Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pagi Kita #12

“Nay… Bangun Nay…”

Ada yang memanggil. Ia dengar. Setengah tubuhnya tergunjang juga ia mulai sadar.

“Cepet bangun, Nay.”

Suaranya berseru lagi. Kali ini guncangan tubuh semakin keras. Karena itu pula Naya pelan-pelan buka matanya. Baru terbuka sedikit, semburat cahaya silau berhambur. Ngilu sebentar.

Lama-lama tak tahan juga. Satu tangan menghadang cahaya silau yang menghantam kornea. Satu tangan lagi meraba sekitar. Batu? Oh ya ampun aku ketiduran? Baru beberapa kali berkedip, akhirnya siap menatap apa yang sebenarnya terjadi.

“Nay.”

Ini kali ketiga Wira berseru memanggil-manggil namanya. Saat kepala berputar ke sumber suara, ternyata ia masih duduk di sampingnya. Pertama-tama ia harus memicingkan mata untuk menyesuaikan terang-benderang yang menghujani wajah Wira. Terkekeh ringan. Tatapan mengejek untuk dirinya. Mungkin Naya terlihat berantakan setelah tertidur di samping sosok menjulang ini.

“Selamat pagi.”

Naya masih sibuk menyusun ingatan. Ketika ia terbangun di tenda, mengendap-endap ke belakang tenda konsumsi, lalu dalam gelap beradu dengan dingin dan kecepatan langkah Wira hingga sampai pada batu tempatnya terduduk saat ini. Aah iya ini masih di kebun teh.

“Nay, coba lihat itu.”

Menelusuri lengan hingga telunjuk Wira. Dan sepasang mata cokelat berhenti di titik itu.

Pelan-pelan pupil mata mulai terbiasa dengan intensitas cahaya matahari pagi yang mulai muncul malu-malu. Tak hanya itu. Walah baru setengah lingkaran, semburat cahaya ada sudah curi start. Warnanya kuning keemasan. Menghujani setiap helai daun teh basah karena embun. Embun dari kelembaban malam yang mulai terbakar hangat sang cahaya pagi.

Ada daya luar biasa. Seluruh tubuhnya terpukau. Bangkit dari duduk. Mendekati bentang hijau keemasan di permukaannya. Biru langit masih harus beradu dengan kabut pagi. Ciri khas pegunungan. Sepasang tungkai melangkah, setengah berlari. Jemarinya membelai helai daun teh. Daunnya lembab dan hijau. Belum berubah kuning keemasan.

Jauh di kaki gunung sana ada wilayah permukiman. Warnya merah bata dari berbagai atap rumah penduduk. Diselimuti kabut putih abu-abu tepat di atasnya. Aku berdiri di atas kabuh? Wow…

Kini sepasang lengan membentang lebar. Memejamkan mata. Menghirup dalam-dalam. Rasakan dingin bercampur lembab yang merasuk dalam sistem pernafasan. Ada rona sejuk setelah memasuki paru-paru. Ini bukan mimpi. Ritual bernafas pagi ia lakukan berulang-ulang. Menghirup pelan, rasakan saat udara melintas dalam hidung – tenggorokan – paru-paru, meremang sejuk seantero dada, lalu dihembuskan lagi. Tak ingin cepat berakhir. Udara Jakarta gak seperti ini.

Belum puas memanjakan paru-paru, namun masih banyak hal yang harus ia lakukan untuk menikmati kejutan pagi. Oiya! Wira. Bentang tangan mereda. Sepasang mata kembali terbuka. Tepat di hadapannya, Wira bersama camera SLR sedang membidik ke arahnya. Hitungan detik wajah Wira muncul dari balik camera. Menatap jahil sambil menjulurkan lidah kearahnya. Dasar jahil!

Resmi sudah sepasang muda-mudi menikmati pagi sambil berkejaran di tengah-tengah kebun teh. Naya dengan segenap tenaga yang ia miliki, mengejar Wira. Wira sempat menghidar, hingga pada akhirnya ia pasrah namun satu tangan menganggat camera sejajar ubun-ubunnya. Naya terlalu kecil, melompat-lompat sambil merebut camera tak pernah berhasil.

Wira lupa dengan tali camera yang menjulur ke bawah. Sigap Naya tarik tali camera. Sedikit berayun dan kini camera sudah berada di tangan Naya.

“Hahahaa… Gotcha!!”

Saking girangnya, Naya melompat-lompat senang.

Ada rasa penasaran tentang bagaimana cara menggunakan alat ini. Dari celah kecil, Naya bidik Wira yang masih berdiri pasrah di depannya. Telunjuk kanan bersiap-siap di tombol shoot, sedangkan tangan yang lain sibuk memelintir teropong untuk mendapatkan fokus. Dari dalam celah, walau masih buram, ia dapati Wira bergerak mendekat.

Dan begitu camera mulai fokus. Ternyata sudah terpampang sepasang mata melotot sambil menjulurkan seluruh bagian lidah yang Wira punya.

“Aaaahahaha ada dakocan.”

“Sialan! Ganteng niihh… Malah dibilang dakocan”

Sambil terus tertawa bersama mereka sibuk mengabadikan momen pagi bertabur cahaya matahari yang sudah melayang cukup tinggi. Tak malu-malu lagi. Ada kalanya Wira membidik wajahnya sendiri, bersama Naya yang merangkulnya dari belakang. Berkali-kali mereka lakukan ternyata hasilnya tidak ada yang memuaskan. Entah wajah Naya tertutup kepala Wira atau justru wajah Wira yang tertutup rambut panjang Naya.

Jadi mereka gunakan timer shootCamera diletakkan di atas batu tempat mereka duduk menunggu matahari terbit. Hasilnya? Jauh lebih baik. Mereka lakukan lagi. Berkali-kali dengan pose berganti-ganti.

