Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Kebersamaan VS Kesetaraan

Apa bedanya? Kebersamaan atau kesetaraan?

Kondisiku saat ini sedang membanting paradigma kolot yang gak sengaja tumbuh dalam otak ketika aku masuk dunia perkuliahan dan organisasi kampus.

Kebersamaan lama-lama terserap juga. Saking seringnya disebut-sebut sampai dinding pun sibuk buat suaranya mantul-mantul seantoro gedung.

Terus terang aku belum pernah dengar ada yang jelaskan gamblang apa arti istilah demikian hebat ini. Aku lebih sering dengar teriakan, “Dimana kebersamaannya?” ketika ada teman yang gak dapat hadir dalam rapat atau pulang lebih dulu karena ada keperluan keluarga. Sampai masalah berkabung pun tetap dipertanyakan.

Terkesan gak mau susah sendiri. Gak mau cape sendiri. Gak mau rugi sendiri. Bawa-bawa kebersamaan padahal memang mental cupu yang gak sanggup berjuang sendiri. “Kalau saya susah kamu gak boleh senang-senang. Harus sama-sama susah seperti saya. Gak solider itu namanya.”

Aku jadi ingin teriak, “Dimana letak toleransi keberagamannya?”

Beragam??! Tuh kan kaget.

Selama ini cuma ada kebersamaan. Bersama-sama dan harus sama. Memang diameter bola mata bisa jadi hampir sama. Mau paksa sudut pandang di derajat yang sama? Memang volume otak bisa jadi sama. Mau paksa pola pikir di pattern yang sama? Memang physically punya dua tangan, dua kaki, satu badan, dua bolong hidung dan lima jari di tiap tangan-kaki (itu juga kalau gak cacat). Mau paksa berikan perilaku yang sama? Berlaga melebihi Tuhan yah, seolah-olah paling paham apa yang jadi kebutuhan tiap individu.

Lupa kalau anak kembar identik pun punya kebutuhan yang berbeda. Mau diperlakukan 100% sama?

Kalau aku terapkan sistem kebersamaan ini ke seluruh manusia di muka bumi, yang cacat fisik dan mental bisa mati duluan karena seleksi alam. Judulnya juga berkebutuhan khusus.

Uuummm… Begini maksudku.

Di sebuah ujian tertulis, ada satu siswa tuna netra di antara siswa normal lainnya. Mau diperlakukan sama? Yang tuna netra disuruh baca kertas soal yang biasa dipakai siswa bermata normal? Matamu buta apa!!!

Jadi apa solusinya?

Kesetaraan. Perlakuan yang setara.

Berikan kertas soal dengan huruf braille agar sang tuna netra juga bisa kerjakan soal yang sama. Atau pengawas ujian membacakan soal dan siswa tersebut menulis dengan huruf braille di lembar jawabannya.

Perlakuan? Jelas berbeda. Fasilitas? Juga berbeda. Kenapa? Karena kebutuhannya berbeda.

Lalu ujian tersebut akan berjalan lancar? Aku rasa iya. Siswa normal dan siswa berkebutuhan khusus ini tetap bisa kerjakan ujian. Sama? NO! Ini yang aku maksud dengan setara.

Lagi pula kebersamaan yang diagung-agungkan dinding gedung kampus juga akan jadi harimau dalam mulut.

“Kita semua sama-sama kuliah. Sama-sama mahasiswa. Sama-sama  belajar. Sama-sama cape. Bla… Bla… Bla…”

Suatu ketika perbedaan muncul selayaknya keberagaman dalam berperikemanusiaan. Hancur sudah dinding gedung kampus beserta sumber bunyi “kebersamaan”. Mau samakan diri dengan tembok? Hahahaa…

Atau kebersamaan itu tetap akan berkumandang lalu mengkerut ketika mencelat ke dunia di luar tempurung yang luar biasa beragam.

Jadi? Kebersamaan atau kesetaraan?

Mana yang lebih manusiawi?

Category: Aku
  • heri wangdu says:

    ternyata sudut pandang kita hampir sama, hapuskan paradigma kolot dan sistem konservatif…

    May 6, 2013 at 10:06 am
  • ayu emiliandini says:

    heri wangdu :

    ternyata sudut pandang kita hampir sama, hapuskan paradigma kolot dan sistem konservatif…

    yihaaa… Berarti aku bukan satu-satunya makhluk planet dalam peradaban kolot ini ahhaha merdeka!!!

    May 6, 2013 at 10:21 am
  • dinikopi says:

    Setuju banget! Nggak semua kebersamaan itu baik. :D

    May 26, 2013 at 8:37 pm
  • ayu emiliandini says:

    dinikopi :

    Setuju banget! Nggak semua kebersamaan itu baik.

    yeah merdeka!!!

    May 27, 2013 at 4:36 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 2 times 9?