Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Sendiri #2

Rasanya musik masih mengalun, menyentak. Tapi dengan terpaksa dirinya harus jatuh setelah melayang-layang bersama kerisauan. Mendorong ke bawah. Terbanting ke atas bumi. Rasanya petir juga tak urung terdengar dengan gegap-gempita sedemikian hebat. Bukan berarti tak ada. Ada daya kuat dalam genggaman menyambar salah saru tangannya. 

Barulah terlihat suasana remang bersama hujan cahaya yang terpantul ke atas bola berselubung pecahan lalu mendarat di tubuhnya. Lelaki tinggi menjulang berjalan cepat sambil terus menarik tangannya. Satu tangan kokoh lainnya mengempas lautan manusia yang enggan memberikan jalan. Tangan yang lain, masih mengikat tangan Kiara yang masih ingin melayang. Sayang, ia sudah keburu sadar. Matanya sudah terbuka. Terbelalak. Bahu dihadapannya terus berayun sambil menyeret sepasang heels yang siap membunuh betisnya.

Ingin balas menarik atau menangkis. Tenaganya sudah sebagian melayang bersama di lantai dansa. Tertinggal disana.

Sepasang betis yang menerjang hingga otot dan permukaan tulang. Lelaki tinggi menjulang dengan langkah damai berjalan cepat, bagi Kiara harus berlari. Semakin tinggi heels yang menghiasi tungkainya, berbanding terbalik dengan jarak langkah. Masih berangan sambil berusaha meronta. Tak ada pilihan lain. Dari pada terjatuh dan terseret hingga seluruh badan. Sembari melangkah, berlari tepatnya, meregangkan telapak kaki dan biarkan sepasang heels tergeletak di belakang sana. Layak sepasang jejak agak berantakan.

“Edy! Kamu mau bawa aku kemana?”  Harapan sirna. Tak ada sahutan atau sekedar memutar kepala. Kecepatan melangkah juga tak banyak berubah. Hanya alunan musik yang meredup. Lama-lama tersisa dentuman bass tak berirama, hanya bertempo teratur. Memasuki sebuah lorong berlapis lempengan logam yang berdentang saat dilewati. Lorong terang. Lampu neon berkekuatan ganda. Menyilaukan mata Kiara. Berair seketika.

Sebuah pintu terbuka. Edy berhenti. Silau lampu lorong berakhir. Genggaman juga demikian. Pintu tertutup dengan sendirinya. Ada per di bagian atas. Hentakan musik tenggalam di dalam sana.

Megap-megap. Bius bekerja sempurna. Bahkan tubuhnya tak sadar, melayang dan bergoyang juga butuh tenaga. Dada mengembang dan mengempis. Bahu ikut berguncang naik-turun. Edy di hadapannya, sudah berbalik. Dua pasang mata bertemu.

Nafasnya belum juga teratur. Edy nampak setia menunggu. Tapi bukan itu. Edy menariknya hingga keluar gedung. Baru ia dapati tubuhnya berkeringat hebat. Ini malam dan malam ini dingin. Diskotik juga dingin. Kali ini mengiris. Mini drees dengan bahan seadanya. Tanpa lengan. Potongan kerah lebar. Dua tuas kain menggantung saja di bahu. Menjuntai juga tak sampai lutut. Saat termanis saat angin malam mengiris kulit lengan, kulit wajah, leher, tengkuk hingga kaki terutama betis. Berdenyut dari dalam. Belum lagi telapak kaki disambut dengan aspal lembab. Basah seperti habis hujan.

Megap-megap bernafas dengan mulut. Ketika berhempus bergumpal selaput uap. Ketika berhempus suara mulai bergetar. Sepasang lengan ia lipat di depan dada. Tetap saja ia harus melawan keringat yang beradu dengan belaian angin malam. Gadis ini kedinginan.

Edy masih menanti.

Tak ada hingar-bingar. Tak ada hujan lampu berkilauan. Bintang tak cukup menyilaukan. Tak ada teriakan sang Dj yang disambut meriah dengan tawa atau sekedar mengeringkan kerongkongan. Tak ada mesin pendingin ruangan hebat yang bisa mengeringkan keringat. Tak ada. Hanya Edy dan seonggok tubuh tak bersepatu.

Sebuah usaha dalam rangka pengkhianatan hati pribadinya. Ingin mengandalkan apa? Benar-benar tubuh dengan balutan kain yang menantang malam dan kedinginan. Mau mengelak. Angin malam bukan lagi membelai. Sekarang berhempus. Menampar pori-pori kulit yang meremang. Mendapati dirinya tak ada yang menemani. Ini namanya sendiri.

Menunduk sambil meringkuk. Kemudian hatinya ingin dipersembahkan sebuah pengakuan yang selama ini merasa menang karena berhasil ia abaikan. Itu di lantai dansa. Bukan di atas aspal basah.

***

Hitungan menit gadis ini akan ambruk. Dengan sabar, Edy menunggu beberapa saat lagi. Justru semakin meringkuk dan menunduk. Baiklah, penantiannya berakhir. Satu langkah lebih dekat. Baru ia dengar isak lembut selewat setelah angin melintas.

Satu telunjuk menggapai dagu Kiara yang hampir menyatu dengan dada. Meringkuk terlalu dalam. Sambil tahan nafas, atau dalam hitungan detik rahang ringkih ini akan hancur. Pelan-pelan dan wajahnya terangkat. Menatap lekat sembari terus mendekat.

Sekali ayun, coat hitam yang membalut tubuhnya sudah membungkus seluruh kulit Kiara. Tetap saja tubuh gadis ini bergetar. Edy tahu saat kedua tangannya merengkuh bahu Kiara.

“Berhenti menyakiti dirimu sendiri, Kiara. Kamu bersedih, aku tahu.” Mendapati mata Kiara membulat. Memancarkan harapan. Gadis ini siap menyimak. “Bersedih dan mengutuk diri~~itu namanya tragis.” Sejurus kemudian isak bersama guncangan hebat terjadi lagi. Membenarkan segala ucapan Edy yang ia atur sedemikian halus, namun pada akhirnya tetap menyayat sang pendengar.

Merengkuh semakin dalam. Menenggelamkan tubuh Kiara bersama balutan coat dan tubuhnya yang menjulang. Meredam guncangan yang melanda sekaligus memberi pengakuan tentang keberadaannya. Lihat aku Kiara, aku disini.

selesai

Category: Serpihan Kaca

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 3 in addition to 3?