Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Goresan Ujung Pensil #17

Entah berapa jumlah seluruh mahasiswa baru. Yang jelas kampus ini dipenuhi manusia berseragam putih abu-abu. Menyeruak dari setiap celah gedung yang tersedia. Termasuk dirinya dan Naya. Ada jas almamater yang ia genggam, masih baru, terbungkus plastik. Ragu akan kenakan almamater, tak satu pun ia temukan mahasiswa baru yang kenakan itu dengan seragam SMA di tubuh.

Seluruhnya berbondong-bondong masuk ke dalam sebuah aula besar. Ia dapat informasi dari satpam di gerbang utama. Mereka menyebutnya gedung serba guna. Menyamakan kecepatan dengan mahasiswa lain. Begitu ia melirik, Naya tak ada di sisi kanan atau kiri. Padahal beberapa menit lalu mereka berjalan bersama.

Tak ada di depan sana. Pikirnya Naya tak mungkin mendahului langkahnya. Nyangkut dimana ni anak? Wira memutar tubuhnya. Ternyata Naya tertinggal di belakang. Tak hanya tertinggal. Ada yang ia amati. Berdiri terpaku pada sebuah gedung berlantai tiga 10 meter di depannya. Dinding hanya sebagai sekat antar ruangan. Selebihnya terdiri dari kaca transparan tanpa lapisan film. Setiap aktifitas di dalam ruangan terlihat seluruhnya dari luar. Pilar hingga balok penyangga gedung beruansa putih. Suatu ketika sinar matahari pagi menghujani, ada kilau cemerlang menyapa mata. Menyapa mata Naya.

Sepasang jempol dan telunjuk membentuk bingkai persegi panjang yang seolah-olah membatasi setiap sisi gedung dalam penglihatan Naya. Tapi bingkainya sirna ketika Wira datang.

“Aku pikir kamu ilang kemana. Taunya disini. Jangan gitu lagi ya. Udah kecil, ilang pula.”

Ketus. Bicara sambil cemberut. Naya tak indahkan kekesalan di awal pagi berkilau. Ia kembali menatap gedung putih. Masih terpukau. Entah apa nama dan fungsi gedung itu.

“Aku suka bangunan itu. Dia berdiri tepat di bawah sinar matahari pagi jatuh.”

Kekesalan memudar. Ia ikuti kemana arah mata Naya tertuju. Wira mendapati Naya yang tak berbohong. Setiap lantai, diantara tiap balok yang menopang, terdapat sekat kotak dengan kaca transparan jadi selimut penutup bagian terluar bangunan. Seperti jendela raksasa. Ada ruangan yang penuh dengan papan dan beralas karpet hijau. Ada lagi satu ruangan yang agak lapang namun ada satu pohon palem mungil di salah satu titiknya. Terlihat beberapa mahasiswa berlalu-lalang dengan urusannya sendiri.

Namun Wira tak ingin lama-lama terbuai dengan keindahan bangunan.

“Aku lebih suka kalau kita gak terlambat di sidang senat, Naya.”

“Okay, I got it. Ayo kita meluncur ke gedung serba guna.”

Kembali melangkah beriringan. Kerumunan mahasiswa baru dengan seragam SMA mulai berkurang dari peredaran. Mungkin sebagian sudah memenuhi gedung serba guna. Ternyata benar. Sudah hampir penuh. Hanya beberapa kursi di barisan belakang yang tersisa. Mau tak mau mereka mengisi bagian yang tersisa.

***

Entah sudah berapa lama jalannya acara sidang senat. Terheran-heran pada kesan pertama. Ketika pihak rektorat memasuki gedung diiringi dengan nyanyian paduan suara yang menyayat telinga, khusus di nada-nada tinggi. Wira harus meluruskan seluruh tulang punggungnya agar pemandangan jauh di depan sana dapat terjangkau olehnya. Dari segi visual, kostum rektorat juga unik. Sepintas mirip jubah para petinggi sekolah Hogwart di film Harry Potter. Serba hitam dan menjuntai hingga menutupi punggung tangan dan kaki.

