Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Hasil #15

Kepala sekolah berdiri tegap di belakang standing microphone. Entah bicara apa. Yang Naya tahu, sejak tadi terus berkicau panjang lebar. Menyuarakan kedatangan hari yang telah dinanti. Mengumandangkan rasa bahagia atas segala proses yang telah dilewati. Sudah sebanding lurus dengan kuatnya intensitas cahaya matahari yang jadi latar cahaya. Pagi memang cerah. Awalnya ceria. Tapi kalau begini terus, sama aja dijemur.

Menggerutu dalam hati. Gumam mulai berdengung di sekitar telinganya. Ada yang menyeka peluh di sekitar dahi dan leher. Ada yang mengibas-kibaskan kerah baju. Dirasa dengan begitu, udara bisa keringkan keringat di balik kemeja.

Naya tinggalkan sosok bergelora dengan standing microphone. Ada benda putih berputar-putar di tangannya. Amplop. Seluruh siswa juga pegang amplop yang sama. Sesekali telunjuk dan jempolnya meraba. Amplop tidak tebal. Pelan-pelan ia angkat amplop setinggi dahi. Dipikir dengan begitu, ada yang bisa ia terawang. Ternyata bahan kertas amplop cukup berkualitas. Putus asa. 

Memang inilah hari penentu atas segala perjuangan yang telah di tempuh selama 3 tahun. Ditambah lagi beberapa minggu lalu seluruh tenaga bisa jadi menguap habis karena Ujian Nasional. Hingga hari ini tiba sebagai titik terakhir. Khusus untuk seragam putih abu-abu.

Budaya yang cukup unik. Dimana surat pengumuman biasa dikirim ke rumah murid via pos. Sekolah tempatnya bernaung justru mengumpulkan siswa-siswanya di lapangan upacara. Format barisan sama persis seperti upacara bendera. Hanya ada satu yang berbeda. Ada barisan khusus untuk para orang tua yang ingin menyaksikan tawa kebahagiaan putra-putrinya. Atau akan menangis bersama bila secarik surat dalam amplop belum izinkan putranya lulus.

“Baiklah anak-anak. Saat yang telah dinanti-nantikan akhirnya tiba.”

Sekian banyak patah kata sang kepala sekolah, Naya hanya simak kalimat yang satu ini. Kedua tangannya sudah ambil posisi. Amplop dipegang setinggi dada.

“Satu… Dua… Tiga!”

Benda ini menarik perhatian Naya melebihi apa pun. Bahkan ketika meraba. Ukuran kertas di dalam amplop jauh lebih kecil dari ukuran amplop. Ada ruang renggang di dalamnya. Di sisi itu pula Naya merobek. Jika harus berkutat dengan lem amplop, bisa memakan waktu cukup lama. Jantung keburu loncat dari peradaban. Ini saja sudah berdetak rusuh dari balik dada. Isi hati juga sama ributnya. Ingin cepat-cepat senang namun harus ditunda sesaat.

Ujung surat terlihat. Ada tiga lipatan. Sama sekali tak tertarik dengan berapa banyak nilai yang ia peroleh dari hasil Ujian Nasional.

Dengan ini kami menyatakan bahwa saudari Naya Sephira Syahda dinyatakan LULUS

Bibir mungilnya mengembang. Ia resapi betul-betul isi kalimat terakhir dalam surat. Telunjuk pun terus meraba. Bisa jadi ia salah baja dan setelah disentuh bunyi kalimat akan berubah. Ini nyata. Aku gak mimpi!!

Ia dapati seisi lapangan menjadi pertunjukan drama berbagai ekspresi. Tertawa, menangis, berteriak hingga bersujud. Namun gadis ini hanya ingin menemukan kedua orang tuanya dalam kerumunan manusia. Bunda? Ayah? Dimana? Berlari pun tak kuasa. Rona kebahagiaan tak sempat perhatikan dirinya yang hampir putus asa.

“Naya!”

Lelaki paruh baya sedang melambaikan tangan, sedangkan wanita hangat disisinya sedang menanti resah. Kali ini kebahagiaan Naya lebih tak perduli lagi. Kedua tangannya menempa siapa pun yang menghalangi langkahnya. Semakin dekat. Kedua tangan wanita ini mengambang. Begitu langkahnya terhenti, ia sambut peluk sang bunda.

“Nilai yang nyaris sempurna Naya, Good job.”

Seruan sang ayah meredakan pelukan kedua wanita dihadapannya. Terlalu bersemangat memeluk, Naya tak sadar, lembaran surat telah berpindah tangan. Lelaki berkacamata ini ikut mengembangkan kedua lengan. Naya tenggelam dengan sepasang lengan kokoh.

Air mata bahagia tak kuasa dibendung. Naya paham perasaan ini. Satu tangan Naya membasuh pelan sudut mata yang mulai keriput. Walau begitu, kehangatan bundanya tak ikut menua bersama usia.

“Pokoknya bunda harus bikin syukuran, ya ayah. Bunda seneeeeeng banget.”

Gelak tawa Naya meledak. Diikutin sang ayah dengan suara yang lebih berat. Wanita hangat ini juga ikut tertawa walau air mata belum berhenti mengalir dari balik pelupuk. Sang ayah membersihkan bulir haru dengan sapu tangan.

“Ayah! Malu diliat ibu-ibu yang lain.”

Dan gelak tawa meledak lebih kuat.

***

Hampir putus asa ia cari sosok mungil ditengah-tengah lautan manusia. Tubuh tinggi menjulang pun tak cukup membantu. Badan dan kepalanya sudah banyak berputar. Hingga satu kilau cokelat cerah dibawah sinar matahari hentikan putaran terakhir. Bersama kedua orang tuanya. Tertawa sambil saling merangkul.

Ia hafal betul bagaimana Naya tertawa.

“Nay.”

Satu anggukan ringan dari kedua orang tuanya, Naya menghampiri Wira. Wajah cerah ceria dengan kedua sudut bibir mengembang lebar. Nuansa riang yang selalu ia dambakan. Bahkan ia berani bersumpah, hanya Naya yang punya kehangatan seperti ini.

Kedua tangan membentangkan isi surat ke arah Naya. Hal serupa juga Naya lakukan. Saling membaca isi surat yang ditunjukkan. Senyum sosok mungil ini belum memudar.

“Oh! Wait a minute.”

Satu tangan merogoh isi kantong celana abu-abunya. Sudah ada selembar kertas lipatan kecil. Saat dibentangkan, banyak sisa lekuk lipatan terbentuk.

“Tada!!!”

Mata cokelat bulat Naya menyimak apa yang terpampang dalam kertas penuh lipatan di tangan Wira. Kemudian satu tangannya menyambut sesuatu dari dalam kantong rok abu-abu. Sama kecilnya, namun lipatan yang terbentuk lebih rapih dari kertas Wira.

“Tadaaa!!! Kita lanjutkan petualangan di Bandung!!!”

“Aaaaaaaaaaa…”

Kebahagiaan yang tak terbendung. Naya melompat-lompat. Kedua lengan melambung tinggi menyambut langit. Lelaki menjulang dihadapannya juga ikut berteriak sangking bahagianya. Kedua pasang tangan bertautan sambil terus diayun-ayun dalam tarian semangat berhujung bahagia.

bersambung

Category: Rahasia

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What has leaves, a trunk, and branches, and grows in forests?