Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Sahabat #2

Ini untuk yang kesekian kali dirinya melirik. Adik perempuan satu-satunya hanya duduk tenang, earphone di telinga, dan jari telunjuk yang mengetuk-ketuk chasing handphone. Duduk di sampingnya. Sambil terus memandang satu titik ke luar kaca waiting room. Ada banyak pesawat sedang parkir. Selebihnya sibuk bergerak maju-mundur untuk masuk dan keluar dari tempat parkir. Bahkan Key tak banyak bicara sejak acara lauching buku pertamanya semalam.

Ketika acara selesai, dan ucapan selamat menghujani dirinya. Hanya tersenyum sambil berucap terimakasih, berulang kali. Sebagai kakak terdekat, ia paham. Key hanya berusaha manis. Sikap yang agak pelik.

Seperti saat ini pula. Berupaya terlihat tenang. Bahkan dipandang sekian menit lamanya, belum juga tersadar. Pasti ada yang sedang kamu pikirkan, Key. Sebuah penemuan yang tepat untuk peluangnya bicara. Key hanya gunakan sebelah telinganya untuk mendengar musik dari dalam earphone.

***

“Semalam aku lihat Liz di lobby.” Suara Kezia memecah lamunannya. Ketika beralih, Key mendapati Kezia sedang meratapi secarik kertas. Terlipat jadi setengah ukuran sebenarnya. Memegang sambil membelai dengan salah satu jemari di atas pangkuannya. Bisa jadi kakak perempuan terdekatnya sedang berdialog dengan kertas. Membahas Liz dengan selembar kertas?

Akhirnya Kezia meninggikan wajahnya. Berputar menatap Key. Mendapati sepasang alis adiknya sudah menyatu. Kezia hanya tersenyum sambil memberikan selembar kertas dalam genggamannya. Key tak langsung menyambut. Masih terus mengerutkan dahi, menatap kertas dan wajah Kezia bergantian. Selang hitungan detik baru Key menyambut si kertas. Itu juga dengan kebingungan yang cukup mengusik. Setelah kemunculan Liz di lobby beserta kegagapan yang berujung isak, tepat saat ia membalik tubuhnya dan menghampiri lift.

Lipatan kertas terbuka. Ada tulisan di sana. Ada logo hotel tempatnya mengadakan launching buku sekaligus bermalam di salah satu sisi kertas. Dan deretan kata dengan goresan tinta hitam. Liz?

“Mungkin semalam kamu ingin egois, Key.” Kakaknya kembali berucap. Kali ini menatap penuh harap. Key hanya memalingkan wajah sesaat. Menatap Kezia, kembali dengan selembar kertas lalu berakhir lagi ke luar kaca dengan pesawat berlalu-lalang. Kertas di tangannya kembali tertutup dengan bekas lipatan yang sudah terbentuk.

“Sekarang masih sempat, Key.” Satu tangan Kezia menggenggam tangan Key dengan selembar kertas di dalamnya. Key masih berupaya tenang. Padahal ada yang berdegub tak beraturan dari dalam dadanya. Dan meletup tiba-tiba saat sebuah pesawat melintas. Sedang take off dengan segenap tenaga beserta suara yang mengejutkan.

***

Ketakutan masih sama. Kini beralih jadi sebuah kegelisahan. Belum berhenti menyalahkan diri sendiri. Apa yang ia terima ketika berhadapan dengan Key seperti karma. Patut ia terima. Untuk kali ini tolong dengar aku, Key.

Berharap Key muncul dari kerumunan orang-orang yang sedang antri masuk ke dalam pintu keberangkatan. Minimal ada harapan untuk sebuah penyesalan dan maaf. Jika ini terlewat ya sudah, memang waktunya sudah habis. Habis ia nikmati bersama lelaki pujiaan hati. Luar biasa menawan hati. Menawar setiap detik yang seharusnya jadi milik Key. Milik bersama.

Satu tangan di atas dada. Sedang menenangkan lonjakan isak yang kapan saja bisa meledak. Lagi. Belum habis sejak semalam. Sambil terus berdoa.

Hingga pada akhirnya Liz lelah juga. Menahan isak yang melonjak-lonjak dari balik dada ternyata menguras cukup banyak tenaga. Belum lagi peluh tipis di dahi. Bukan gerah. Ketakutan dan kegelisahan menyulut keringat dingin. Kalau sudah begini tinggal tunggu tubuhnya terjatuh lagi.

