Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Original Chocolate & Vanilla Latte #2

Entah waktu telah mengamini doanya atau justru lupa. Yang jelas, ia selalu menyesap segelas Original Chocolate setiap saat. Siang bolong, kemarau, malam buta, musim hujan. Dimana ia haus dan ingin bermain-main dengan serpihan masa lalu, mengecap cokelat di lidah jadi pelarian.

Bulir embun di permukaan gelas meluncur turun. Bergabung dengan yang lain di kaki gelas. Ketika ia hendak menyesap cokelat dingin, akan tertinggal pola melingkar di atas meja.

Ia menegak pelan sambil bertanya pada siapa saja yang sanggup mendengarnya membatin. Bagaimana kabarnya? Bahagiakah disana? Pertanyaan kedua jadi boomerang yang menghantam balik. Bahagiakah aku disini? Ia angkat lagi gelasnya, menegak habis seluruh cokelat hingga giginya mengigil. Jelas-jelas malam ini dingin.

Dulu ia bisa pesan dan tegak cokelat dingin tanpa ragu. Sambil tertawa dan bercerita banyak hal. Ia berada di dalam kehangatan sepasang teman lama yang dulu pernah mengukir cerita. Melekat sempurna dalam ingatan, lawan bicaranya menegak Vanilla Latte dan sugar brown yang dibubuhkan hingga habis empat bungkus. Bersama kelembabangan udara tertinggi yang sanggup memeluk hangat kapan saja. Bahkan serpihan es batu yang ikut tertelan jadi terasa sejuk di rongga dada.

Sesungguhnya ia merindukan setiap detik di malam perpisahan waktu itu. Yang bisa ia lakukan hanya mengulang. Pergi ke kedai kopi dengan nama yang sama, kedai cabang. Memesan jenis minuman yang sama. Sebisa mungkin memilih meja kursi yang ditempatkan di sudut yang sama.

Namun tetap saja tak sepenuhnya mengulang. Ia datang sendiri. Di hadapan gelasnya kosong. Tak ada segelas Vanilla Latte dan beberapa bungkus sugar brown yang sudah sobek bagian ujungnya. Tak ada percakapan. Tak ada hangat.

Yang ada hanya hangat dari jaket tebal membalut tubuh kurusnya. Masih kurus akibat kecepatan metabolisme tubuh diatas manusia normal.

Betapa usahanya setengah sia-sia. Dinginnya kota pegunungan menusuk pernapasan hingga paru-paru. Belum lagi serpihan es batu menyulap rongga dada jadi perih dan ngilu.

Tak akan ia betindak sedemikian bodohnya hanya karena rindu. Ketika cokelat merindukan sang vanilla.

Original Chocolate & Vanilla Latte Part 1

Original Chocolate & Vanilla Latte Part 3

    Pingback/Trackback

    Kaca Mata Saya » Blog Archive » Original Chocolate & Vanilla Late #3

    Pingback/Trackback

    Kaca Mata Saya » Blog Archive » Original Chocolate & Vanilla Latte

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What color is the sky on a sunny day?