Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Ayah

Tubuhnya banyak kehabisan tenaga. Perhatiannya juga tak berdaya. Fokus pun bisa lemah. Ia jalankan tuntutan dengan sangat baik. Hingga tiba waktunya. Tuntutan tahap awal butuh pertanggungjawaban. Dihadapannya saat itu, terduduklah dosen pembimbing beserta co-bing. Dalam hati penuh harap karena tak ingin dikecewakan. Di deret kursi yang sama. Seorang penguji. Tugasnya menguji.

Bila di dalam diri bernaung mental seorang pengecut, maka kehadirannya adalah sebuah bencana. Itu kalau pecundang. Siapa kira, jauh di dalam gadis kurus tak seberapa tinggi ini hidup jiwa sekeras batu. Dentuman jenis apa pun enggan buatnya tak bergeming. Walau hanya untuk bergetar.

Ia kerahkan kemampuan dengan tenaga yang tersisa. Sebagian sudah habis di ruang laboratorium. Habis oleh penelitian yang ia pelopori sendiri. Bila sepasang matanya cengeng. Maka ia akan berlari dan menuding sang pembimbing.

Siapa bisa kira, ia simpan baik-baik sepasang mata bulat di sekitar reaktor penelitian. Saksi mata tentang alam yang bercerita dan ia hadir sebagai pengamat untuk membahasakan kembali. Sebagai bukti atas kemampuan diri yang tangguh. Urung melebur ditempa dentum.

Suatu ketika ia bertanya. Dari mana aku dapatkan jiwa ini?

Semuanya sudah berlalu. Tahap pertanggungjawaban berjalan sangat baik. Dirinya resmi di tempa berbagai persepsi seorang profesor. Bukan jatuh merengek di lantai untuk minta di tolong. Bukan pula menangkis segala pernyataan untuk membela diri. Ia perjuangkan segala yang ia pertahankan dengan keikhlasan yang jujur. Hanya itu yang ia bisa.

Sekarang ia hanya ingin istirahat. Untuk pulihkan tenaga. Untuk mengembalikan daya dalam tubuhnya. Proses yang memakan banyak kalori.

Sambil menata runut waktu untuk langkah selanjutnya, pertanyaan itu belum juga terjawab. Dari mana aku dapatkan jiwa ini?

***

Telpon berdering. Berkedip nomor telpon kantor. Ayah?

Benar adanya. Lantun sapa riang dari seberang. Menanyakan keadaannya. Hidupnya. Segalanya. Percakapan mengalir hingga gelak tawa hadir menghampiri.

Sambil bertanya dalam diri. Tentang tawa.

Ia hanya tahu tentang kedisiplinan yang terbungkus tangguh. Berkembang dengan sangat logis. Jika salah harus dihukum dan yang benar adalah sebuah penghargaan. Untuk tawa, ia hanya ikut tertawa. Datangnya keceriaan pun tak dimengerti asalnya dari mana.

Kali ini tertawa dalam ketukan yang sama. Ketika menertawakan posisi keran berbentuk balon di dalam galon berisi air baku untuk minum.

“Masa di atas air minum ada keran balon, yah jelek dong. Kayak di WC. Yah gak jadi diminum nanti airnya.”

Seketika tawa pecah setelahnya. Membayangkan segala proses pemurnian air minum sirna seketika hanya karena kehadiran sebuah keran balon di permukaannya. Diskusi mengalir sambil sesekali terkikih karena sang ayah mempelajari materi yang sama dengan dirinya di bangku perkuliahan. Mengiyakan proses oksidasi dalam prinsip elektrosis hingga pengolahan air tanah yang mengandung bakterial besi.

Ada kesatuan. Ketika ketakutan untuk berucap hilang entah kemana. Ketika ketakutan untuk berbuat salah dan hukuman yang menyeramkan menguap entah jadi apa.

Hingga percakapan berakhir tepat di penghujung sore. Bergulirnya matahari.

Telpon genggam masih dalam genggaman. Di genggam erat. Satu tangan lagi menenangkan penyesalan diri yang amat sangat. Andai masih punya sepasang tangan lagi. Keduanya akan berfungsi untuk menyeka aliran pilu bersama perih dari balik pelupuk.

Satu tarikan nafas menyebabkan sesak dua kali lipat. Satu hembusan nafas meluangkan rongga untuk air mata menuruni setiap kontur wajah. Sambil berputar kembali saat masa-masa bersama di rumah. Saat dirinya hanya melihat watak keras dalam diri sang ayah. Saat dirinya hanya melihat ayahnya suka sekali marah. Saat jalan hidupnya banyak yang ditentang. Saat dirinya ingin berontak namun tak punya daya. Waktu itu ia baru remaja tanggung yang banyak mau.

Setelah segalanya berlalu. Menuruti kemauan ayah untuk mencicipi peliknya pola pikir orang-orang teknik. Segalanya logis. Tak jarang pula mengandung nuansa filosofis. Jarang gunakan emosi. Hingga pada tahap akhir dalam kewajiban pendidikannya. Sebuah ujian yang mendewasakan dirinya.

Isak semakin dalam menerjang sistem pernafasan. Apa daya dalam diri ingin bersujud atas penyesalan luar biasa. Atas benaknya yang lebih banyak membatin sambil menghakimi.

Aku butuh dewasa untuk memahamimu, ayah. Betapa payahnya aku. Bahkan dari mana aku dapatkan jiwa ini pun baru kusadari sekarang.

Aku dapatkan darimu.

Category: Serpihan Kaca

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 8 * 5?