Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Rekam #13

Bilik mungil. Tak banyak ornamen. Sekedar tempat tidur single, satu set meja belajar dan lemari pakaian. Selebihnya biar dinding polos yang berwarna. Dulu putih polos biasa. Kemudian ia bujuk rayu sang ayah agar putih boleh berisi warna lain. Beruntung darah seni memang mengalir darinya. Dan sejak saat itu, Naya tak pernah keluar kamar selama hampir sebulan. Sepulang sekolah, masuk kamar sebentar untuk berganti baju lalu makan siang, kemudian masuk kamar lagi sampai esok pagi. Alhasil, dinding putih berbagi kekuasaan dengan warna lain. 

Satu set meja lengkap dengan kursinya. Satu-satunya benda yang paling dominan. Disamping ukuran meja nyaris melebihi setengah ukuran tempat tidurnya, berbagai jenis pewarna berpose rapih di setiap sisi meja. Dari yang berbahan dasar air sampai pensil warna.

Naya tenggelam bersama lembaran sketch book. Pensil warna bergulir di setiap menitnya. Semenit lalu ia genggam pensil warna hitam, kini pensil warna cokelat menari-nari bersama jemari. Sesekali melirik untaian manik-manik di pergelangan kiri.

Mengukir lagi sosok sang mimpi yang selalu hadir dengan jutaan kejutan. Jaket hitam dan camera SLR ikut melekat dalam ingatan. Tentang gejolak yang ia tahan agar tak berdetak bersama degub. Alih-alih atur nafas agar terkesan tenang. Padahal penghuni hati mencoba bersuara. Tapi bibirnya terkatup. Tak ingin ada yang tahu. Ingin ia simpan sendiri.

Senyum simpul bergulir dengan lengkung bibir mungil.

Dari pensil warna beralih ke sebuah laci meja. Ditarik sedikit, sudah terlihat satu lagi sketch book lain. Ukurannya lebih besar. Lembar demi lembar berlalu. Ada yang ia cari. Benar adanya. Sepasang mata terpaku pada satu lembar di tengah-tengah buku. Satu lembar penuh goresan pensil. Abu-abu mengkilat bila pantulan cahaya lampu kamar menjangkau permukaannya. Sketsa sebuah pertemuan. Dua tokoh dengan kostum seragam SMA dan latar gerbang tertutup di depannya.

Ini judulnya, gara-gara Pak Kasto. Senyum simpul melebar jadi tawa kecil. Tawa halus. Satu tangan membelai ukir nama tepat di samping karakter yang terlukis. Merasakan tekstur permukaan kertas dengan goresan pensil dari tangannya. Lukisan tangan Wira saat tiba-tiba muncil di dalam kelasnya. Saling bertukar nama tanpa harus berjabat tangan. Hitungan detik sudah cairkan kecanggungan dengan tertawa bersama.

Pastinya itu jadi bunga indah dalam ingatan Naya. Setiap detiknya akan terus ia kenang. Bersama keceriaan dan rekaman di atas kertas yang sedang ia lukis. Satu lembar itu satu judul keajaiban. Jadi ia putuskan untuk merekam semuanya dalam lembar sketch book.

Ia tanggalkan sketch book di atas meja. Biarkan halaman tersebut terbuka di sisi kanan meja. Perhatian ia kembalikan pada coretan pensil warna yang belum ada bentuknya. Kembali sibuk membahasakan setiap kejutan dari Wira ke dalam lembar kertas.

***

“Atas nama Wira.”

Panggilan dari meja kasir mengejutkan perhatiannya. Deretan figura berbagai ukuran di sepanjang dinding ia abaikan. Mendekati meja kasir sambil menyambut sebuah amplop putih dari pegawai foto studio.

“Makasih ya mas.”

Senyum sebentar dan berlalu. Langkahnya ringan. Melewati figura berbagai ukuran yang sengaja dipamerkan di setiap sudut dinding. Merebahkan tubuh di atas kursi panjang. Sengaja disediakan untuk pengunjung. Membuka amplop pelan-pelan. Menyambut beberapa lembar foto berbagai ukuran.

Ada pemandangan kebun teh lengkap dengan kilau keemasan di helai daun teratas. Potret seekor ulat daun gemuk yang hijaunya nyaris menipu, sedang asyik menyunyah daun teh. Dan seorang gadis mungil. Kedua lengannya membentang, matanya terpejam, dagunya sedikit terangkat, seraya menghirup udara sambil menikmati oksigen mengalir dalam kerongkongan hingga paru-oaru. Anak rambut cokelatnya sebagian menari-nari ketika angin berhembus lembut.

Masih segar dalam ingatannya, sedetik setelah memotret, sang model menyadari kehadiran Wira. Kemudian berusaha mengejar. Lelah berlari, ia angkat camera tinggi-tinggi agar gadis ini tak sanggup menggapai. Tapi ia lupa dengan tali camera yang menjuntai. Dari situ Naya merebut cameranya. Lompat-lompat kegirangan sambil ikut-ikutan coba memotret.

Lembar foto berikutnya lebih menarik lagi. Foto terbaik. Dia dan Naya tersenyum sama lebar. Sempat beberapa kali gagal ketika ia potret sendiri dengan kedua lengannya. Tapi ini foto terbaik. Naya memeluk bahunya dari belakang. Saat itu memang ia harus menekuk lututnya hingga sekian derajat agar Naya dapat menggapai bahunya. Dan itu terasa sangat ~ dekat.

Walau hanya dari foto, tetap hangatnya keceriaan Naya mengalir dalam kulit jemarinya. Entah apa jadinya bila ia harus jauh dari gadis ini. Atau sengaja ia buat sebuah alasan untuk terus mempertahankannya? Yang ada dalam benaknya hanya satu. Caffeine tak boleh jauh dari tubuhnya.

bersambung

Category: Rahasia

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is that thing with fingers at the end of your arm (one word)?