Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Diam

Jemarinya meratapi tanah luas membentang dari puncak lutut. Sejak beberapa menit lalu menggesek-gesekkan telapak tangan di sekitar lutut. Merasakan permukaan black jeans agak longgar. Tak sekasar canvas tapi ini lebih baik. Minimal ada kehangatan setelah itu. Setelah hangat, kini kelima jemari salah satu tangan bergemeletuk. Sebenarnya tak ada yang ia tunggu.

Langit Bandung masih biru mentah. Sisa gulita semalam. Embun juga baru terbentuk dari sisa kelembaban. Kemarin sore hingga habis petang turun hujan. Washout menyelimuti kelembaban udara malam. Jadi dingin tiada tara. Kelembaban yang belum tersapa hangat matahari. Berkumpul bersama bulir air di permukaan dedaunan. Sebagian membasahi permukaan tribun. Termasuk tribun yang ia duduki saat ini. Kelembaban lain, yang masih stabil, mana koloid dengan kestabilan penuh bersama ion sejenis, melayang-layang dengan wujud kabut.

Rahangnya bergetar. Padahal syal rajut tebal melilit leher hingga menutupi setengah wajahnya. Pagi masih mentah. Dingin semalam belum juga terbakar matahari. Tetap saja ia memilih duduk diantara tribun memanjang dan melengkung ke dalam. Dipayungi pohon besar berdaun tinggi. Sangat tinggi. Rantingnya menyebar luas. Daunnya sempit tapi banyak berkat ranting bercayang ke segala arah. Padahal ia sedang berebut oksigen dengan si pohon. Kelembaban tiada tara sisa semalam belum terbakar matahari. Kabutnya masih melayang-layang.

Sepasang tungkai berlapis selembar kain jeans warna hitam agak kusam. Tubuhnya tertutup jaket abu-abu cukup tebal. Karena cukup, maka ia masih melapisi tubuh dengan beberapa helai kain di dalamnya. Pengetahuan sederhana tentang panas tubuh. Selembar jaket super tebal bukan tak terkalahkan dengan kain-kain kaos dan kemeja yang berlapi lalu diakhiri dengan jaket tak terlalu tebal. Kain berlapis lebih mampu menahan panas tubuh sebelum menguap bersama kelembaban melayang-layang seperti kabut. Tapi giginya bergemeletuk. Ia lupa kenakan kupluk untuk menghangatkan ubun-ubun. Jadi panas tubuh bocor dari sana. Keluar dari lubang ubun-ubun.

Seorang diri. Duduk merapat kaki dan jemari di atas puncak lutut. Dihadapannya ada tanah lapang pekarangan Gor Saparua. Tak ada siapa-siapa. Cuma kabut menari-menari untuk yang terakhir kali. Sebelum terbakar matahari. Sebelum menguap ke angkasa bersama gumpalan awan yang nanti turun menghujani Bandung di kala sore atau lepas petang.

Sesekali menyisir rambut lurus dengan salah satu tangan. Panjangnya melewati bahu sedikit. Sedikit saja. Bahkan helai tebal berubah lepek dan mengempis. Dihinggapi embun ketika kabut melintas. Dingin dan agak basah. Baru ia sadari kalau kupluk dapat menghangatkan ubun-ubun dan membungkus rambut lurus indahnya. Berlaga cantik juga tak ada yang menyaksikan. Kabut sibuk berdansa sebelum dirinya lenyap terbakar matahari.

Setelah merapihkan rambut lepek dengan jemari seadanya. Kelima jemari kembali bergemelutin di puncak lutut. Lama-kelamaan warna langit semakin matang. Ada semburat kuning tipis. Sepasang mata yang terus menyaksikan pertunjukan kedewasaan warna langit. Tak ingin melewatkan barang sedetik. Syal juga reda dari wajahnya. Sekujur wajah ingin menyaksikan fenomena matahari terbit pelan-pelan kemudian membakar kelembaban yang ada. Mengeringkan rambut lepek. Mengalihkan perhatiaan pohon untuk berhenti menghirup oksigen. Saatnya berfotosintesis. Dan segurat senyum terbit bersamaan dengan matahari.

Kali ini ia tak menunggu. Bukan berarti semata-mata karena matahari telah terbit. Bukan.

Ia rela menantang dingin menggumpal udara Bandung sisa hujan kemarin dan washout sepanjang malam. Mendeskripsikan warna langit yang bisa matang berjalannya waktu, bersamaan dengan matahari bergelinding dari ufuk timur. Akan menghangatkan Bandung selama seharian penuh. Perjalanan matahari dari timur ke barat selalu menghabiskan durasi yang sama. Setiap hari, setiap saat. Tepat waktu.

Menantang alam dengan lembaran kain yang diselimuti jaket abu-abu cukup tebal dibagian terluar. Dia tidak gila. Dia bahkan tahu bagaimana cara agar tidak mati kedinginan. Mati bodoh akibat bahasa alam yang tak pernah berubah. Seperti matahari yang bergelinding dengan rute dan durasi yang tak pernah berubah. Kecuali kiamat.

Ingin memberi salam pada sang surya.

Bangkit dari duduk. Melangkah pakem menuruni tribun. Mendarat di atas tanah lapang. Kemudian terus berjalan lurus ke depan. Tanah berakhir. Berganti dengan permukaan semen. Basah, sama seperti material lain, sama seperti rambutnya. Gerakan langkah sengaja ia perlambat. Ia dapat suara mendesis. Sangat tipis. Tak akan tertangkap telinga bila suara langkah bergerak tegas. Jadi ia mengendap-endap.

Kabut sirna. Diusir pagi yang sudah cukup dewasa. Terbakar matahari. Mendesis datang dari permukaan semen. Kelembaban permukaan semen juga sedang terbakar hangat matahari pagi. Sisa embun menguap menyerupai asap. Terbakar matahari. Fenomena alam yang tak pernah habis memukau. Senyumnya juga terus mengembang. Mengagumi semesta.

Dia tidak gila. Tidak bodoh. Tidak autis. Waras lahir batin.

Dia hanya diam. Diam untuk melihat. Diam untuk mendengar. Diam untuk menyaksikan. Diam untuk mengamati. Diam untuk memahami. Diam untuk menyimak. Diam untuk meresapi. Diam untuk merasa.

Diam untuk bersahabat dengan semesta.

Dia bisa bicara. Hanya saja banyak yang tidak percaya. Suaranya merdu. Sayang banyak yang tidak menginginkan karena terlalu merdu. Banyak yang cemburu. Lisannya berisi keharmonisan semesta dengan dirinya. Tapi ia justru dihujat karena tuduhan asal bicara. Disangka bodoh dengan sejuta omong kosong.

Dia diam juga untuk berdoa. Tuhan, Engkau juga ciptakan makhluk pendengar kan? Dimana dia?

Category: Serpihan Kaca
Tag: , ,
  • nurulikhsan says:

    Diam dalam kesendirian

    March 24, 2013 at 6:47 am
  • ayu says:

    nurulikhsan :

    Diam dalam kesendirian

    eta pisan… haii mas nurul. akhirnya dikomen lagi sama mas nurul heheheh senang nyaaaa

    March 24, 2013 at 9:14 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 8 times 9?