Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Bandung #16

Satu jam berlalu tanpa apa-apa. Sedangkan perjalanan menuju kota kembang masih berjam-jam lagi. Pemandangan kota sudah beralih jadi bukit kehijauan. Sesekali ada merah bata dan potongan jalan raya yang berkelok. Ke atas sedikit ada bentang biru bersama gumpalan awan yang putihnya berpendar ke segala arah. 

Keputusan sebulat keinginan hati untuk tak lagi berurusan dengan matematika. Setiap mendaftaran ujian masuk mahasiswa baru, ia buru bersama Wira. Ketimbang angka, warna jauh lebih menarik. Wira pernah cerita tentang rumus-rumus matematika yang buat mati rasa. Tak menyangka, warna juga yang membuatnya berjuang bersama Naya untuk dapatkan jurusan desain. Hasilnya mengejutkan. Sama-sama diterima di universitas yang sama, jurusan yang sama pula. Desain Komunikasi Visual.

Bandung itu menyenangkan? Banyak yang bilang udaranya sejuk. Bagaimana langitnya? Secerah Puncak di Bogor? 

Keresahan mulai mengusik. Ini kali pertama ia tinggalkan rumah untuk waktu yang lama. Bukan untuk bersenang-senang pula. Meneruskan perjalanan pendidikan untuk hidupnya kelak. Ada kekhawatiran akan suasana rumah yang kehilahan satu suara gaduh. Ayah pasti bisa tenangkan bunda kalau melankolisnya kambuh. Minimal satu hal sederhana ini sanggung lengkungkan senyumnya lagi.

Wira di sisinya. Tak ada suara. Ia lirik sedikit. Ternyata tertidur dengan tulang leher bersandar di puncak sandaran kursi. Hanya Wira yang bisa lakukan itu. Wajahnya menatap langit-langit mobil. Sepasang earphone di setiap telinga. Ada lelah sedang coba ia lepaskan. Bisa jadi pulas.

Segala urusan perkuliahan, Wira yang atur semuanya. Termasuk dimana ia dan Wira akan tinggal. Untung ada seorang kerabat keluarga Wira ada di Bandung. Punya usaha indekos pula di sekitar kampus tempatnya belajar kelak.

Lucu. Indekos putra dan putri berbeda rumah namun masih di tangan pemilik yang sama. Dalam satu komplek perumahan, kedua indekos ini saling berhadapan. Jarak antara indekos dengan kampus pun bisa ditempuh dengan berjalan kaki.  Dengan begini, semoga Bandung memang menyenangkan.

Tak ingin menggagalkan proses pelepas lelah Wira. Naya kembali memandang pemandangan bergerak di luar bingkai jendela. Sekejap menghampir lalu cepat berganti.

***

Mobil masih sesekali berguncang. Intip sedikit dari celak jok pengemudi, masih pemandangan jalan tol. Naya pun masih terpesona dengan bukit-bukit hijau. Walau begitu, masih ada sisa keinginan untuk kembali tidur. Rebahkan kepala. Ayunan mobil melaju di jalan tol jadi nina bobo.

Kedua mata terpejam lagi. Tersisa suara mesin menderu yang beradu dengan alunan gitar akustik dalam earphoneFalling in love at a coffee shop. Ada sahutan denting piano pelan di sela-sela ketukan. Coba antar ke dalam alam bawah sadar.

I think that possibly, maybe I’m falling for you
Yes there’s a chance that I’ve fallen quite hard over you.
I’ve seen the waters that make your eyes shine
Now I’m shining too

***

Ini anak tangga terakhir. Lantai aksen kayu. Cokelat mengkilat yang berdentang sedikit setelah dipijak. Naya masih canggung. Ia layangkan kaki pelan-pelan. Detang kayu memberi kesan rapuh akibat usia. Hanya belum terbiasa.

Lantai tingkat dua lebarnya hanya dua meter. Ada pagar pembatas setinggi pinggang di sisi kiri. Saat menjatuhkan pandangan ke lantai dasar, bisa terlihat ruang makan silindris. Ada meja makan bulat di tengah-tengah. Tempat para mahasiswa putri mendulang nutrisi untuk sarapan hingga makan malam. Di sisi kanan ada deretan pintu.

Dindingnya cream hangat. Ada tiga pintu berbaris. Naya berhenti di pintu kedua. Satu-satunya pintu dan bingkainya yang berwarna putih. Dua kali putar, kunci terbuka. Sekali ayun pintu juga sudah terbuka. Aroma hangat menyeruak. Bagai segerombol angin yang sedang menyapa. Katakan selamat datang pada Naya.

Lantainya masih kayu. Saat melangkah masuk, lantainya masih berdentang lembut. Bilik hangat yang sederhana. Bentuknya persegi sempurna. Ada beberapa kardus di lantai kamar. Beberapa hari lalu ia sengaja kirimkan peralatan yang akan ia butuhkan selama di Bandung. Salah satu trik dari Wira agar ia hanya membawa pakaian saat akan pindah. Kardus masih tersegel rapih.

