Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Api Unggun #10

Tak ada penerangan selain api unggun. Di tanah lapang. Tepat di tengah-tengah. Beruntung malam cerah. Ada perayaan kecil-kecilan. Sebelum pagi datang bersama kepulangan ke ibu kota.

Seluruh siswa dan guru sedang menyesap kehangatan kobaran api unggun. Tadi sempat menjulang tinggi ke angkasa. Kini masih berkobar tapi ketinggian menyusut. Panasnya mulai habis diserap para manusia yang sedang kedinginan. Ini tentang udara dingin puncak.

Ada pertunjukan musik. Bernyanyi sambil memetik gitar. Sesekali para siswi berdeham dalam kerumunan. Sekedar meledek atau mulai beneran jatuh hati. Sang penyanyi dan pemain gitar hanya sesekali tersenyum. Konsentrasi pada kunci gitar dan yang satu lagi takut salah lirik. Padahal dalam hati juga ikut salah tingkah.

Hingga pada akhirnya hampir seluruh siswa ikut terhipnotis dengan suasana hangat bersahabat. Ikut bersenandung bersama si penyanyi. Melambaikan tangan ke kanan dan kiri, mengikuti ketukan lagu. Tertolonglah dua anak manusia yang sedang tampil di sana.

Wira tak ikut bernyanyi. Sedari tadi hanya bermain dengan camera SLR di tangan. Dalam kondisi gelap yang hanya bermodal cahaya api unggun. Kelincahan tangan akan bertabrakan dengan kecepatan memotret yang jauh lebih lambat. Bagaimana caranya, segala keceriaan ini harus tertangkap dengan cameranya. Sesekali mengutak-atik settingan camera lalu kembali mengintip celah kecil dalamnyaKadang bagus, kadang blur. Kadang memuaskan, kadang kesal karena selalu terusik dengan gerakan tangan yang tak bisa tenang. Terus saja seperti itu.

Satu titik ke titik yang lain. Sibuk sendiri. Hanya sesaat menikmati alunan musik tapi kembali berkutat dengan camera. Kemudian terkejut saat tepuk tangan riuh dari barisan penonton. Ternyata pertunjukan musik akustik sudah berakhir. Wira ikut bertepuk tangan seadanya.

Berganti dengan seorang guru yang berperan sebagai MC pada malam itu. Membacakan kriteria pertujukan berikutnya. Ternyata datang dari kelas IPA gabungan. Pertunjukan drama pendek.

Wira mendongakkan kepala untuk memastikan, mana tahu ia salah dengar.

“Kita sambut pertunjukan dari kelas IPA gabungan. Drama Cinderela Metropolitan.”

Tepuk tangan riuh meledak lagi. Ada sorak-sorai dari para siswa kelas IPA. Bentuk dukungan moral. Kelas lain juga sama hebohnya. Aroma meledek masih tetap ada, terlebih peserta drama kebanyakan siswi.

Wira tergugah. Meninggalkan camera yang menggantung di lehernya. Satu per satu ia perhatikan. Sepasang mata semangat mencari. Gak ada… Drama sudah dimulai. Pertama-tama muncul seorang siswi bertubuh bongsor, tinggi besar. Berperan sebagai ibu tiri jahat bersama dua siswi lain yang bertubuh standard. Berperan sebagai saudara tiri. Dialog demi dialog mengalir bersama gelak tawa penonton. Ternyata dialog yang dibawakan kental dengan aksen sunda. Mengingat lokasi perkemahan berada di tanah Bogor.

Wira masih sibuk mencari. Tak ikut tertawa. Dari peserta drama, Wira menelusuri setiap wajah di deretan penonton atau yang sekedar duduk-duduk di sekitar api unggun sambil menikmati jagung bakar. Dimana dia? 