Kemudian sambutan silih berganti sampai bosan. Ia berkali-kali menutupi mulutnya yang mengembang setiap kali menguap. Ingin menyandarkan kepala, sayang sandaran kursi hanya sampai setengah punggungnya. Terlalu kecil untuk tubuhnya yang menjulang.

Sejak acara dimulai, tak ada komentar apa pun dari Naya. Diam-diam ia lirik gadis mungil di sisinya.

Sebuah sketch book di pangkuan. Pensil kayu di tangan kanan. Sibuk ciptakan guratan abu-abu gelap yang bergesek dengan permukaan kertas. Tangan yang lain menggenggam pengghapus dan sisi sketch book agar tak bergeser. Kepalanya menunduk. Sebagian rambutnya menutupi wajah. Walau sebagaian helai telah ia sangkutkan ke belakang daun telinga. Tetap saja, ada helai yang lebih pendek jatuh ke bawah. Tapi Wira masih bisa saksikan sebagian sisi wajah Naya.

Asyik sendiri. Tatapan Wira yang mengusiknya. Itu lebih baik.

Lampu aula gedung hanya buat rambut Naya sekedar cokelat gelap. Bahkan untaian manik-manik di pergelanan tanggannya masih jauh lebih terang dan mengkilat. Rambut lurusnya mengikuti lekuk bahunya. Baru ia sadari. Naya membungkuk cukup dalam.

Sejurus kemudian Naya telah menatap balik ke arahnya. Jantungnya terkesiap namun tak ingin ketahuan salah tingkah. Curi nafas agar tetap tenang.

“Ngapain kamu liatin aku?”

“Bukan gitu. Duduk seperti itu gak pegel? Liat punggungmu, sebentar lagi bengkok.”

Naya benarkan posisi duduknya. Meluruskan punggung sambil memijat salah satu bahu.

“Pegel sih…”

Wira masih menyimak. Pikirnya, Naya belum benar-benar selesaikan kalimatnya.

“Aku suka suara goresan ujung pensil. Seperti musik. Oh kamu mau coba?”

Gesit. Sketch book beserta alat tulis sudah berada di hadapannya Wira. Mata Naya membulat. Sangat ingin dirinya ikut mencoba.

“Mana tau kamu mau menambahkan sesuatu. Dari pada ngantuk.”

“Setuju.”

Menyambutnya dengan suka cita. Sama seperti Naya. Meletakkan sketch book di atas pangkuan. Mulai mengamati apa yang telah dilukiskan Naya. Ternyata ada deretan pegawai rektorat lengkap dengan kostum yang menyerupai jubah lengkap dengan topi toga. Memang ada yang kurang dari sketsa Naya. Tak ada mimbar tempat para penyambut memberikan sambutan silih berganti.

“Wira.”

“Hhmmm?”

Menjawab tanpa mengalihkan pekerjaannya.

“Nanti kita duduk seperti ini lagi. Kamu pakai dasi sedangkan aku pakai kebaya.”

Tak begitu paham dengan perkataan Naya. Wira kembali menatap Naya yang telah melengkungkan senyum khasnya. Dasi? Apa hubungannya sama kebaya?

“Nanti kita lulus bareng ya.”

Tak ada alasan lain selain ikut mengembangkan senyum. Semangatnya bukan energi yang menggebu-gebu. Selembut belaian angin sore yang meresap sepenuhnya dalam ingatan. Satu ingatan baru tentang gadis yang selalu ia rindukan. Kini semakin dekat. Tak ada alasan untuk mundur selangkah atau menjauh. Satu usaha yang tak pernah ia rencanakan. Namun hanya ini yang mampu ia lakukan. Wira lakukan untuk mempertahankan apa yang belum kuasa ia genggam. Pikirnya, minimal pertahankan obat penawarnya agar tetap dekat.

bersambung

Category: Rahasia

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 5 multiplied by 2?