tergolek lemah. Sakit tak pernah wajar. Asupan energi dari bahan makanan, sudah banyak ditelan. Tetap saja demikian. Sejuruh kimia dalam tubuhnya sudah berkelana bersama aliran darah. Tak jarang membuatnya mengantuk. Lalu tertidur. Efek kantuk.

Sering kali dalam lelap. Gemericik air dari luar jendela. Bulir deras menghantam kaca. Di waktu yang sama ia akan berhambur mendekat. Sedikit kekuatan yang ia punya. Meremas sisi gorden dan menariknya. Ia seret semampunya, hingga jendela tertutup rapat. Kembali ke tempat tidur dengan langkah tertatih. Letih. Tetap ia tahan untuk tidak merintih.

Setiap hari makan dan minum obat. Hitungan sesaat tubuhnya tetap lemah. Kemana perginya tenaga yang seharusnya ia serap?

Mendapati dirinya sedang menanti.

***

Terlelap lagi. Sehabis makan dan sebutir tablet yang langsung ditelan bersama air putih. Sunyi senyap tak seperti kemarin. Tak seheboh hujan kemarin.

Pelan-pelan bagian terdalam dari dirinya menyatu. Ia terbangun dari tidur. Terkesiap pelan menatap cahaya yang masuk ke mata. Cahaya? Semburat cerah putih gading langit-langit kamar. Wajahnya berputar. Mengikuti arah datangnya semburat dalam kamar. Dari celah ventilasi. Celah kotak sepanjang satu jengkal silau. Gumpalan cahaya bergemuruh disana, sebelum akhirnya mencelat merapat di langit-langit kamar. Cahaya. Bibir mungilnya mengeja dalam bisu. Suara hati hanya dia yang tahu. Sepintas terlihat hanya senyum.

Sekali ayun. Menyapu selimut dari setengah tubuhnya. Duduk tenang di sisi tempat tidur. Pelan-pelan mendaratkan kaki ke lantai. Kaki kanan lalu kiri. Berdiri.

Langkahnya menyatu dengan keheningan kamar. Masih ingin meraba dengan pendengaran manusia pada umumnya. Adakah gemuruh hujan seperti yang sudah-sudah? Sampai pada langkah terakhir. Tidak ada gemuruh air hujan.

Menimbang-nimbang dalam sepasang alis yang menyatu. Ia putuskan tangan kanan dulu. Gorden terdiri dari dua kain yang tergantung bersama roda-roda kecil. Satu tangan kanan menemukan belahannya. Dua tepi kain yang bertemu di tengah-tengah. Tangan kiri juga demikian, menggapai bagiannya. Tetap demikian telinga terus meraba. Berkali-kali pula berseru. Tidak ada gemuruh air hujan.

Menghirup udara sebanyak-banyaknya. Merasakan aliran udara merasuki hidung, tenggorokan dan dadanya. Biarkan diafragmanya berkembang lebih luas bersama kekuatan dalam kepalan tangan. Hitungan satu dua tiga…

Telinganya mendengar roda-roda beradu. Sedetik setelah kedua tangannya menghempas. Menyibakkan gorden. Bersama kedua tangan yang melebar. Puncak dada yang mengembang sekuat tenaga.

Kedua tangan meraba keberadaan kaca jendela. Menyentuh dengan ujung-ujung jari. Kemudian keseluruhan kulit telapak tangan menyatu disana. Kenyamanan dalam senyap yang sudah cukup lama ia dambakan. Bersama indera peraba di sekujur tubuhnya. Merasakan kehadiran nuansa yang ia rindukan. Sangat merindukan. Hingga terjebak rasa. Jatuh sakit karenanya.

Kulitnya meremang merespon hangat. Kulit tangan, kulit leher hingga kulit wajah. Sengaja ia sajikan sepasang pelupuk yang menidurinya saat terkantuk-kantuk karena obat. Biarkan aku menyerap kenyamanan ini sebanyak-banyaknya. Dalam nuansa mata terpejam. Tak ada sudut tergelap. Inilah saatnya.

Menghaluskan nafas yang tergesa-gesa. Sudah teratur. Perasaan senang merangsang kelopak matanya berkedut dan terbuka. Kornea menyapa. Saatnya setiap sisi dinding mata meresapi segala yang tersaji. Tungkainya melangkah lagi sekali. Andai ia sanggup memeluk erat kaca jendela raksasa di hadapannya. Akhirnya kau datang juga. Aku menanti cukup lama.

Segalanya terang. Langit biru terang. Awan putih terang. Sejauh dirinya menafsirkan keceriaan alam yang ia dambakan. Semuanya cerah. Warna kulit bersama hujan cahaya. Kulitnya cerah. Helai rambutnya cokelat menyala. Bagian tertentu berkilau perak. Cahaya memantul di rambutnya. Rongga dada yang sesak dibelai cahaya tumpah di hadapannya. Dadanya menghangat. Dedaunan dalam penglihatannya hijau bahagia menyapa. Menyambut kedatangan cahaya nyata. Matahari jauh lebih nyata. Itu sebabnya ia sebut lampu bersinar bohong.

Tetap seperti itu hingga beberapa saat. Cahaya putih cemerlang bergeser pelan. Menguning. Langit masih terang. Awan masih cerah. Tapi hangatnya berkurang. Sore datang. Sisa panas yang pecah tadi siang beradu dengan dingin angin malam yang hadir lebih awal. Sore sejuk. Inilah saatnya.

Mundur beberapa langkah. Melepas peluk hangat kaca jendela. Memutar tubuh dan berlari. Kali pertama ia keluar kamar. Tubuhnya sudah jauh lebih sehat. Setelah sekian lama sakit. Penyakit rindu.

Menggenggam ganggang pintu utama. Menggeser kuat hingga semua terbuka. Sebuah tekanan yang tertahan sekian abad. Ada celah, mengalirlah dia ke dalam. Udara sejuk bercampur lembab serta merta berhembus bersama angin. Melewati tubuhnya termangu di ambang pintu. Pori-pori kulit harus cepat mengatup, atau hangatnya tubuh menguap bersama jahatnya angin dingin. Dimana sejuk? Kemana sisa hangat soreku?

bersambung

Category: Serpihan Kaca

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What color is the sky on a sunny day?