***

Langit cerah. Rasa syukur tiada tara. Orang lain bisa anggap sama saja dengan langit Jakarta ketika cerah. Tidak untuk sepasang mata bulat cokelat, secokelat rambut dan alisnya. Walau tertutup pepohonan pinus sedikit. Minimal ia masih sanggup mendapati kilau bintang dengan latar gulita di belakang.

Baginya, langit kala itu berbeda. Belum pernah ia temukan gelapnya malam terlampau kelam. Kemudian titik bintang terlihat beragam. Ada yang berkedip, ada yang bersinar tetap, ada yang bergerombol, ada yang terpisah-pisah dengan intensitas sinar lebih terang dari sekitarnya. Ada beberapa gugus menyerupai astrologi zodiak. Jadi begini bentuk asli bintang.

Ada suara ramai melintas selewat. Dari arah api unggun. Lapangan sebelah. Sepertinya pertunjukan drama sudah dimulai. Cukup menerka tentang apa yang sedang terjadi di sana. Tubuhnya tetap di sini. Duduk di muka tenda. Kaki terlipat di dada dan kepala menengadah menatap pertunjukan langit. Ada yang lebih menakjubkan dari drama api unggun.

Apa karena ini bukan Jakarta jadi bintangnya terlihat berbeda?

***

Sudah berkeliling di sekitar api unggun, belum juga ia temukan apa yang di cari. Dalam foto hasil potretannya pun tak juga ia temukan Naya disana. Kemana tuh anak?

Langkah panik sambil terus melangkah. Melangkah kemana saja. Kepalanya berputar-putar, tubuhnya juga ikut berputar. Mana tahu Naya tiba-tiba muncul dari balik bahunya. Berkali-kali berbalik badan, tak juga ia lihat Naya di belakangnya.

Hanya ada 4 area dalam perkemahan ini. Lapangan upacara yang saat ini digunakan sebagai lokasi api unggun, tenda konsumsi dan kesehatan, kamar mandi umum dan area tenda. Mungkin dia lagi di tenda? Ngapain di sana sendirian? Sakit? Oh astaga!

Beradu dengan tanah lembab. Sepatu safetynya berdegum-degum saat membantai tanah. Satu tangan menahan lonjakan kamera yang bergantung di lehernya saat berlari. Satu tangan lagi berayun, mengimbangi kecepatan berlari. Untungnya api unggun dengan area tenda bersebelahan. Tapi area tenda putri letaknya menjurus ke belakang. Lumayan jauh karena harus lewat jalan putar.

Sampai di batas antara area tenda putra dan putri. Baru akan melangkahi tali rafia. Wira menahan kakinya terangkat lebih tinggi. Hari pertama saat akan melewati batas itu, tali rafia setinggi lutut. Sampai di hari ketiga, tali sudah putus. Ini lebih baik. Tak ingin berfilosofi tentang sebab musabab mengapa tali terputus. Wira menerobos masuk dengan berlari kecil. Sampai di satu tenda yang ia hafal betul siapa pemiliknya.

Disana ada si gadis mungil berambut cokelat. Panjangnya menjuntai melebihi bahunya. Berayun ketika sosok itu bangun daru duduknya dan mendekat sambil terbelalak menatapnya.

“Wira?”

***

Perhatiannya terusik ketika ada suara dentuman mendekat. Suaranya bertubi-tubi. Hitungan detik suara berhenti. Berganti dengan sosok tinggi kokoh munjulang dengan jaket hitam rapat menutupi dada. Dan satu camera SLR tergantung di lehernya.

Sangat familiar dengan motif jaket hitam di tubuh itu. Hanya saja saat itu tak ada penerangan selain langit cerah. Bulan juga muncul penuh. Butuh beberapa saat hingga cahaya rembulan berkumpul penuh di matanya dan menangkap bayangan wajah Wira dalam retina. 

“Wira?”

“Ya, Naya. Ini aku.”

Tubuh itu sudah berdiri tenang, tapi dadanya masih mengambang-mengempis sambil beradu nafas ketika menjawab Naya.

