Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Epilog (Gerry)

Tak ada yang istimewah dari kamar seorang mahasiswa tingkat akhir. Hanya perkara ia calon sarjana teknik arsitektur, beberapa sudut ruangan dihiasi gulungan kertas. Berbagai ukuran. Walau sebagian sudah digulung rapih dan disimpan dalam kampsul hitam. Ini untuk yang kesekian kalinya Arya meminta maaf pada tamunya.

“Mas Gery, maaf kamar saya berantakan. Saya beresin dulu aja yah.”

“Santai aja, Ya. Toh mas juga datangnya tiba-tiba.”

“Yo wes kalo gitu. Mas, saya tinggal mandi dulu ya.”

Sebuah handuk menggantung di salah satu bahu dan menghilang dari balik pintu kamar mandi. Gery masih di tempatnya. Memperhatikan sekitar. Berbagai poster di dinding dan tumpukan buku di atas meja. Napaktilas pada masa-masa idealisme di bangku perkuliahan dulu.

Ada satu tumpukan majalah. Berbagai jenis potret bangunan menghiasi tiap-tiap sampul hingga lembar terakhir. Majalah arsitektur. Masih di atas meja, sepasang matanya jatuh pada satu titi berat. Bertahan di sana hingga satu tangan menggapai. Membawanya pada jarak pandang yang lebih dekat. Sebuah titik berat dimana hatinya tak pernah ada jawab. Pernah sekali ia sendiri yang meminta untuk dipertahankan, walau jelas-jelas yang ia lakukan tak lebih dari amarah. Ego yang masih meluap-luap. Hingga suatu pagi ia dapati sang pemilik harap lebih dulu meninggalkan jejak.

Dalam benaknya resah. Akankah ia benar-benar akan dipertahankan atau sekedari jadi pengisi kekosongan. Jika berasumsi tentang aji mumpung pengisi ruang kosong yang sesaat, Gery rasakan satu keyakinannya kembali tumbuh.

“Itu foto waktu saya presentasi kerja praktek di Bandung.”

Arya baru selesai dari aktifitasnya. Kaos di badan sudah berganti. Sepintas beberapa percikan air di bahu. Rambutnya masih basah. Handuk juga masih bergantung di salah satu bahu. Luapan bahagia sebisa mungkin ia tahan dalam tarikan nafas. Menarik dan menghembuskan dengan pura-pura teratur. Walau ratusan pertanyaan menghujani seisi kepala.

“Ini Pak Handy, beliau mentor saya di sana. Kalau yang cantik ini namanya Teteh Reanita, dia co-mentor saya, mas. Yah maklum, Pak Handy orangnya sibuk banget, jadi saya didampingi sama teteh ini.”

Sebuah nama yang sudah sekian lama tak menggetarkan pendengarannya. Batinnya terus berdoa, berharap Arya akan bercerita lebih banyak.

“Waktu itu Teh Rea lagi mengandung anak pertama. Saya gak tega sebenarnya mas, tapi saya akui dia wanita tangguh.”

Rea~~ ternyatanya kamu masih tetap sama seperti dulu.

“Ohya mas. Sebulan setelah masa kerja praktek saya selesai, teh Rea melahirkan bayi laki-laki. Sayang sekali, saya sudah pulang ke Malang.”

Seorang putra dari seorang wanita yang pernah ia genggam isi hatinya. Ada sayatan halus dari alunan cerita Arya. Gery hanya siasati dengan lengkung senyum seikhlas yang ia sanggup. Minimal ini jadi balutan pertama untuk luka lama.

“Dan kalo gak salah, nama bayinya sama kayak nama mas Gery. Geraldyansyah. Wah kebetulan banget yah, mas.”

Arya tak perhatikan perubahan ganjal dari raut wajah Gery. Ia sibuk dengan lembaran pakaian di dalam lemari.

Gery menanggalkan kepalsuannya. Kembali pada senyum dari balik bingkai foto dalam genggaman. Senyum yang ia rindukan. Pernah ia rasakan walau sesaat, senyum yang sama ia terima ketika masa-masa kekosongan berhasil ia isi. Jari telunjuk dari tangan yang lain seolah-olah membelai wajah tersenyum. Berhenti tepat pada sebuah jawaban. Jawaban dari keresahan yang ia tahan sekian lama. Aku sudah menyangka, kamu tidak sedang benar-benar memilih, Re.

Sebuah bintang kecil berkilau. Menggantung di leher jenjang. Melengkapi kesempurnaan lengkung senyum yang amat ia rindukan. Bintang kecil di malam ulang tahun Rea. Bersama kebekuan Kota Batu.

“Mas Gery kenal Teh Rea? Dari tadi ngeliatin foto itu terus.”

Sepasang daun pintu lemari masih terbuka lebar, namun Arya telah temukan keganjalan dari reaksi Gery.

“Ya, aku kenal dia.”

Category: Cerita Rea
  • Anjani Ambarini says:

    Aku ga baca yang Kemaren” yu. Tapi suka banget ih yang bagian ini. Pasti si gary itu kaya selingkuhan yang amat dicintai tapi ga bisa dipilih karena ya cuma selingkuhan. Gituya?

    August 3, 2013 at 8:47 am
  • ayu emiliandini says:

    Anjani Ambarini :

    Aku ga baca yang Kemaren” yu. Tapi suka banget ih yang bagian ini. Pasti si gary itu kaya selingkuhan yang amat dicintai tapi ga bisa dipilih karena ya cuma selingkuhan. Gituya?

    hahaha garis besarnya gitu lah… makasih udah baca yah Mbar… saking panjangnya ni cerita, sampe gw jadiin epilog aja biar beres ahhaha

    August 3, 2013 at 8:21 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 6 plus 7?