Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Original Chocolate & Vanilla Late #3

Pada kenyataannya, ia masih terus berdoa. Tetap mendamba dalam harap. Tentang hangat yang membekas. Disamping negara sub-tropis tempatnya bernaung memang punya hawa menusuk hingga belulang, maka rindunya ikut mengeras. Bahkan sudah mengkristal.

Sebuah kabar mengejutkan datang dari sang pemilik rindu, Bryan. Kehangatan vanilla latte semanis empat bungkus sugar brown. Tak benar-benar datang untuk menyusul keberadaannya. Apapun urusan yang mengantarkan Bryan, bagi Amy itu merupakan sebuah anugerah.

Saat menatap kalender. Ia berhitung. Ia punya waktu sepekan sebelum hari itu benar-benar hadir. Ia harus bersiap-siap agar “hari pengulangan” dapat berputar sesuai dengan harapannya.

Amy memulai persiapan dari segenggam tanah liat. Ia balur pelan-pelan dengan sponge basah. Berputar bersama meja putar dan sepasang tangan kurusnya membentuk sebuah wadah. Ia membayangkan salah satu tangan Bryan akan menghangatkan gagang gelas, menyeruak masuk ke dalam vanilla latte dan bergaung mengitari penjuru ruangan bersama tawa ringan. Amy membuat sepasang mug.

Esok pagi-pagi sekali ia kembali berhambur ke dalam studio. Menghampiri tungku pembakaran. Semalaman ia tak sanggup tidur nyenyak. Sibuk membayangkan bagaimana bentuk mug setelah kering. Apakah retak? Atau terdapat cacat di beberapa bagian? Setelah pintu tunggu dibuka dan hawa panas menghantam seluruh tubuh bagian depan, Amy tersenyum lega. Sepasang mug mengering dengan sempurna. Sama-sama cokelat kemerahan. Merah bata.

Sesuai dengan bayang-bayang dalam angan. Putih untuk vanilla dan cokelat manis untuk dirinya, original chocolate.

Potongan kertas dari destroy machine memberikan ruang kepada sepasang putih dan cokelat. Agar nyaman di dalam kotak.

Dalam perjalanan, Amy tak sekedar memangku. Sesekali ia membuka tutup kotak, menatap lekat kemudian ia tutup lagi dan berkhayal. Segala yang hangat. Segala yang manis. Walau sesungguhnya ia masih menunggu. Taxi masih meluncur di jalan kota. Tapi Amy terlanjur bahagia.

Bulir hujan menghantam atap taxi. Kemudian mengguyur kota. Terbayang dinginnya udara luar. Namun Amy masih tersenyum simpul. Ia tak membeku karenanya.

Taxi berhenti di lampu merah. Hujan semakin lebat. Amy bergulir ke luar jendela. Menelurusi orang-orang yang berlarian atau berjalan cepat dibawah payung. Ia dapati sepasang dari orang-orang itu memasuki sebuah kedai kopi dengan penerangan hangat. Sepasang matanya membulat.

Bryan?

Sepasang bola matanya bergulir pada seorang wanita setengah kuyup.

Siapa dia?

Sekilas Amy melihat mereka saling tertawa. Hanya sekilas. Taxi bergerak, membawanya menjauh.

Sebuah kotak berisi sepasang mug di pangkuan, jadi lebih berat. Menindih tubuhnya yang mulai membeku. Dinginnya hujan meresap dari jendela. Menyapa dengan keram di penjuru saraf. Kemudian lumpuh. Tak ada yang melayang-layang dalam kepala. Tak ada bayang atau sekedar serpihan ingatan. Tidak ada. Hanya gemuruh rinai hujan yang menggema hingga memekakkan telinga.

Waktu enggan mengamini doaku selama ini?

***

Langkah terhenti. Ada sebuah kotak di depan pintu. Ia membungkuk. Kepalanya berputar-putar, barang kali sang pengirim paket masih berada di sekitar vila yang ia sewa. Tak ada siapapun. Beberapa bagian basah dan selebihnya lembab. Sedangkan hujan sudah lama reda. Kotak ini sudah lama diam di teras.

Dibawah penerangan ia buka kotaknya. Banyak potongan kertas. Setelah terbuka sepenuhnya, baru ia temukan sebuah gelas. Putih polos. Tak ada pola apapun. Bryan melihat lebih dekat. Ternyata bukan putih, tapi putih gading. Ia tak mengerti. Aku gak pernah pesan gelas keramik.

Memandang ke sekeliling badan gelas dirasa percuma. Tak ada petunjuk apapun. Setengah putus asa, ia tinggalkan gelas diam sendiri di atas meja. Baru akan beranjak, Bryan sadar. Ia melewatkan satu bagian.

Original Chocolate and Vanilla Latte

Deret huruf mungil di dasar gelas. Dahinya berkerut. Berjalan mundur sejenak pada beberapa bulan ke belakang. Enam bulan ke belakang. Amy?

Original Chocolate & Vanilla Latte Part 2

Original Chocolate & Vanilla Latte Part 4

  • Abdi says:

    Setidaknya mug itu masih multifungsi, Bryan tertarik menyeduh secangkir kopi O malam ini. Beberapa naskah masih ingin ia kunjungi sementara Vanilla sudah terlelap dalam angan.

    October 1, 2013 at 11:30 am
  • Hermawan Santoso says:

    Musik nya bikin kaget mba,tau-tau nyala, haha, keren postingannya

    October 1, 2013 at 2:05 pm
  • aswinyoga says:

    wih soundtracknya pas banget buat baca tulisan ini :-p

    October 1, 2013 at 7:48 pm
  • Pingback/Trackback

    Kaca Mata Saya » Blog Archive » Original Chocolate & Vanilla Latte #2

  • fina ladiba says:

    GYAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH. Sedih :'(

    October 2, 2013 at 6:19 am
  • Pingback/Trackback

    Kaca Mata Saya » Blog Archive » Original Chocolate & Vanilla Late #4

  • abdimasa says:

    ayu emiliandini :

    Abdi :
    Setidaknya mug itu masih multifungsi, Bryan tertarik menyeduh secangkir kopi O malam ini. Beberapa naskah masih ingin ia kunjungi sementara Vanilla sudah terlelap dalam angan.

    haahaha… kopi O apaan sih bang? kesuakaan ente?

    Kopi O itu seperti kopi hitam pada umumnya, tapi lebih nikmat kalo pahitnya terasa, apalagi kalo ada Djarum Super, bener-bener super dah :D

    October 3, 2013 at 8:20 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What do bees make?