Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Gelang Cokelat (Saksi) #9

Tak ada yang tak larut dalam keceriaan. Ada satu kelompok putra yang sibuk memalu beberapa titik di sekitar tenda. Ada paku sekaligus pengait yang ditanam erat ke dalam tanah agar tenda tidak rubuh. Sebagian lagi ada yang sibuk berdiskusi tentang posisi tidur. Sedikit berselisih karena memperbutkan posisi dekat muka tenda. Alasan agar tak gerah. Lalu Wira beralih pada area kelompok putri.

Hiruk pikuk ia lalui. Berjalan mantap. Sepatu yang ia kenakan sudah jelas anti selip. Sepatu khusus tracking dan hikingBisa juga disebut dengan sepatu safety. Yang pasti, dengan sepatu ini Wira masih sanggup berlari dalam kubangan becek. Jadi ia melangkah pasti. Mendekati garis batas area kelompok tenda putra dan putri.

Berhenti sejenak untuk menimbang-nimbang. Langkahi saja atau peraturan terkait area ini sudah berlaku? Sambil merapatkan jaket hitam tebal di tubuhnya, Wira menyeka seluruh penglihatannya. Mencari satu sosok yang ia rindukan. Baru beberapa saat bertemu dalam perjalanan. Dengan alasan yang sama pula ia berusaha membujuk Josh untuk bertukar posisi. Jadi bukan semata-mata karena Josh sedang mendekati seorang siswi di kelas IPS.

“Yeah berhasil!”

Ada yang berseru dari kejauhan. Arah mata memandang jatuh pada siswi berambut panjang di sana. Lompat-lompat kegirangan. Seruan berikutnya disambut dari siswi lain. Sepertinya mereka masih dalam satu kelompok. Rambut cokelat yang menganyun saat tubuh kecilnya berjingkat di atas tanah.

Itu dia. Tak habis pikir masalah menimbang-nimbang. Wira langkahkan kakinya melewati garis tali rafia setinggi lutut. Sambil mendekat sambil menahan gejolak rasa ingin tersenyum. Sosok ini selalu ceria, parahnya lagi keceriaan itu seperti virus yang mudah menular. Tapi jadi seperti caffeine bagi tubuhnya, menagih.

***

“Makasih yah Sheril.”

Naya mengambut hangat sebotol air mineral dari tangan sang ketua kelompok. Menenggak dengan lahap. Udara di lokasi perkemahan memang terlampau sejuk, jadi tak terasa bila tubuh sudah sangat dahaga. Ditambah kegiatan membangun tenda yang menguras banyak tenaga. Lengkap sudah, lebih dari setengah air dalam botol mengalir dalam kerongkongan Naya.

Sesekali menyeka peluh di sekitar dahi hingga membasahi sebagian helai poninya.

“Hai Naya.”

Ada yang memanggil namanya. Terdengar cukup dekat. Belum sempat memutar kepala, Wira sudah muncul di hadapan Naya. Jaket hitam tebal tertutup rapat hingga dada dan kedua tangannya bersembunyi di balik kantung jaket.

“Hai Wira. Kamu ngapain kesini? Sudah selesai bangun tenda?”

“Sudah dong. Cowo itu kerjanya lebih cepat.”

“Huuuwww… Belagu.”

“Hehehehee…”

Sedikit bual, ada sepercik cipratan energi tambahan setelah terkuras bersama tenda yang baru selesai dibangun. Berusaha bersikap sewajar mungkin walau ada yang semburat senang dengan kehadiran Wira yang tiba-tiba.

“Nay, mau ikut aku?”

“Hhhmmm? Kemana?”

Tadi pagi tiba-tiba muncul di bus, sekarang mau bikin ulah apa lagi ni anak? Tak ada jawaban pasti. Wira hanya tersenyum simpul sambil menatap Naya yang masih terkesiap.

***

Wira berjalan jauh di depan sana. Sepatu safety segala medan memang membawa langkah Wira terus meluncur. Naya harus mengimbangi dengan setengah berlari. Tanah hutan lembab dan penuh dengan ranting kering yang bisa saja membuatnya tergelincir. Itu baru ranting kecil. Kalau tak perhatikan langkah, Naya bisa menginjak bunga pinus kering. Sama-sama akan membuat tubuhnya jatuh terpeleset.

Baru berjalan 5 menit. Kalau medan terjal seperti ini, rasa letih usai membangun tenda kembali melanda persendian. Nafas sudah tak beraturan. Naya putuskan untuk berhenti. Sembari mengatur nafas, barulah ia terpesona dengan pemandangan hutan pinus yang menjulang tinggi ke angkasa. Dedaunan berbentuk duri yang saling merangkul di atas sana. Seperti ada atap teduh ketika sinar matahari menghujani tempat ini.

Keindahan pepohonan tanpa cabang ini mencuri perhatiannya. Sesekali berputar-putar agar dapat menjangkau seluruh sudut penglihatannya. Tapi Naya lupa dengan ranting, buah pinus kering dan tanah basah karena lembab yang cukup licin.

“Wooooaaaa!!!!”

Buuugg!!!!

“Aduuhhh…”

Baru beberapa saat lalu ia memikirkan konsidi ini. Terjerembab di atas tanah. Kedua tangannya jadi sedikit kecokelatan karena tanah basah. Celana dan sepatu converse all star merah maroon juga tergores efek tanah. Kecokelatan.

Tak lama kemudian ada langkah berat menderu sambil mendekat.

“Ya ampun Naya. Kamu ngapain duduk di atas tanah?”

