Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Sendiri

Dia ingin hingar-bingar. Kegalauan yang membawanya datang bersama gelap. Padahal ada hujan cahaya dimana-mana. Lampu berbagai warna memancar kemana-mana. Berpendar padahal, tapi sudut gelap tetap ada. Beberapa bola bergantung dan berputar. Tak hanya satu. Cukup banyak. Tubuh bola terpecah-pecah mengikuti permukaan yang melengkung sempurna. Permukaan berkilau. Potongan kaca berukuran serupa melekat erat. Melempar keras setiap cahaya yang datang. Saat lampu sorot bermekanik menjatuhkan sinar padanya. Berbendar. Memecah. Menghujani setiap kepala yang bergoyang di bawahnya.

Dia ingin hingar-bingar. Langkah galaunya berhasil membawa seonggok tubuh untuk berdendang. Irama musik menyentak dengan tempo cepat. Itu yang ia inginkan. Tanpa menghiraukan kemilau lampu dalam gelap yang mewarnai jingga, ungu, hijau rambutnya. Ia tetap menyentak. Kakinya menghentak-hentak. Keras bersama heels yang kapan saja bisa bunuh betisnya. Ia mendapatkan apa yang diinginkan.

Tak merisaukan laser yang berputar-putar mengikuti arah gelombang musik berambat. Ketika matanya terbuka dan laser itu melintas disana, ia bisa saja buta. Atau memang sengaja ia lakukan hal serupa untuk membunuh tubuhnya. Tidak-tidak… Ia hanya ingin berada di tengah hingar-bingar. Hanya itu yang sanggup menemaninya. Lampu, musik, segerombol orang di lantai dansa dan Dj yang loncat-loncat ditempat. Banyak hal yang menemaninya disana.

Menikmati alunan musik yang menjamah pendengarannya. Biarkan mengalun bersama saluran di dalam telinga. Kemudian gelombang yang menggetarkan seluruh penjuru ruangan, biar membelai tubuhnya. Berayun. Bergoyang. Memejamkan mata agar maksimal saat menikmatinya. Hanya ini yang bisa mengkhianati hatinya.

“Are you ready for the party??!!!” Suara sang Dj dengan mengeras suaranya. Seketika berbagai jenis jeritan memekik. Walau tetap saja tak berkutik dengan dump step yang berdeham untuk menenggelamkan semua. “Shake your body!!” Dan sorak-sorai berkumandang lagi. Ada yang hanya berteriak untuk mengeringkan kerongkongan. Ada yang berseru dalam suara serak seadanya. Ada yang mengiyakan ajakan sang Dj untuk bergoyang lebih hebat. Hentakan juga setingkat lebih hebat dari sebelumnya. Dia, ikut saja tertawa sambil terpejam. Entah dengan siapa. Berdansa dengan siapa. Cukup hingar-bingar musik diskotik yang ia butuhkan.

Sepasang lengan membentang melampaui puncak ubun-ubun di kepalanya. Seperti gelombang energi bunyi dalam setiap hentakan menuntun tangannya untuk berdansa di udara. Sesekali tertawa. Tawa juga tak sampai ia dengar. Irama dump step sudah melumpuhkan setengah saraf pendengarannya. Terbahak dengan gemuruh batin yang harus cepat-cepat ia keluarkan. Sesekali berteriak seakan-akan kegalauan menguap bersama keringat tipis menyelimuti tubuhnya.

Mesin pendingin cukup hebat. Lekas mengeringkan keringat para pemuja kegilaan malam. Sama seperti dirinya. Mulai menenggelamkan asa dalam gemerlap malam. Sejak sebulan lalu ia putuskan. Menghibur sekaligus mengkhianati hatinya. Terus bergoyang. Terus melayang. Tanpa berpikir, terus apa? Sudah sengaja dia lumpuhkan penghuni dalam kepala. Bius gelora diskotik juga melumpuhkan otaknya. Betul-betul hanya butuh hingar-bingar menyelimuti segala aspek kehidupan singkatnya. Ketika pagi datang, ia sebut dirinya terlelap. Mati suri sampai petang berkumandang dan malam datang.

