Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Jalan Ini Punya Kita #14

Panasnya kota metropolitan baru dihantam hujan. Entah jadi apa panas yang sudah melebur kemana-mana. Rinainya sudah bukan turun malu-malu. Gradasi dari rintik-rintik gerimis sampai mengguyur hingga segalanya kuyup. 

Naya saksikan seluruh bagian pertunjukan alam dari balik kaca jendele bus way. Untungnya ia sudah lega dengan AC dari dalam bus ketika matahari dan gumpalan awan abu-abu berseteru. Toh pada akhirnya hujan yang menang. Sekarang pemandangannya terhalang dengan bulir-bulir air di permukaan kaca terluar. Dan  embun di lapis kaca terdalam.

“Tadi try-out matematika gak banget deh. Susah!”

Ini kalimat pembuka. Beberapa menit lalu mereka hampir terhimpit dengan gerombolan calon penumpang bus way yang berebut masuk ke dalam bus. Untung Wira lebih gesir. Cepat ia tarik lengan Naya. Begitu ada dua bangku kosong di baris paling belakang, mereka cepat menghampiri. Hempaskan tubuh yang mulai letih. Kemudian hujan datang. Dari sini Naya habiskan perhatiannya pada pemandangan di luar jendela.

Wira di sisinya. Bersandar. Meluruskan sepasang tungkai. Tulang lehernya juga bersandar. Ia seperti sedang bercandang dengan langit-langit bus.

“Kalau sudah lulus nanti, aku mau kuliah di jurusan yang jauh dari matematika.”

Ia coba menimpali sambil mengikuti gaya duduk Wira. Sekilas nampak menggiurkan. Sayangnya sandaran kursi melebihi kepalanya, jadi  ia tidak bisa menyandarkan tulang leher seperti Wira. Minimal ia masih bisa rebahkan kepala ke sandaran kursi. Sambil menatap Wira tentunya. Postur wajah dari samping. Ada lengkung alis tegas memayungi sepasang mata almond. Naya pernah perhatikan alis itu sebelumnya. Saat setengah berlari di hutan pinus setelah bermain-main di kebun teh. Kali ini ia lihat lebih dekat.

Dan buyar.

Segala bentuk gambar bergerak dalam benaknya berhamburan kemana-mana. Wajah Wira bergulir dan menatapnya.

“Aku mau jadi graphic designer, Nay. Aku juga gak minat ama jurusan yang masih ada matematikanya.”

Hitungan detik mereka terkekeh bersama. Tawa renyah mengembang diantara keduanya. Diantara penumpang lain yang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Diantara hujan deras yang menang taruhan melawan matahari.

***

Ia takut termakan lelah. Jadi cepat-cepat ia kumpulkan apa saja asal jadi suara. Otaknya masih dihinggapi bilangan angka, padahal try out sudah berakhir sekian jam lalu. Kemudian satu topik pembicaraan akhirnya bisa buat mereka tertawa. Lebih tepatnya Naya yang lebih dulu menyadari kesamaan itu dan tertawa geli. Ia mengikuti. Mereka tak terlalu tertarik dengan angka.

Sembari menghabiskan tawa, Wira tak sengaja mengamati pemandangan di luar jendela. Naya pun mendapati sorot mata Wira tak tertuju padanya lagi. Bergulir sedikit, mencari apa yang menarik perhatian Wira. Telapak mungilnya menyapu sebagian embun di kaca jendela.

“Wah macet. Hhhmmm hujan datang pas jam pulang kerja sih, jadi gini deh.”

Dari luar jendela, Wira diam-diam menatap postur wajah Naya dari samping. Ada sebagian helai cokelat menerobos bahu hingga bergantung di sisi wajah. Layaknya bingkai. Macet? Jalan? Ohh!

“Hei Nay. Aku punya filosofi tentang jalan raya.”

“Hah?! Filosofi jalan raya? Kamu ada-ada, Ra heehhee.”

“Yeehh malah ketawa. Serius nih. Jalan raya itu punya filosofi.”

Kali ini mungkin sedikit kurang meyakinkan. Sudah berusaha seserius mungkin, Naya tak berhenti tersenyum geli.

“Nih ya. Perhatiin baik-baik. Jalan Raya.”

Wira mulai menjelaskan. Ketukan bicaranya diperlambat saat mengeja kata jalan raya. Kemudian satu telunjuk Wira mulai menyapu embun yang masih tersisa di jendela. Seperti menulis di atas kaca.

Jalan RAYA = wiRA naYA

Sepasang alis cokelat bertemu. Bibir Naya sedikit mengkerucut. Kemudian mengembang lagi sambil menepuk lengan Wira.

“Kalau begini bukan filosofi namanya, tapi singkatan.”

“Yah terserah deh. Kalo udah begini niiihh~~~”

Telunjuk yang sama kini mengetuk-ketuk kaca jendela.

“Itu artinya, sepanjang jalan ini punya kita, Nay. Gimana? Keren gak?”

“Wah kamu genius!!!!”

Gelak tawa lebih pecah lagi. Tak kuat menahan berbagai kebebasan berimajinasi selesai berkutat dengan deretan angka dan rumusnya. Lirik sinis dari penumpang yang mulai terganggu dengan aktifitas kedua murid SMA ini. Mereka tak perduli. Filosofi jalan raya ini menggelikan sekaligus mengesankan.

Masih ada untaian kalimat yang ini Wira ucap. Mendengar Naya berseru tentang kegeniusan dan kembali tertawa, ia putuskan untuk simpan dulu. Simpan dan ikut tertawa bersama. Seperti biasa, menyerap setiap gelombang tawa hangat yang selalu ia butuhkan. Walau belum saatnya tubuh menjulang ini sakau dan membutuhkan penawar.

bersambung

Category: Rahasia

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 6 * 3?