Mungkin memang ini karma untukku. Meninggalkan Key dan ditinggalkan. Berpikir tentang sebuah rencana, bagaimana caranya dapat ikhlas dan pasrah? Sama seperti yang Key lakukan setelah ia tendang begitu saja.

Sambil berjalan lunglai. Tak ingin rubuh di tempat atau tubuhnya akan terlindas trolley. Kemudian ada sebuah daya yang menahan lengan hingga menghentikan langkahnya. “Key?” 

“Suatu saat ~ jangan ~ tinggalkan ~ aku ~ lagi.” Alunan kata ia paksa keluar walau harus beradu dengan nafas tersengal-sengal. Selagi masih tersisa tenaga setelah berlari. Liz tetap diam. Dirinya sibuk membaca sepasang mata Key. Tak ada kilat dan tak ada rahang yang mengeras. Kemudian Key melepaskan tangannya.

Berdiri tegak. Meluruskan punggungnya. Bernafas lebih teratur. “Suat saat, jangan tinggalkan aku lagi, Liz” Kali ini lebih tenang. Lebih menyayat. Ada sepasang berlian yang berkilau dari bola mata Key.

Ragu-ragu melangkah. Mendekat. Key bergeming. Tak seperti dirinya semalam.  Melangkah mundur dengan jumlah langkah yang sama ketika Liz mendekat. Key bergeming dengan tatapan lekat. Jadi Liz teruskan dengan membentangkan lengan. Mendekap Key. Bubuk mesiu sudah menyulut sumbunya. Meletup tepat di bahu Key. Ingin bersuara untuk membahasakan penyesalan dan rasa bersalah yang terus menghantuinya. Tapi yang timbul hanya isak, bahu beguncang dan dekap erat. Semakin erat.

Ia rasakan tangan Key membelai punggungnya. Sebagian lagi membalas dekap di bagian bahu. Isaknya membabi-buta.

“Hei Liz. Kamu tahu? Aku sempat lupa kapan terakhir kali kita berpelukan sambil menangis bersama seperti ini.” Key berbisik di salah satu telinganya. Tetap tenang, tetap lembut dan tetap menyayat pendengarannya. “Key, maaf.” Tak adil bila terus-terusan gagap dan biarkan Key yang membahas segala kelalaiannya. Jadi ia putuskan untuk susah payah berucap diantara isak yang menyesakkan dada hingga kerongkongan.

“Tak apa. Minimal kita berpelukan seperti ini lagi.”  Key tertawa renyah seraya melonggarkan pelukannya. Ia dapati Liz meringkuk sambil menghabiskan sisa isak dan mulai tertawa. Sekali lagi, kecerobohan diri yang menggelitik hingga jadi gelak tawa bersama. Tak sampai terbahak, hanya saling bertatap dan menertawakan segalanya.

***

“Kezia.” Cukup lama Key menanti waktu yang tepat untuk mengalihkan perhatian kakaknya. Sejak tadi Kezia hanya asyik menyimak setiap kata dalam novel tebal dalam pangkuannya.

“Terima kasih.” Sejurus kemudian dua pasang mata bertemu. Kezia lebih dulu tersenyum kemudian kembali pada deretan kata-kata dalam lembar novel tebal. Key hanya ingin berterimakasih. Jadi untaian lengkung senyum tulus sudah cukup menjawab.

Key juga kembali pada gumpalan awan berkilau tersiram sinar matahari pagi. Ia melayang bersama awak pesawat. Melintasi awan. Bagi Key, ia melayang dengan ringan. Tetap ada beban, tapi toh sebelah sayapnya sudah kembali. Ibarat tubuh yang disanggah sepasang tungkai untuk berjalan. Key juga demikian. Segala keringanan dalam bernafas. Dalam berkedip untuk membilas sepasang bola mata.

Mungkin aku lupa. Kekuatan persahabatan melebihi keabadian usia

Tulisan Liz dalam lipatan kertas dari Kezia. Masih di genggam. Dibelai pelan agar lipatannya tak bertambah. Memang aku harus selalu hadir untuk mengingatkan. Itu gunanya sahabat.

selesai

Category: Serpihan Kaca
Tag: , ,
  • fuad says:

    biar ga monoton sama cerita cinta sekali kali liat nih
    ndorokakung(dot)com
    ak kdg nyontek analoginya

    March 30, 2013 at 11:32 am
  • ayu says:

    fuad :

    biar ga monoton sama cerita cinta sekali kali liat nih
    ndorokakung(dot)com
    ak kdg nyontek analoginya

    meluncuuuuuuuuuurrrr

    March 30, 2013 at 11:48 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is melted ice?