Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Sejarah Tawa Riang #8

Langit cerah. Birunya segar. Dibasuh semburat sinar matahari bersama kilau keemasan. Secerah nuansa hati Naya bersama seluruh siswa-siswi kelas 2 lainnya. Pagi penuh keceriaan untuk menyambut liburan singkat. Beberapa hari kedepan. Menyambut datangnya minggu Ujian Nasional bagi siswa kelas 3. Tak hanya sekedar 3 hari kosong tanpa kegiatan belajar di sekolah. Ada kegiatan berkemah ke daerah puncak, Bogor. Siapa yang tak riang menyambut indahnya pagi ini. Naya dan beberapa kawan sebaya tak habis tenaga untuk terus tersenyum dan tertawa.

Walau harus menanggung beban ransel yang tak ringan. Ada berbagai peralatan untuk tidur di dalam tenda. Mulai dari sleeping bag hingga karpet gulung sebagai alasnya. Beberapa lembar baju berikut lapisan jaket terluar, syal dan kupluk. Bekal untuk mempertahankan hangat tubuhnya agar tak sampai menguap. Tak lupa ada alam mandi juga.

Di pergelangan tangan ada satu tas jinjing cukup gembung dan sama beratnya. Naya kedapatan membawa perbekalan makanan selama 3 hari ke depan untuk satu kelompok. Mulai dari susu bubuk, teh dan mie instan. Satu lagi, tas selempang mungil bergantung menyilang di tubuh Naya. Tak terlalu besar dan tak segembung kedua tas yang lain. Sengaja Naya tak satukan alat-alat lukis kesayangannya ke dalam ransel atau tas jinjing. Terlalu spesial baginya.

Pelan-pelan Naya naik ke dalam bus bersama dua titik beban di tubuhnya. Untung tidak sampai terjungkal. Naya dibantu  teman laki-laki yang jauh lebih kuat. Memang sangat membantu.

“Makasih Michael.”

“Sama-sama, Nay.”

Berjalan beberapa langkah, Naya memilih barisan agak tengah. Beberapa saat yang lalu Michael bantu Naya letakkan ransel dan tas jinjing gembung ke loker di bawah langit-langit bus. Hanya ada tas selempang menyilang di tubuh Naya. Dari bahu kiri, jatuh di panggul kanan. Naya pilih kursi di samping jendela.

Lekas ia menyibakkan gorden hijau tosca yang menutupi jendela raksasa. Langsung disambut sinar matahari yang menyeruak masuk hingga retina terdalam Naya. Cerah yang menyenangkan. Lengkap sudah nuansa riang gembira dalam benak dan pikirannya. Tak ada alasan lain untuk menahan lengkung senyum yang ingin merekah bersama pancaran energi bahagia di parkiran sekolah.

Sesekali jemari mungilnya menelusuri helai cokelat. Baru ia rasakan peluh tipis di dahi dan pelipis.

Ia lirik satu kursi kosong tepat di sampingnya. Masih kosong. Tak ada syarat apa pun dalam penentuan tempat duduk di dalam bus. Bebas. Jadi siapa gerangankah yang akan mengisi tempat ini? Naya pun sedang bertanya dalam hati. Hatinya juga tak tahu. Yasudahlah, yang penting pagi ini cerah.

Tak lama kemudian terasa bus berguncang sedikit. Mesin menyala. Bukan berdiri, tapi Naya sedikit bangkit dari kursinya. Pak sopir baru saja mendaratkan tubuh di atas kursi kemudi. Beberapa tempat duduk nampak sudah bertuan. Sekali lagi melirik satu kursi yang masih kosong, kemudian ia alihkan lagi pada celah AC yang mulai menyemburkan hawa sejuk. Ia putar-putar sesuka hati. Semakin besar celahnya maka hawa sejuk ini akan semakin deras.  Nanti juga pasti ada yang duduk.

Bruuukk!!!

Kursi tempatnya duduk berguncang hebat. Awalnya setengah berdiri, Naya jadi ikut terbanting ke atas kursi. Seperti yang sudah ia perkirakan, akhirnya kursi kosong di sampingnya terisi. Menatap sambil terus berkedip. Terkesiap. Ada siswa bertubuh menulang tiba-tiba duduk, lengkap dengan kupluk jaket yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Setelah membenarkan posisi duduk dan meletakkan ransel di bawah kursi, barulah makhluk berjaket hitam ini membuka kupluknya.

“Wira?!” 

