Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Bodoh

Di luar sana hujan. Ada air yang berderai pecah dari gumpalan embun, awan. Mendinginkan segala yang sempat memanas karena infra merah sinar matahari. Sudah jadi rahasia umum. Ultra violet yang datang, kembali ke selimut bumi yang tebalnya ada tujuh lapis, lalu berkelok lagi hantam segala yanga ada di muka tanah. Sesaat kemudian dihantam lagi dengan hujan pecah bersama petir. Seperti awan melewati proses retak sebelum air di dalamnya tumpah.

Ada celah dari jendela, jadi dingin di luar sana mengendap masuk. Kemudian menyeruak ke penjuru ruangan. Berhambur dalam ruang forum terbuka.

Kenita cukup lama meratapi keberadaannya. Berandai-andai dalam benak tentang apa saja yang dapat ia lakukan di luar sana. Nyatanya ia cukup tertanam dalam kursi dan bangku. Bersama puluhan anggota organisasi kampus.

Ada dua kubu saling berhadapan. Sebaris meja kursi di depan dengan beberapa anggota yang sedang diadili. Kubu berikutnya punya baris lebih banyak. Berjajar hingga belasan baris ke belakang. Kenita duduk di kubu yang lebih banyak personilnya. Baris kedua dari depan. Dekat jendela. Sangat dekat.

Ketika sedang menggenggam kedua telapak tangan di atas meja. Ada hawa  datang membelai kulit sambil merasuk ke dalam pori-pori yang menkerut. Baru ia sadari, alam sedang basah dan redup. Gegap gempita intruksi dari baris belakang dan pembelaan diri dari arah berlawanan. Mengalahkan suara air yang bertabrakan dengan segala materi di luar sana. Cuma angin luar biasa lembab yang berhasil masuk dari celah jendela dan menyadarkannya.

Meratap sambil besyukur. Jika ia berhasil melarikan diri, itu juga percuma. Basah dan kedinginan. Masih lebih baik duduk diam. Minimal tidak basah dan lebih hangat. Merelakan telinga dengan berbagai sumpah serapah dan analogi kuat yang berdalih, pembelaan diri. Benar-benar sedang diadili. Sibuk menentukan siapa yang salah. Sayangnya semua orang ingin tetap benar dengan posisinya.

Kemudian anggota tertua angkat bicara. Menjabarkan segala yang ia simak dari awal. Berbicaralah dengan bebas. Bla… Bla… Bla…

Sebenarnya ia ingin sekali menyambar earphone dari dalam tas dan memanjakan indera pendengaran dengan alunan indah serta kalimat yang indah-indah. Dengan syair yang baik, jadi terbentuklah emosi baik. Atau ia akan mendapat teguran dari anggota sekitar. Antara mencari muka di mata senior atau ungkapan rasa iri, ingin menyumpal telinga juga, sama seperti yang Kenita lakukan.

Jadi, sepasang daun telinga masih kosong. Hanya ada anting dan alunan kosong. Sempat ia lirik sedikit ke belakang. Anggota tertua ini masih berkoar. Bahkan satu tangannya sudah menari-nari di udara. Mungkin sedang menyatukan udara ruangan dengan hawa beku yang menyelidap masuk dari celah jendela. Syair tanpa makna ternyata berasal dari sana.

Tak lama kemudian baris di depan sana bersuara. Terbata-bata dengan artikulasi yang sering tertukar. Belum ada sepuluh detik, instruksi melambung lagi dari orang yang berbeda. Dari anggota yang usianya sedikit lebih muda, tapi tetap saja tua. Hanya selisih setahun.

Kali ini beda kasus. Ia sedang membahasakan sebuah istilah bersejarah. Sedang ia jabarkan dengan untaian kata-kata hebat. Dibalas lagi oleh barisan depan, barisan orang-orang yang teradili. Penjabaran juga dan masih tentang istilah yang sama.

Inilah alasan mengapa Kenita meratapi kehadirannya. Kosong. Berbicaralah tentang omong kosong sampai besok pagi dan lelah sendiri tanpa hasil. Bodoh! Bicara hebat tentang istilah yang bisa dihiasi dengan deskripsi amat nyata. Seolah-olah zat padat yang bisa ditendang, bisa dibanting.

Katak dalam tempurung sedang mencercah. Istilah filosofis, yang sengaja ditanam dalam otak anggota-anggota muda. Harapannya agar bisa tumbuh seperti yang pernah terjadi pada generasi sebelumnya. 

Ya itu dia, katak dalam tempurung. Bicara hebat seperti pernah keliling dunia. Padahal dunia pikirannya sendiri. Tak pernah belajar tentang otak anak kembar identik tetap saja berbeda satu sama lain. Dikipir menanam sama bibit, hasilnya juga akan serupa. Kau pikir ini pabrik kloning?

Mengkonkretkan hal yang filosofis?

Kenita menyunggingkan senyum berat sebelah lalu kembali menikmati bulir air hujan yang membasahi kaca jendela ruang forum. Bahkan hujan dan hawa dingin ini masih jauh lebih konkret. Dasar BODOH!

Category: Serpihan Kaca

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is that thing with fingers at the end of your arm (one word)?