Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Tantangan #18

“Ini adalah budaya yang sudah ada sejak kampus ini berdiri. Namanya pameran karya. Temanya tak pernah lari dari melukis di atas media. Terserah media apa pun itu. Karya yang dimaksud juga bebas, individu atau perkelompok.”

Tak ada yang tak tertegun. Pak Dudi tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Belum sepenuhnya meyakinkan. Dosen nyentrik ini bicara sambil membereskan peralatan mengajar. Mulai dari leptop, map berisi daftar absen mahasiswa hingga spidol berbagai warna yang ia bawa sendiri. Seisi ruangan menantinya berucap. Kalimatnya belum selesai.

Seketika ruang kelas sunyi. Ia sadari hal itu. Tatapan bingung menghujaninya hingga salah tingkah sendiri. Kemudian ia tinggalkan urusan peralatan mengajar. Melangkah mengitari meja dosen. Bersandar di salah satu meja.

“Setiap mahasiswa angkatan baru harus melewati tahap ini. Dan yang paling menarik adalah ~~~ pameran ini terbuka umum. Jadi kalian harus persiapkan harga yang pantas. Bisa jadi ada yang tertarik dengan hasil karya kalian.”

Ada yang bersiul kencang. Ada yang bersorak-sorai hingga menyambut gembira dengan tepuk tangan meriah. Wira dan Naya bertatapapan sejenak. Sama gembiranya. Ikut bertepuk tangan sambil berseru senang.

Sang pembawa berita hanya bersandar sambil tertawa renyah. Setiap tahun ia selalu saksikan antusias yang sama. Kegembiraan seolah meresap ke dalam tubuhnya, lagi. Biarkan euforia menyelimuti tiap inci ruang kelas, ia kembali pada peralatan mengajarnya.

“Persiapkan baik-baik karena pameran itu akan diadakan bulan depan. Selamat siang semuanya.”

Berlalu ke luar kelas sambil tetap tersenyum. Meninggalkan semangat para mahasiswa baru yang terbius dengan uraian singkat tentang pameran karya bulan depan.

***

“Hei Nay. Jalan sambil bengong, ntar nabrak lho.”

Sejak keluar dari kelas, perawakan ceria yang biasa hadir setiap saat berubah jadi bisu. Tatapannya jatuh ke tanah, tapi tak betul-betul perhatikan apa yang sedang ia pijak. Sengaja Wira senggol pelan lengan Naya. Ternyata benar. Wajahnya seketika terangkat. Itu saja, tak ada reaksi lain. Pasti lagi ada yang dipikirin.

“Ra, kamu udah ada rencana untuk pameran bulan depan?”

Tuh kan bener.

“Hhhhmmm… Belum. Mikirin pameran gak mesti sampai bengong juga kali. Lebay.”

Bisa dibilang Naya kalah telak. Satu tangan coba meninju lengan Wira, nyatanya meleset. Wira melompat ke depan. Jadi Naya hanya meninju angin.

“Mau ninju neng? Kuda-kudanya gak keren, loyo.”

“Wiraaaa!!!!”

Sebenarnya percuma bila harus mengejar Wira yang punya langkah lebar. Untuk mengimbanginya berjalan cepat saja  setara dengan berlari kecil. Sudah kepalang kesal, dikejarnya Wira. Nih anak jahilnya kambuh. 

Saking kencangnya melarikan diri, Wira sudah tak tampak di pelataran kampus. Pikir Naya, mungkin sudah terlalu jauh. Sampai di belokan Naya hanya berjalan sambil terengah-engah. Dari balik belokan, ia dapati Wira sedang berjongkok. Membenarkan tali sepatu. Hahahaha gotcha!!

Mengendap-endap sambil berdoa. Jangan sampai noleh ke belakang. Dan ~~~

“Hai Nay. Hai Wira.”

Naya terhenti tepat selangkah di belakang Wira. Ada yang menyapa dari arah samping kanan. Naya berpaling pada sumber suara. Sambil berjongkok, Wira juga mendapati seorang teman lama berdiri di sampingnya.

“Josh?!”

***

“Kok bisa nongol di sini sih Josh?”