“Ya ampun Wira, kita harus balik lagi ke perkemahan.”

Terlalu asyik menikmati pagi cerah bersama, lupa kalau mereka sedang dalam misi kabur dari perkemahan.

“Cepetan balik, ntar kita disangka anak hilang.”

Buru-buru Wira masukkan camera ke dalam tas selempang khusus camera SLR. Naya pun baru menyadari hal itu. Subuh tadi masih terlalu gelap untuk mendapati benda itu juga ikut bergelantungan di tubuh Wira.

Seperti sudah terbiasa. Sambil berlari, Wira menyambut tangan Naya. Menggenggam sambil berlari menuju hutan pinus. Kali ini pagi sudah datang. Terang bersama cahaya keemasan menerobos dari sela-sela dahan. Begitu juga wajah Wira. Sibuk memandang jauh ke depan.

Ada sepasang alis yang tak terlalu tebal tapi tegas. Memayungi sepasang mata sebesar kacang almond. Senyum simpulnya berhambur lagi. Berhubung sudah pagi, ia sembunyikan dalam lari sambil sedikit menunduk. Tangan hangat dan alis tegas.

***

“Nay, aku duduk disini ya.”

“Oh, hmmm okey.” 

Pikirnya Wira akan kembali menyelinap ke dalam bus kelas IPA. Nyatanya ia harus berbagi kursi dengan Sheryl. Ketika seorang guru datang untuk mengabsen, naya juga tak temukan Wira ketika nama Josh disebut. Benar-benar Josh berada di dalam bus. Jadi Wira kembali ke bus kelas IPS ya. Ada sedikit sesal.

Bus berselancar di jalan. Sudah setengah jam yang lalu ia hanya diam. Seisi bus lebih sunyi dari sebelumnya. Rata-rata siswa lain kembali tertidur atau sekedar menikmati musik dari earphone. Termasuk Sheryl, ia kembali tertidur sambil memeluk lipatan jaket merahnya.

Pemandangan di luar jendela jadi tumpuan terakhir. Bersandar senyaman mungkin. Satu tangan memangku kepala. Terlihat untaian manik-manik cokelat melingkar di pergelangan tangan. Gelang dari sepupu Wira yang genius.

Seperti sekaleng minuman soft drink yang dikocok sebelum segel dibuka. Begitu terbuka, ppuuuhhhffftttt….. Buih meluncur tinggi lalu muncrat kemana-mana. Isi kepala Naya dipenuhi buih-buih kejutan dari Wira. Mulai dari kemunculan tiba-tiba saat keberangkatan ke puncak, menyamar jadi Josh saat guru sedang mengabsen, menelusuri hutan pinus dengan tangan hangat, kebun teh beserta gelang cokelat secokelat rambutnya, kehadiran Wira ketika malam api unggun dengan setengah berlari, perpaduan udara sejuk dan cahaya keemasan matahari pagi, termasuk ketidak hadiran Wira di dalam bis kelas IPA juga bagian dari kejutan yang tak disangka-sangka.

Ingatannya sedikit mundur ke belakang ketika mereka sama-sama terjebak di pintu gerbang karena terlambat, kehadiran Wira di tanah lapangan ketika dihukum karena terlambat, dan kemunculan tiba-tiba sembari merebut sketch book beserta alat tulis yang ia pegang.

Kalau aku tidur sekarang, aku gak tau nanti bakal mimpi apa. Ya, itu kamu. Datang dan pergi seperti mimpi. Penuh kejutan.

***

Keramaian terus terjalin tapi dirinya tak banyak perduli. Jempolnya sibuk menekan tombol zoom in, zoom out, next dan previous secara bergantian. Sepasang mata juga tak beralih dari layar mungil dibalik camera SLR nya. Ada Naya disana. Dengan berbagai ekspresi.

Bentuk siluet saat ia mengabadikan tubuh Naya. Berhadapan dengan cahaya datang, ia potret dari belakang. Ada rambut cokelat sedikit berantakan menjuntai. Anak rambut yang ikut berkilau bersama cahaya matahari keemasan. Ada lagi wajah Naya yang tersenyum sambil memejamkan mata. Membentangkan lengan. Mungkin ia sedang memeluk udara pagi sambil mengirupnya dalam-dalam.

Gambar hasil jepretannya terus bergulir hingga berhenti pada foto terbaik. Baginya itu foto terbaik. Foto ia ambil dengan kedua lengannya sendiri. Ada wajahnya tersenyum lebar dan ada Naya, sambil memeluk bahunya dari belakang. Senyum Naya sama lebarnya. Masih terngiang dalam ruang ingatan, bagaimana Naya terus tertawa bahkan ketika tersenyum.

Tubuhnya sudah dicekoki banyak obat pereda ketagihan yang belakangan ini sering kambuh. Itu sebabnya ia putuskan untuk kembali ke dalam bus tempat seharusnya ia berada. Biarkan setiap sel dalam tubuhnya menyerap khasiat dari setiap formula tawa dan keceriaan Naya.

Jika tubuhnya mulai melemah, ia akan pergi untuk mencari obatnya lagi.

bersambung

Category: Rahasia
  • Sahabat Blogger says:

    salam kenal, silahkan mampir ke blog saya ya mbak :-) makasih
    *jangan lupa tinggalkan komentarnya

    April 29, 2013 at 2:35 am
  • ayu says:

    Sahabat Blogger :

    salam kenal, silahkan mampir ke blog saya ya mbak makasih
    *jangan lupa tinggalkan komentarnya

    jadi komen di posting saya biar saya visit balik? baiklah salam kenal

    April 29, 2013 at 5:37 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What color is the sky on a sunny day?