Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Sahabat

Dalam benaknya ada banyak keluh kesah. Bibirnya terkatup rapat cukup lama. Beringsut masuk ke dalam perbendaharaan kata. Bisa saja ia pilih salah satu dan berucap seperti biasa. Bahkan ketakutan mendominasi. Membuatnya dungu berdiri sekian jam disana. Hilang kemampuan memilih mana kata yang tepat. Berulang kali Liz gagal berucap segala keluh kesah yang dirasa. Jadi cuma bisa megap-megap. Setiap temukan satu kata yang tepat, tertelan lagi. Karena takut. 

Seorang sahabat setia menantinya sambil kesal. Baru beberapa saat lalu Key datang menghampiri. Kemudian menanti. Sayang, setiap kali mulut Liz terbuka, senantiasa sedang menarik nafas kuat-kuat. Tak ada kata apa pun yang berbunyi.

Semakin ditahan maka ketakutan akan membakar bubuk mesiu dan akan membeludak beberapa saat berikutnya. Jadi Liz tak punya banyak waktu untuk terus membongkar segala perbendaharaan kata dalam otaknya. Tapi belum juga ia temukan istilah yang tepat. Istilah tentang segala perbuatan yang menggores kerinduan sang sahabat. Lama ia abaikan kerinduan Key yang harus menanggung banyak beban sendiri.

Bubuk mesiu di sekitar mata nampak sebagian sudah tersulut api ketakutan. Perih. Kemudian berair. Sangat takut sekali. Jadi ia putuskan untuk mendekat dan mendekap Key yang menatap penuh amarah. Kedua tangan Liz baru akan mengembang. Namun setiap langkah maju maka Key akan mundur dengan jumlah langkah yang sama. Kedua tangan Liz terjatuh lunglai lagi. Jadi sekedar ornamen tubuh yang bergantung di bahu sempit miliknya.

“Aku pernah kesepian. Waktu kamu tiba-tiba pergi, Liz.” Terkesiap dengan kalimat pembuka yang datang dari mulut Key. Sepasang mata berkilat. Siap menghunuskan belati dan mencabik sang sahabat di hadapannya. Sahabat tapi berulangkai pergi demi kepuasan duniawi dari bualan seorang pacar. Hanya karena datang seorang laki-laki dengan segala lagak rupawan dan Liz terpesona.  “Kemudian aku marah. Dengan kamu, bukan dengan dia. Karena kamu yang tendang aku, bukan dia.” Ketakutannya sudah membeludak sebagian. Menehan isak dalam bibir yang terkatup rapat. Liz tak sanggup mengelakkan bulir air yang meleleh dari sepasang bola mata perih. Semakin ditahan, bibirnya bergetar. Isak dalam kerongkongannya ingin mencuat.

Tapi Key tetap menghujam dengan rahang mengeras. Betapa bencinya ia dengan sikap sahabat yang terbuai belaian lelaki bual. Hingga mengabaikan sore hangat yang selalu mereka santap bersama. Kecerobohan diri yang menggelitik hingga jadi gelak tawa bersama. Atau kekuatan untuk bangkit saat jatuh bangun bersama. Lupa kapan terakhir kali mereka bersama.

“Kemudian aku pasrah. Lihat kamu bahagia aku makin ikhlas.” Sampailah pada tahap Key melunak. Berkali-kali berkedip. Membilas kebencian yang mengeringkan bola matanya. Rahang juga sudah lelah mengeras. Benar-benar ia pasrah dengan apa yang sering ia saksikan. Sore hangat yang ia nikmati seorang. Gelak tawa Liz yang bersahutan dengan tawa lelaki yang terus berbual tentang cinta. Key cukup tertawa dalam hati. Hingga harus kuat bangkit saat terjatuh sendiri. Apa boleh buat, ia hanya merindukan Liz yang tak berikan tanda kapan akan kembali.

“Jadi, sekarang aku sudah terbiasa.” Key melembut. Ia tunjukkan lengkung senyum. Sekaligus ingin ia tunjukkan pada Liz bahwa dirinya memang baik-baik saja. Tak apa Liz, tak usah kembali. Toh kebahagiaanmu bukan disini.

Resmi sudah bahu Liz berguncang naik-turun. Beberapa kali kepalanya menggeleng pelan. Antara menyangkal dan mengelak atas keputusan Key untuk berusaha kuat sendiri. “Key, kamu tetap yang terbaik. Selama ini dia bohong tentang…” Kata-katanya tertelan lagi. Bibirnya tak sanggup menahan isak. Tak ada lagi Key dengan penantiannya. Hanya punggung Key yang terus menjauh sambil berayun cepat. Dan hilang saat pintu lift tertutup.

Tinggal dirinya bersama rasa bersalah atas kebutaan selama ini. Isak mengguncang semakin jauh. Liz jatuh roboh di atas lantai. Sesaat kemudian datang seorang satpam yang berjaga di lobby hotel. Menghampiri sambil bertanya dengan empaty. Tapi gadis berair mata ini hanya sanggup berisak sambil mengutuk lift yang menenggelamkan tubuh Key. Key, maaf.

bersambung

Category: Serpihan Kaca
Tag: , ,

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What has leaves, a trunk, and branches, and grows in forests?