Kedua telapak tangan menutupi mulut Naya, tetap saja seruannya terdengar. Sontak dengan sepasang mata yang masih terbelalak, Naya memutar kepala ke kanan dan ke kiri. Kemudian kembali memelototi Wira.

“Wira, ini bus kelas 2 IPA 1. Kamu gak seharusnya ada di sini.”

Sambil berbisik, berharap tak ada yang mendengar seruannya. Sedangkan Wira masih sibuk melepas jaket hitam. Pelan-pelan melepaskan lengan kanan, kemudian lengan kiri. Dilipat seadanya kemudian dibiarkan mendarat di atas pangkuan tungkai jenjangnya. Memutar kepala sambil menikmati empuknya sandaran kursi. Ia dapati Naya masih melotot sambil menyatukan sepasang alis cokelatnya. Senada dengan rambut lurus berkilau. Dijatuhi sinar matahari dari jendela raksasa di belakangnya.

“Jumlah penumpang gak akan berlebih kok, tenang aja.”

Terdengar santai. Ditambah aksen senyum ringan di akhir kalimat. Bukan berarti Naya bisa tenang. Apa lagi saat ini datang seorang guru lengkap dengan daftar nama siswa. Absen pagi.

Satu persatu nama yang disebut disambut dengan respon si pemilik nama. Suasana bus hening sejenak, jadi hanya suara sang guru dan sahutan siswa yang dipanggil.

Naya layangkan tatapan curiga pada Wira. Laki-laki di sampingnya ini kembali sibuk membuka lipatan jaket hitam di pangkuannya. Detak di dalam dadanya bukan lagi sekedar berdegub. Mungkin jantung sudah naik-turun mirip trampolin. Kalau ketahuan bisa kacau nih. Aaahh! Wira nekat banget sih. Gugup berkepanjangan jadi memancing kesal. Kerut diantara alis Naya mengendur. Nampak Wira menutup sebagian mulutnya dengan jaket. Tangan yang lain sudah setinggi hidung, siap diangkat. Mau ngapain dia?

“Joshua Antoni?”

“Hadir!”

Sigap Wira menjawab ketika sebuah nama disebut. Bukannya namanya.

“Josh?”

Kembali Naya berseru sambil merendahkan suranya. Serendah mungkin. Terdengar berbisik namun cukup kuat. Lengkap sudah ketidak pahaman Naya. Tak lama kemudian namanya dipanggil dan Naya hanya jawab seadanya. Sekedar angkat tangan tanpa bersuara.

Punggung sudah ia sandarkan pada sandaran kursi. Terasa nyaman. Cukup lama punggungnya ikut tegang bersama keresahan yang datang bersama Wira.

“Josh mau PDKT sama teman sekelasku, jadi tadi kita tukeran tempat.”

Buru-buru Naya kembali menjatuhkan pandangannya pada Wira yang sudah menatapnya sambil bersandar. Ada senyum jahil menyungging sambil memainkan alis ke atas dan ke bawah. Imajinasi Naya mendarat pada sosok Josh yang bertubuh tambun sedang berusaha mendekati lawan jenis sambil bicara gagap.

Hitungan detik gelak tawa membahana. Kemudian hening lagi. Menyadari hentakan tawa yang terlalu keras. Sambil menutupi mulut masing-masing, mereka tertawa geli. Hingga beberapa menit bus meluncur meninggalkan parkiran sekolah, mereka masih tetap tertawa. Jutaan kekonyolongan dalam imajinasi mereka tentang Josh dan siswi kelas IPS yang terkenal cukup pesolek dan cerewet.

Datang seperti mimpi. Walau penuh pertanyaan dan kadang menyebalkan. Naya tak dapat menampik lebih jauh lagi. Wira adalah jutaan alasan tanpa sebab untuk setiap tawa dan kecerian. Terutama pagi ini. Berawal dari pagi-pagi sebelumnya. Di gerbang sekolah dan di kelas saat Wira tiba-tiba datang dengan kejutan.

Dan alasan yang menggelitik hingga Naya ingin terus tertawa.

Bersambung

Category: Rahasia
  • Anton Suwaifi says:

    Hmmm..bagus juga lumayan bagus skill nulisnya..seandainya bisa lebih dieksplor lagi lebih detail ekspresi dan suasananya..hehe..#lagusongong..saya numpang baca aja sob ya..^^

    November 10, 2014 at 3:13 am
  • ayu emiliandini says:

    this is my first time traveling. maaf kalau masih banyak yang kurang. pengetahuan tentang alam juga masih terbatas. terima kasih sudah berkunjung :)

    November 10, 2014 at 9:57 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 4 + 9?