Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Epilog (Rea)

Mulutnya mungil. Setiap kali menguap, jutaan pasang mata akan setuju dengan melengkungkan senyum. Hidungnya mungil. Menghirup alunan doa yang terpanjat atas kehadirannya di dunia. Sepasang bola mata terbungkus rapat. Kelopak matanya masih melekat.

Malaikatku sayang.

Segala yang ada padamu adalah indah.

Beberapa menit lalu aku memelukmu lembut. Membelai dan menghirup aroma tubuhmu. Ketika seorang suster membawamu kembali, aku enggan memanjakan tubuhku diatas tempat tidur. Masih nyeri. Berjalan pun tertatih. Aku tak perduli.

Masih dengan suster yang sama. Tersenyum padaku saat akan menidurkanmu di ranjang bayi. Aku balas senyumnya dari jendela kaca. Dan penglihatanku kembali jatuh padamu.

Indahnya dirimu. Seindah dia yang pernah berikan warna berbeda, dengan cara berbeda. Seindah dia yang pernah berjanji tentang sebuah keberadaan. Di tempat yang akan selalu bisa kutemukan. Walau sempat kutinggalkan bekas cabik saat akan pergi untuk meninggalkan. Karena perkara pilihan hidup. Dengan siapa aku akan hidup. Bukan siapa yang hidup bersama penghuni hati. Hatiku.

Inikah sumpahmu? Tempat yang selalu bisa kujangkau. Tempat yang selalu mudah untuk ditemukan. Kamu bersarang dalam ingatan. Kamu berbekas dalam sejarahku.

Derap langkah bertalu hingga setengah mengendap. Satu lengan Jordan meraih tubuhku. Menopang setengah berat tubuhku.

“Aku panik waktu suster bilang kamu gak ada di kamar, Re. Ternyata kamu disini.”

Jordan. Satu pihak yang kupertahankan dalam bentuk fisik. Setengah batinku?

Aku meraih tubuhnya. Membenamkan diri pada sepasang lengannya. Jas putih kedokterannya dan stethoscope yang selalu menggantung di leher. Bahkan sebelum meraihku, telah ia tanggalkan lebih dulu. Agar aku lebih leluasa dengan peluknya. Walau sesunggahnya aku tak benar-benar memilih saat ia berlutut dan sebuah cicin berkilau mengarah padaku.

“Aku sudah temukan satu nama untuknya.”

Aku melirik. Jordan membelai malaikat kecil kami dari balik lensa kacamata tak berbingkai. Kalimat pertamaku berakhir, senyum kebahagiaan terbit di wajahnya.

“Aku ingin ia mewarisi keteguhan dan kekuatanmu, Re.”

Bergulir sejenak, membalas tatapanku. Masih tersenyum saat sorot mata kami bertemu.

“Dan mewarisi ketampananku, pastinya.”

Tawa ringannya menyeruak, menggelitik tenggorokanku untuk ikut terkekeh bersama.

Jauh di balik jendela kaca, dalam ruang bayi, malaikat kecilku sudah tertidur pulas. Lensa mataku berakomodasi penuh. Menggapai refleksi objek yang berkilau di leher ku. Bintang mungil. Saksi bisu atas segala perjalanan hidupku. Saksi bisu atas bisikan hati yang pernah gemuruh oleh sang pemilik setengah batinku.

Gery, aku ingin malaikatku memiliki keindahan yang sama sepertimu.

Ya, malaikat kecilku. Febrio Geraldiansyah Pratama.

selesai

Category: Cerita Rea
  • rahmat W says:

    Setelah sekian lama akhirnya selesai juga cerita rea, Congratz ya

    August 3, 2013 at 8:30 am
  • ayu emiliandini says:

    rahmat W :

    Setelah sekian lama akhirnya selesai juga cerita rea, Congratz ya

    lebih tepatnya ini dibereskan saja lah hahahhaa

    August 3, 2013 at 8:32 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What color is a typical spring leaf?