Kepalanya juga ikut berayun. Kanan-kiri. Maju-mundur. Sesekali jemari tangan jenjang menyapu helai rambut dari atas kening hingga tengkuk. Hanya sesaat kalau sudah menutupi sebagian wajahnya. Selebihnya ia pasrahkan tubuh dibawa melayang dengan kegilaan lantai dansa.

***

Banyak manusia. Semuanya berguncang. Lonjak-lonjak di tempat. Lonjakan terhebat ada di sepetak lantai di bawah kedudukan Dj. Ibarat raja dalam pesta semalam. Headphone raksasa melingkar di kepala. Sesekali satu tangan melambai-lambai dengan kekuatan penuh. Instruksi untuk tetaplah berdansa di lantai dansa. Beberapa sudut ruangan juga ada meja kursi untuk duduk santai. Bergoyang ringan sambil menikmati cairan berbagai warna dalam gelas. Gelas yang digenggam seadanya.

Tetap berjalan di barisan aman sepertinya keputusan terbaik. Sambil menyeka setiap sudut yang ia dapati. Gelap. Cahaya remang biru keungunan. Selebihnya sorot lampu mekanik yang berputar-putar. Atau lares hijau-kuning yang membelah ruangan. Ini sangat menyulitkan.

Terus melangkah pelan. Setiap detiknya harus memperhatikan setiap wajah yang ia lewati. Tak segan-segan bertatap mata ketika berpapasan. Bukan, itu bukan Kiara. Edy harus menemukan Kiara, bagaimanapun caranya. Dirinya bertekad, malam ini juga harus bisa membawa sahabatnya pulang.

Ia temukan sebuah tangga. Setengah berlari langkahnya beradu dengan tangga menyala. Tetap saja ornamen ini dihiasi sesuatu berpijar di bagian tepi. Terus beradu langkah walau harus beberapa kali memiringkan tubuh. Menghindar dari manusia yang bergoyang sambil menuruni tangga. Ternyata ini sebuah balkon. Sedikit lega. Minimal ini akan mempermudah pencariannya.

Ada tepi setinggi pinggang sebagai batas balkon. Edy cepat mendekat dan menjatuhkan pandangannya pada orang-orang yang lonjak-lonjak di lantai dansa. Terus berputar-putar. Keyakinan yang menghantarkan keresahan. Kiara, dimana kamu? Hingga pada akhirnya ia mengenali gerai rambut panjang yang berguncang di tengah lantai dansa.

***

Ini lebih parah dari berjalan cepat saat menaikan tangga sambil menghindari manusia mabuk yang masih ingin terus bergoyang. Seandainya ia memiliki kemampuan membelak lautan dengan sekali hentakkan tongkat. Sayangnya ia tak punya tongkat dan tetap harus membelah lautan manusia yang berguncang. Layaknya ombak. Ada arus yang bertekanan. Apa daya, Kiara ada di tengah-tengah sana.

Percaya sepenuhnya dengan sepasang bola mata yang ia punya. Kiara masih berguncang sambil melompat-lompat di hadapannya. Edy harus menahan berbagai tubuh di sekelilingnya. Menabrak secara bergantian. Gemerlap lampu dan laser juga menghujani tubuhnya. Menghela nafas dalam lautan manusia lumpuh bersama hentakan irama malam. Termasuk Kiara. Matanya terpejam. Tertawa menyeringai layaknya sensasi melayang yang hanya bisa ia rasakan sendiri. Tak mengindahkan sang sahabat yang akan mengubah kehidupan singkat jadi mati suri sementara. Menjemput Kiara pulang.

bersambung

Category: Serpihan Kaca

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is the outer covering of a tree?