“Teteh, ini kopernya.”

Sudah berdiri seorang bocah laki-laki kurus tinggi. Perawakan lugu berubah tak sinkron dengan postur tubuh. Padahal usianya baru 14 tahun. Remaja tanggung.

“Makasih yah. Kopernya gak berat kan?”

“Lumayan teh.”

Bocah ini lucu. Benar-benar masih lugu walau tinggi tubuhnya telah melebihi tinggi tubuhnya. Ia jawab sambil menyeringai dan menggaruk kepala bagian belakang. Ekspresinya malu-malu. Walau begitu bocah ini cukup supel. Begitu koper beralih ke tangan Naya, ia menyodorkan satu tangannya.

“Saya Jodi, teh. Anak bungsunya ibu kost.”

Sehangat ruang kamar barunya. Naya tak ada pilihan lain selain menikmatinya dengan senyum simpul.

“Naya. Aku dari Jakarta. Kamu kelas berapa sekarang?”

“Kelas 2 SMP. Oiya, kalau ada apa-apa bisa minta tolong bibi atau Jodi ya, teh. Tapi Jodi baru bisa bantu kalau udah pulang sekolah atau pulang main futsal.”

Entah sudah berapa kali Naya terkekeh. Terlalu menggemaskan untuk usia 14 tahun dengan postur tubuh 5 cm lebih tinggi dari tubuhnya.

“Ada yang bisa Jodi bantu lagi, teh Naya?”

Naya biarkan sepasang mata cokelatnya beredar meraba seisi kamar mungilnya. Menjangkau satu matras yang telah diselimuti seprai lengkap dengan bantal, guling dan selimut, satu lemari pakaian, satu rak sepatu di dekat pintu dan satu set meja belajar yang menghadap dinding. Lalu kembali pada Jodi yang menanti jawaban.

“Kayaknya aku bisa tangani sendiri.”

“Bagus deh, soalnya Jodi mau main futsal dulu. Dadaahh teteh.”

Menuruni tanggal sambil setengah berlari. Sempat melambaikan tangan beberapa detik sebelum berlalu. Jodi… Jodi… Lucu banget ni bocah.

Roda koper bergelinding mendekati salah satu kardus. Ukurannya paling besar dari kardus lain. Naya masih ingin beredar ke setiap sudut ruangan. Mengamati dinding kuning telur dan pucat. Jadi ini alasannya, pantesan kamar terkesan hangat. Kemudian mengamati satu pintu lagi di sisi dinding yang lain. Kamar mandi. Bingkai dan daun pintu juga berwarna putih. Yang terakhir adalah salah satu jendela dekat meja belajar. Sama persegi sempurna. Kaca jendela tertutup. Naya putuskan untuk biarkan udara luar menyatu dengan kehangatan biliknya. Dan benar adanya. Semilir angin menyapa, melayangkan sebagian helai rambut Naya.

Masih tetap berbingkai putih, senada dengan gorden yang tersisihkan. Di luar jendela ada satu rumah berdinding cream hangat. Dari sini ia bisa lihat tempat Wira bernaung. Benar-benar berhadapan yah. Lucu juga.

“Gimana kamar barunya? Suka?”

Naya lupa menutup pintu. Sempat ia dengar ada dentum langkah, ternyata Wira.

“Kamu bisa masuk kost-kostan putri?”

“Asal gak diatas jam 9 malam, Nay.”

“Oh gitu.”

Wira melangkah masuk. Detum yang terdengar jauh lebih berat. Menarik kursi dari meja belajar dan duduk di sana. Menghadap Naya yang masih menikmati angin sore Bandung di sisi jendela.

“Gak perlu khawatir masalah laundry sama jadwal makan. Ada bibi Inah yang nanganin. Kalau di kostan putra namanya bi Rahma.”

Naya hanya menyimak.

“Jarak dari sini ke kampus deket banget kok, tinggal jalan kaki. Itu juga jadi alasan kenapa aku tertarik ngekost disini.”

“Sepertinya Bandung menyenangkan.”

Wira hanya mengangguk sekali dan kembali dalam penjelasan panjang.

“Besok pagi kita ke kampus. Ngurus masalah administrasi. Setelah itu bebas deh. Kamu mau jalan-jalan?”

“Aku mau belanja kebutuhan anak kost.”

Ini babak baru dalam hidup Naya. Akan lebih banyak kisah di sini. Tentang dirinya. Dengan segala kejutan dalam setiap kehadiran Wira. Bahkan sosok ini akan terus berada di sisinya. Apa yang akan terjadi setelah ini? Tetap terpukau atau justru aku akan terbiasa dengan segala keajaiban yang ia punya? Tapi, aku gak mau bosan. Jangan.

bersambung

Category: Rahasia

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 7 * 9?