Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pagiku #11

Pidiiip… Pidiipp… Pidiiip… Pidiiip…

Melengking dengan ketukan teratur. Lengkingannya sampai ke telinga Naya. Posisi tidur menyamping dengan tangan kiri jadi alas kepala. Belum apa-apa lengkingan itu akan lebih dulu menjentik telinganya. Dirinya tersentak. Alam bawah sadar beserta mimpi seketika jatuh bersama gravitasi. Masuk lagi ke dalam kepala. Sepasang pelupuk yang tadi tertutup harus beradu dengan lengketnya kelopak mata. Tubuhnya masih ingin tidur.

Pip!

Suara melengking berakhir.

Tubuhnya bergulir. Ada langit-langit tenda yang sedang ia tatap sambil mengusap-usap wajah. Beberapa kali menatap, penglihatannya masih buram dan godaan untuk terpejam masih membelai pelupuk. Lalu menguap. Tangan kiri berusaha menutup mulutnya yang menganga sambil menghisap oksigen sebanyak-banyaknya. Tak sengaja deret angkat digital yang menyala dikala gelap membuatnya tersentak. Ini untuk yang kedua kali. Oh ya ampun! Wira!

Kedip mata ia percepat. Agar gelenjar air mata membilas kantuk yang masih melanda. Bergegas melilit syal cukup tebal di sekitar leher. Mengenakan mantel dan kupluk. Pagi itu masih terlalu pagi, jadi dinginnya malam jelas masih berkeliaran. Bergegas dalam bisu. Sambil memperhatikan teman sekelompok yang masih pulas. Ada kesibukan dengan bunga pikiran masing-masing.

Setelah menemukan senter yang telah ia persiapkan, pelan-pelan resleting ia geser. Sebisa mungkin, bunyi gesek yang terjadi harus selembut mungkin. Itu juga Naya lakukan sambil menahan nafas.

“Nay?”

Dan tersentak untuk yang ketiga kali. Ternyata Sheryl, sang ketua kelompok, terbangun. Entah karena suara resleting tenda atau memang sudah waktunya ia terbangun.

“Hei Sher, aku mau ke toilet.”

“Oh… Mau aku temenin?”

Kedua mata Sheryl masih rapat, sesekali menguap sambil menatan Naya yang sudah siap perang melawan dinginnya pagi buta.

“Aku bawa senter kok, Sher.”

“Baiklah, hati-hati ya Nay.”

Sejurus kemudian Sheryl kembali merapatkan sleeping bag dan terlelap lagi. Naya kembali pada resleting. Tetap berusaha pelan. Ketika tubuhnya sudah berada di luar tenda, ia juga harus menutup kembali resleting tenda. Kali ini sambil menghela nafas setelah beberapa saat sempat ia tahan.

Kini ia bersiap siaga melihat sekeliling. Senter sudah menyala sambil menerangi tanah yang ia pijak. Tanah lembabnya semakin menjadi-jadi. Kalau dipijak terlalu keras bisa-bisa muncul air, tanah seperti diperas. Selangkah demi selangkah, membawanya mendekati tenda konsumsi.

Kejadian di dalam tenda masih berputar-putar dalam kepalanya. Tentang dirinya yang buru-buru bangkit dari tidur, meraba-raba kesana kemari untuk menemukan syal, kupluk dan mantel, kemudian berbohong pada Sheryl. Kenapa tadi aku bohong ya? Sembari melangkah, bagian dari diri terdalam menjawab. Senyum simpul merambat dalam gelap. Biarkan aku saja yang tahu

Sedikit memutar hingga ke belakang tenda konsumsi. Semakin gelap gulita. Senyumnya buyar. Ternyata di belakang tenda konsumsi tak ada apa-apa , hanya ada hutan dan hutan. Jadi ia putuskan untuk berhenti. Penglihatannya beredar untuk menemukan Wira dalam gelap. Sambil gelisah. Parah ni Wira, niat banget ngerjain aku pagi-pagi begini.

Baru akan berputar, pikirnya lebih baik kembali tidur di dalam tenda, ia dapati ada yang berkedip di depan sana. Tak salah lagi. Ada cahaya senter yang senyaja dikedip-kedipkan. Cahaya berkedip itu juga bergerak mendekat. Semakin dekat. Ketika Naya menjatuhkan cahaya senter ke tubuh yang mendekat.

“Aduh… Nay, silau.”

Seruan agak parau sambil berbisik, Naya kenal betul suaranya. Cahaya senter ia arahkan menelusuri jaket dan safety shoes yang berdegum pelan saat mendekat.

“Wira? Kamu itu ngagetin banget sih!”

“Sshhhttt… Kalo mau marah tahan aja dulu. Sekarang kamu ikut aku.”