Sudah cukup lama Naya tahan rasa penasarannya. Sampai pada akhirnya mereka temukan satu meja kosong di kantin. Mereka bertemu tepat di jam makan siang. Tujuan setelah itu hanya kantin. Itu pun harus berkutat dengan kerumunan mahasiswa kelaparan. Mereka juga lapar. Lebih dulu pesan makanan ketimbang mencari meja kosong, tapi toh tak lama kemudian mereka temukan meja kosong tepat di samping jendela. Semilir angin ramah menyapa.

“Aku kuliah di sini, Nay. Jurusan teknik mesin.”

“Wow! Mesti kuat di fisika sama rumus integral dong, Josh?”

“Bener banget, Nay. Terus kalian berdua kuliah di sini juga?”

Wira yang sejak tadi sibuk sendiri dengan ransel dan jaket, akhirnya angkat bicara.

“Kita berdua keterima di DKV, Josh. Sekelas pula.”

Naya hanya menimpali dengan anggukan kecil.

“Wah, bakal sering ngadain pameran karya gitu dong. Itu kan kerjaannya anak DKV.”

“Nah itu dia, Josh. Kita berdua disuruh buat karya dua dimensi di atas media untuk pameran karya khusus angkatan baru. Pamerannya bulan depan. Tapi aku sama Wira belum dapet ide.”

Perkara pameran karya ini sempat memenuhi kepalanya. Begitu Josh bahas sedikit tentang kebiasaan mahasiswa DKV terhadap pameran, Naya seperti termakan umpan. Keluarlah seluruh keluh kesahnya.

Josh sempat diam sesaat. Menimbang-nimbang sesuatu hingga akhirnya ia mulai membuka isi ranselnya. Seperti ada yang ia cari.

“Entah aku bisa bantu apa. Tapi kalian bisa datang aja ke galeri ayahku. Hari sabtu dan minggu aku ada di sana. Ini alamatnya.”

Dari dalam tas ia keluarkan sobekan kertas dari note book mungil dan sebuah pulpen. Menuliskan sebuah alamat dan menyodorkan kertas tersebut ke arah Wira dan Naya. Josh duduk di hadapan mereka.

Wira sambut kertas dari Josh.

“Oh! Aku tau daerah ini.”

“Gak terlalu jauh dari sini kok, Ra.”

“Bentar-bentar. Ayah kamu punya galeri lukisan tapi kamu kuliah di jurusan teknik mesin?”

“Jadi gini, Nay. Bisa dibilang aku memang lahir dari keluarga seniman. Tapi aku pengen cari hal baru. Dari dulu aku suka fisika, yah gak ada salahnya kalau aku pilih teknik mesin.”

Naya berputar sejenak pada masa-masa SMA. Sempat beberapa kali ia sekelas dengan Josh. Dari kelas 2 sampai 3. Bener juga sih, dari dulu nilai eksak Josh gak pernah jelek.

“Terus pendapat orang tua kamu gimana?”

Naya belum percaya dengan keputusan Josh. Bisa dibilang ini keputusan banting stir. Seni dan mesin bukan dunia yang saling berhubungan. Kalau pun ada, entah dimana letak korelasinya.

“Gak ada masalah, Nay. Lagi pula aku anak bungsu. Kakakku yang akan  nerusin usaha galeri ayah. Jadi gak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Naya kembali mengangguk ringan. Antara setuju dan terkesima dengan kemurahan hati orang tua Josh yang menghargai perbedaan pendapat dalam keluarga. Jauh dari rona keluarganya yang memang ia dapati darah seni ini dari sang ayah.

“Makasih banyak ya Josh. You safe us.”

“Its okay, guys. I’m your guardian angel.”

Seorang Josh dengan postur tubuh tambun. Pipi di wajahnya mengambil kekuasaan penuh. Meringis sambil mengedipkan mata genit dan kedua tangan yang mengepak-kepak layaknya sayap kecil anak ayam. Lemak dalam pipinya menekan kelopak mata. Josh tersenyum namun terlihat meringis sambil terpejam. Gelak tawa Wira dan Naya pun pecah seketika. Tak ada yang hiraukan keributan yang mereka buat, toh suasana kantin jauh lebih ramai.

Tak lama kemudian seorang pegawai kantin menghampiri dengan nampan penuh dengan makanan pesanan mereka. Makan siang ceria bersama Josh.

bersambung

Category: Rahasia

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 7 plus 5?