Terkekeh sambil menyambut kedua lengan Naya untuk bangkit. Saat Naya sibuk menyesali tangan, celana dan sepatunya berubah kecokelatan, Wira masih terkekeh.

“Kamu jalan kaki ato terbang sih? Cepet banget.”

Jelas-jelas jatuh karena kecerobohannya mendongakkan kepala sambil berjalan. Terlalu terpesona dengan dedaunan yang saling bertautan seperti atap alami jauh di atas kepalanya. Tak ingin mengakui kebodohannya, jadi ia putuskan untuk menyalahkan Wira yang berjalan sambil terbang.

“Ayo. Keburu sore.”

Sebuah tangan menyambut salah satu pergelangan  Naya. Menarik pelan dan menuntunnya berjalan beriringan. Wira masih dengan langkah lebarnya. Naya juga ikut berlari kecil di sisinya. Ada yang menggelitik namun tak mengerti asalnya dari mana. Rasa itu muncul di sekitar pipi yang tiba-tiba menghangat.

Itulah Wira. Serba tiba-tiba. Seperti mimpi. Tiba-tiba hadir dengan kejutan-kejutan kecil ikut serta bersamanya. Walau itu sekedar muncul di kelas sambil merebut pensil dan sketch book, muncul di bus kelasnya sambil menyamar jadi Josh dan menuntun langkah cepat sambil menggenggam tangannya, seperti ini. Tangan Wira hangat.

***

“Tadaaa… Kita sudah sampai.”

Hijau membentang luas. Diselingi beberapa jalan setapak dan pohon pinus yang berdiri lebih jarang. Ada kilau hijau terang hingga kekuningan ketika sinar matahari jatuh tepat di pucuk daun teh muda. Jauh di depan sana ada sebuah gunung kokoh sedang mengawasi setiap kehidupan di hadapannya. Diselimuti kabut di bagian puncaknya, jadi tak bisa menerka bagaimana bentuk puncuk gunung tersebut.

Naya tak perhatikan lagi kehangatan genggaman tangan Wira atau keajaiban kecil yang selalu hadir tiba-tiba. Sejauh matanya memandang. Sambil terperangah menelusuri setiap lekuk kebun teh. Hijau merata seperti karpet yang membentang. Akan terasa sangat nyaman ketika merebahkan tubuh di atasnya. Menatap biru langit bersama matahari menjelang sore. Sambil menghirup sejuknya udara. Dingin menyeruak ketika masuk dalam paru-paru.

“Wira, ini bagus banget.”

Tak ada respon. Kini Naya memutar kepala ke kanan dan kiri. Mencari Wira yang sudah tak lagi berdiri di sampingnya. Tak lama kemudian ia dapati Wira sedang sibuk mengabadikan keindahan kebun teh dari camera SLR di tangan. Beberapa kali membungkuk saat memotret daun teh dari dekat. Kemudian menegakkan punggung saat memotret si gunung kokoh di depan sana.

Naya diam di tempat. Merapatkan jaket hingga menutupi dada. Kemudian kedua tangan terlipat erat. Menahan hawa sejuk yang sudah menerobos masuk hingga kulit.

Berjalan mengikuti Wira. Sebenarnya ia ingin sekali belari-lari di sepanjang jalan setapak tapi Naya lebih takut tersesat dan tak bisa kembali ke area perkemahan.

Sesekali meraba pohon teh yang menenggelamkan lebih dari setengah tubuhnya. Ada patahan di bagian pucuk. Mungkin pucuk daun muda sudah dipetik untuk diolah jadi teh. Sedikit menyesal. Andai dirinya dapat menyaksikan ibu-ibu berkeranjang di bagian punggung sedang memetik daun teh sambil berjajar rapih. Andai dirinya sempat membawa alat lukis dalam tas selempang mini yang sudah ia persiapkan.

“Kemarin sepupuku datang dari Jogja. Dia bawa oleh-oleh gelang manik-manik ini. Tapi aku gak ngerti, kenapa dia ngasih dua gelang?”

Sembari bercerita tentang kedatangan sepupunya, Wira sibuk memakaikan gelang manik-manik cokelat ke tangan Naya. Gadis mungil ini hanya terkesiap melihat Wira tiba-tiba menyambar tangannya. Terus bercerita tanpa memandangnya.

“Dua gelang… Dan kamu punya dua tangan… Satu gelang untuk setiap tangan. Aku pikir sepupumu terlalu genius.”

Ikut larut dalam cerita Wira, termasuk larut dalam kejutan kesekian yang Wira hadirkan untuknya. Setelah menanggapi cerita Wira, ada keheningan sesaat. Namun terpecah saat gelak tawa mereka mulai menggema. Menertawakan keanehan sang sepupu serta kesimpulan singkat Naya.

Baru ia sadari bahwa satu gelang pemberian sang sepupu sudah melingkar manis di pergelangannya. Pergelangan tangan yang sama dengan Wira.

“Makasih yah, Ra. Tapi kenapa kamu kasih gelang ini ke aku?”

Ada hembusan nafas kuat dari hidung Wira. Sedikit kerutan di dahi beberapa saat ketika Naya selesai bertanya. Namun kerutan itu sudah hilang. Berganti senyum simpul sambil menatapnya cukup lekat.

“Karena warna cokelat gelang itu sama seperti warna rambutmu.”

“Benar kan, sepupu kamu itu genius.”

“Hahhahaaaa……”

bersambung

Category: Rahasia

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What has leaves, a trunk, and branches, and grows in forests?