Ada yang menyambar tangannya. Langkah cepat menarik tubuhnya berlari kecil dalam gelap. Ada degub dari balik dada. Sayang paginya masih terlalu remang. Hitamnya langit sedikit luntur. Abu-abu gelap. Tetap saja tak cukup cahaya untuk menyinari sosok menjulang yang menggenggam tangannya. Tangan Wira benar-benar~~hangat.

Tak ada yang lihat. Tak ada yang tahu. Senyum simpul merekah lagi. Toh masih terlalu gelap untuk terlihat oleh siapa pun. Hanya dirinya yang tahu.

“Kita mau kemana, Ra?”

“Ntar juga tahu.”

***

Sisa cahaya bulan terlihat lebih terang. Langit biru gelap keunguan. Tapi bintang masih ada. Tetap berkelap-kelap. Ada bentang lahan di hadapan mereka. Ternyata gelap yang mereka arungi tadi adalah hutan pinus.

“Ini? Kebun teh yang waktu itu?”

“Yes”

Cahaya senter dari tangan Naya, berlari kesana-kemari. Meraba bentang kebun teh yang ikut kelabu di bawah langit subuh. Ketika cahaya senter jatuh di lembar daunnya, baru terlihat warna daun masih tetap hijau. Bukan karena warna langit luntur hingga ke serat daun.

“Ngapain kamu bawa aku ke sini? Kan waktu itu udah. Eh, kamu lagi ngerjain aku ya, Ra? Ayo ngaku!”

Kekesalannya sudah tak terbendung. Beberapa kali ia tepis saja dengan berpikir positif, tapi kali ini sudah cukup menggumpal.

Bukannya menjawab, Wira kembali berjalan. Genggaman tangannya menarik langkah Naya untuk mengikutinya. Menelusuri kebun teh. Jalan sedikit menanjak. Kemudian berhenti di sebuah batu cukup besar. Wira lepaskan genggamannya. Berjalan mendekati batu dan duduk di atasnya. Naya masih berdiri di tempatnya.

“Ngapain lagi kita duduk di atas batu?”

“Nunggu.”

Wira nampak acuh. Sibuk merapatkan jaket hitam berlapis dan menutupi kepalanya dengan kupluk yang menyatu dengan jaket. Jawab pertanyaan Naya dengan niat ala kadarnya.

“Tuh kan bener kamu ngerjain aku.”

“Niat banget ngerjain kamu. Ge-er.

“Mending aku tidur di tenda.”

“Yaudah balik aja ke tenda.”

Naya memutar sebagian tubuhnya. Melihat pemandangan gelap hutan pinus yang rindang. Lalu kembali menatap Wira yang sudah duduk bersila. Santai.

“Sendiri? Hiiisshhh… Kamu itu nyebelin!!!”

Berlari mendekat dan mencubit keras lengan Wira. Antar kesal dan gemas.

“Aduduuhh.. Aaawww.. Hei. Jari-jari kamu itu kecil tapi kalo nyubit sakit banget ya.”

Sampai Wira mengaduh baru Naya berhenti. Wajahnya masih gusar. Tak perduli lagi Wira melihatnya dengan jelas atau tidak. Langit subuh mulai terbentuk birunya. Biru mentah.

***

Lengannya berdenyut. Barusan seperti tersengat dua ekor lebah sekaligus. Gadis mungil di samping juga mulai terlihat manyun. Remang-remang dari langit yang beranjak terang.

Satu tangannya menarik tubuh kecil itu untuk duduk bersama. Ada tenaga ingin berontak, tapi cepat ia taklukkan. Tangannya jauh lebih kuat.

“Kan tadi aku udah bilang. Kalau mau marah tahan dulu. Sekarang duduk manis di sini. Kita tunggu matahari terbit.”

Alunan suara yang ia buat sedemikian ramah. Sayangnya Naya terlalu sibuk membenarkan lilitan syal di leher dengan berbagai simpul. Kepalanya menunduk menatap syal. Tak mengindahkan kalimat Wira yang ingin menghibur. Sepasang kaki Naya juga sibuk berayun. Ternyata tinggi batu membuat kakinya mengambang sekian senti dari tanah. Menggantung.

Tertolong dengan kupluk di kepala. Jadi tak banyak helai cokelat yang jatuh hingga menutupi wajah Naya saat menunduk. Terlihat bibir Naya manyun dengan mimik cemberut. Baru Wira pahami, ini salah satu alibi untuk menyembunyikan kekesalan yang sudah ia perbuat. Tetap saja wujud kokoh ini tersenyum dalam diam. Ada satu lagi fakta yang ia temukan tentang tubuhnya. Tanpa senyum, Naya tetap jadi caffeine untuk tubuh yang mulai addicted. Asal ada Naya di sisinya.

bersambung

Category: Rahasia

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What color is a typical spring leaf?