Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Langit Jadi Saksi

Langit Jakarta waktu itu jadi saksi. Biru saat sedang cerah-cerahnya. Atau menua ketika berselisih dengan kehadiran malam. Waktu itu tak ada mega atau semburat kemerahan. Tapi ada satu awan yang aku tunjuk berulang-ulang.

“Lihat warna awan itu. Merah, hijau, jingga, oohh ada kuning juga.”

Kemudian gelap jatuh. Gantikan fungsi matahari yang terangi sepasang pupil cokelat khas. Bulir yang berkelip bukan bintang. Aku lirik sesekali. Lampu kendaraan bermotor yang masih berkeliaran, arungi jalan pulang.

Aku lihat dari atas. Dari balik kaca transparan. Dari atas sofa. Dari sekitar lilin aroma terapi di ujung jalan sebelum terbelah.

Berganti tatap. Bukan berganti perhatian. Ini tentang kerinduan yang ditahan beberapa saat. Ini tentang saksi hidup yang dipisah sekian panah. Ini tentang rasa yang diserap sambil menyesap. Ini tentang benang yang garisnya tak sanggup digambar. Ini tentang satu dengan yang lainnya.

Mengalir sembari bumi juga terus bergulir. Rasi bintang mungkin juga berputar. Sayang langit Jakarta terlalu keruh. Tapi toh tetap saja percuma. Aku hanya jatuh di satu titik. Jadi langit yang saksikan kami. Langit waktu itu jadi saksi.

Sama-sama mencari. Sama-sama masih tertatih dengan kaki masing-masing. Sejak saat itu tangan kami bertaut.

Atas izin Tuhan pula, ini semua terjadi. Ini bukan tentang pertemuan. Benci juga kalau harus bahas-bahas bagaimana kami terpisah. Ini bukan apa-apa. Tapi ini tentang sepasang radar di setiap kepala manusia. Ini tentang bagaimana bahasa lain yang sanggup dimengerti tanpa berucap. Ini tentang korelasi yang tak masuk akal. Ini tentang kegilaan bagi manusia terawam yang pernah ada. Ini tentang segala kekuatan melebihi nalar.

Filosofi hidup. Bagaimana semesta hingga bagian terdalam tubuh ini butuh keseimbangan.

Melantun anggun habiskan waktu yang tak pernah mundur barang sedetik.

Aku yakinkan satu hal. Segala yang mengalir adalah sebuah siklus yang melingkar. Kami satukan saat malam juga. Semoga saat itu langit juga saksikan. Kami coba satukan seluruh celah dalam diri. Tetap atas izin Tuhan juga.

Hingga matahari muncul sebagaimana mestinya. Terlalu pagi. Tapi ini bukan terlalu dini.

Tuhan paham apa yang terbaik untuk kami.

Amin.

  • inibudi says:

    bahagia bukan soal bahasa mata semata

    May 21, 2013 at 12:43 pm
  • Puspita says:

    Warna awan hijau tu yg kayak gmn yah?hihihi..

    May 21, 2013 at 9:17 pm
  • ayu emiliandini says:

    Puspita :

    Warna awan hijau tu yg kayak gmn yah?hihihi..

    mungkin itu awan berkelembaban tinggi yang dilewati sinar tampaknya matahari. jadi dari jauh memang terlihat seperti pelangi. warna ungu dan merahnya juga ada haahaha

    May 22, 2013 at 1:51 am
  • Mahmud says:

    Indah..
    Anggun..

    Setiap hal berotasi pada poros masing-masing, meski terkadang bersinggungan saling melengkapi dan berbagi.

    Semua karena kebijaksanaannya.
    Saya percaya semua yang Tuhan berikan, terbaik untuk kami.

    May 22, 2013 at 5:55 am
  • ayu emiliandini says:

    Mahmud :

    Indah..
    Anggun..
    Setiap hal berotasi pada poros masing-masing, meski terkadang bersinggungan saling melengkapi dan berbagi.
    Semua karena kebijaksanaannya.
    Saya percaya semua yang Tuhan berikan, terbaik untuk kami.

    Tuhan paham apa yang terbaik untuk kami. :)
    Amin…

    May 22, 2013 at 6:04 am
  • aswinyoga says:

    Nice … inspired ..

    May 22, 2013 at 9:26 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 5 * 3?