Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Original Chocolate & Vanilla Latte

Salah satu keunggulan waktu yang tak tertandingi. Ketika ia menari dalam setiap hebusan nafas dan tak pernah kembali walau telah dihirup sekuat tenaga. Semakin sialan ketika sebuah pepatah menciptakan istilah time goes so fast.

Kelembaban udara jadi saksi utama. Mengarungi sistem pernafasan dalam sekali hirup. Ada hangat yang menekan penguapan keringat dari pori-pori kulit. Ada beku saat bulir airnya mengendap di dinding paru-paru. Saraf lidah hanya mengecap manisnya original chocolate with raspberry flavor. Lawan bicara memilih manisnya vanilla latte. Masih kurang manis, sugar brown bantu penuhi kebutuhannya. Kemudian terlontar kekhawatiran tentang bawaan penyakit yang tak semanis gula. Ketika tua nanti. Melantunlah teori kecepatan metabolisme tubuh yang tak berbanding lurus dengan pertambahan usia. Kerenyahan tawa saat kami dapati tubuh ini memiliki kecepatan tersebut, mungkin di atas normal. Tak banyak lemak di balik kulit. Ia menyayangkan tubuhku yang terlewat kurus.

Bayangkan sebuah percakapan yang berburu dengan waktu. Angka digital arlogi merahnya berkali-kali dilirik. Setiap menit. Setiap angkanya bergulir jadi bilangan yang lebih besar. Aku hanya menyayangkan malam. Ini satu-satunya bagian dari waktu yang harus berbagi dengan kebutuhan biologis. Mulai dari melepas lelah atau jadi ruang tertentu bagi sel-sel tubuh meregenerasi dirinya sendiri. Jadilah malam ini singkat.

Ternyata waktu tak bergulir sendiri. Ia didampingi kuasa atas hidup setiap umat manusia. Bersama berbagai jenis tekanan. Sebuah tenaga tak kasat mata yang disebut-sebut sebagai cara Tuhan perkenalkan seni hidup. Bahwa sesungguhnya hanya satu hal yang tak pernah lekang dalam langkah dan nafas manusia. Waktu perkenalkan dia sebagai perubahan.

Mungkin hanya chocolate dan vanilla yang tak pernah bergeser dari masalah rasa. Dari masa ke masa ia akan tetap demikian adanya. Menjadi sumber pikiran-pikiran filosofis para manusia yang melihat dari sudut pandang ekstrim. Ketika makhluk lain berkutat dengan rutinitas, maka ia tak akan pernah bosan terperangah atas perubahan kecil detail semesta.

Satu titik dihadapan gelas original chocolateku adalah bagian dari semesta. Aku pun. Seimbanglah dunia dengan perubahan yang didampingi dengan meluasnya jaringan otak. Mendewasakan raga yang jadi alat geraknya. Yah itu dia, atas dasar waktu yang perkenalkan kuasa hidup manusia. Perubahan itu sendiri.

Jadilah malam singkat, gerah, gelap, dan kemeja flannel, dan bingkai kacamata, dan dua gelas plastik, dan ungu-merah arlogi, dan terus berceloteh sambil mendengar satu sama lain. Andai waktu bersahabat dengan malam. Walau sejatinya waktu telah menari bersama dengan perubahan warna langit. Sayang kotaku sepadat ibu kota di seberang pulau sana. Bintangnya beradu terang dengan kemilau lampu kota.

Serpihan kecil dari potongan ingatan di kepalaku, berkilau bersama radar Neptunus.

Waktu bersahabat dengan jaringan dalam otak manusia?

Satu kesimpulan singkat. Lidahku setuju dengan beberapa inderaku. Bedebah pada siklus dalam sistem organ tubuh. Malam itu manis. Lidahku setuju dengan chocolate dan vanilla. Semoga waktu mengamininya.

amin…

 

Original Chocolate & Vanilla Latte Part 2

    Pingback/Trackback

    Kaca Mata Saya » Blog Archive » Original Chocolate & Vanilla Latte #2

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What color is the sky on a sunny day?