“Kamu ngapain kesini?

“Nyariin kamu, Nay. Kamu gak ada di lapangan api unggun.”

“Terus kenapa lari-lari?”

“Biar cepet nyampe sini.”

“Hehehe… Kamu aneh.”

Pertanyaan itu bertubi-tubi. Tak ingin keceplosan hingga terucap maksud hati. Coba jawab sekadarnya. Sempat salah tingkah hingga Wira hanya bisa menggaruk kepala saat Naya terkekeh. Namun tawa renyah itu jadi obat mujarab untuk tubuhnya yang mulai menagih caffeine. Kehangatan tawa Naya salah satu formulanya.

“Oh iya Wira, lihat itu.”

Satu telunjuk lentik mengarah ke langit. Wira mengikuti.

“Aku baru tahu kalau bintang itu punya berbagai ukuran. Ada yang besar, ada yang kecil. Ada yang kelap-kelip, ada yang sinar tetap seperti lampu. Ada juga yang bergerombol. Nah nah yang itu tuuhhh… Bentuknya seperti layangan.”

Segala penjalasan Naya mengalir dengan semangat penuh. Naya bicara sambil mengadahkan kepala hingga tepat menatap langit. Wira sesekali melirik. Ada sepasang bola mata cokelat yang ikut bersinar. Sejak saat itu Wira sadar, ada sepasang bintang cokelat yang bersinar hangat bersama Naya yang selalu ceria.

“Entah kenapa di Jakarta gak pernah ada langit seramai ini?”

“Harus beradu terang dengan lampu kota. Jadi langitnya terkesan redup.”

Dari atas langit, pandangan Naya beredar ke sekelilingnya. Tak ada lampu. Tak ada penerangan. Gelap. Lalu menatap Wira dengan senyum merekah.

“Wira, kamu genius!”

“Karena sepupuku genius.

Kembali menganggak topik tentang oleh-oleh gelang dari sang sepupu. Naya kembali tertawa. Kali ini tertawa karena geli. Sebuah kelalaian karena dirinya tak pernah memikirkan perbedaan mendasar antara ibu kota dengan hutan perkemahan. Dari yang benderang hingga nyaris gulita. Perbedaan mendasar mengapa langit terlihat lebih ramai ketika ditatap dari area perkemahan.

Sedangkan Wira terus menyesap kehangatan dari keceriaan Naya yang tak juga redum dikala malam jatuh dari langit. Harus ia serap sebanyak mungkin. Sebelum tubuhnya menagih lagi.

“Nay.”

“Ya?”

“Besok kamu harus bangun lebih pagi.”

“Itu sudah jelas. Besok kan kita semua pulang ke Jakarta.”

“Kamu harus bangun sebelum matahari terbit. Aku tunggu di belakang tenda konsumsi. Jangan lupa bawa senter ya.”

“Wira?”

Sosok tinggi menjulang hanya tersenyum simpul. Tak ada jawaban. Hanya menatapnya sebentar lalu berpaling pada pertunjukan langit yang jauh lebih ramai dari langit Jakarta. Kejutan apa lagi Wira?

bersambung

Category: Rahasia
  • Budi Santoso says:

    waw lagi dah. sebenarnya ada apa di kepala Ayu saat menulis… “Diamku terpaku seperti tertancap kuat pada balok yang menjepitku”.

    Sastra jos gandos.

    April 15, 2013 at 9:25 pm
  • ayu says:

    Budi Santoso :

    waw lagi dah. sebenarnya ada apa di kepala Ayu saat menulis… “Diamku terpaku seperti tertancap kuat pada balok yang menjepitku”.
    Sastra jos gandos.

    ahhahaa… entah sastra dari mananya tapi makasih loh jos gandosnya hahhaa…
    di kepalaku? kayaknya ada mas bud ni ahhahaha…

    April 18, 2013 at 4:42 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 6 plus 9?