Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Original Chocolate & Vanilla Late #4

Selesai sudah urusan barang. Satu tarikan ringan, risleting koper tertutup rapat. Bryan menghampiri meja. Sebuah amplop ia gapai. Bersandar di tepi tempat tidur sambil mengeja deret angka di dalamnya. Memastikan ia tidak salah baca tanggal dan jam keberangkatan. Hitungan detik, lipatan kertas kembali masuk ke dalam amplop.

Melihat sekitar kamar. Tidak ada lagi barang tertinggal.

Bangkit dari sisi tempat tidur. Mengembalikan amplop di tempat semula dan berlalu. Ingin minum sesuatu di dapur.

Membuka kulkas. Mengambut sebotol air mineral dingin dan menegak hingga raib setengah botol. Satu punggung tangannya nyeka sudut bibir yang basah. Satu tangan lain menutup pintu kulkas. Saat tubuhnya bergulir dan berhenti di depan mini bar, hilang dahaganya.

Masih ada yang tertinggal. Belum masuk ke dalam koper. Dalam diam ia coba menafsirkan kehadiran si kado kecil di depan teras semalam. Tentang Amy. Celoteh riang Amy tentang teori metabolism tubuh sebagai akti protes ketika Bryan mengaduk empat bungkus sugar brown dalam vanilla latte yang tinggal setengah gelas. Setelah sekian lama tenggelam dalam orbit hidum masing-masing. Ketika bertemu lagi, Amy berubah cukup banyak. Wawasannya lebih luas, jadi pionir setiap tema percakapan malam itu. Malam singkat. Seolah-olah tak ada malam lain setelahnya.

Sepasang mata mendapati empat digit angka dalam arlogi merah. Sore sudah tiba. Kemudian bergulir sambil mendekati si putih gading polos tak berpola. Baru akan bertemu dengan gagang mug, gemuruh mengejutkan datang dari semesta. Gumpalan awan gelap menenggelamkan sore yang seharusnya hangat. Kembali melirik arlogi. Dua titik pemisah angka menit dan jam terus berkedip.

***

Kosong. Dari kepala hingga rongga dada. Seisi khayal yang ia bangun sembari berharap dalam doa, kehangatan luar-dalam yang ia damba-dambakan, dan “hari pengulangan” selama sepekan telah ia susun sedemikian rupa. Ikut meluruh bersama hujan senja itu. Sisa dingin yang tertinggal, betah bersarang di sela-sela saraf. Amy membeku di tengah remang studio keramik miliknya.

Padahal aroma hot chocolate sudah menyapa. Genangan cokelat hangat di dalam si cokelat manis. Si manis yang ia sandingkan bersama pasangan putihnya di dalam kotak penuh potongan kertas.

Sesampai di teras, seluruh rencana berubah. Hilang sudah alasan Amy untuk terus berusaha mewujudkan kerinduannya. Amy mengangkat mug cokelat dari dalam kotak. Biarkan si putih gading diam sendiri hingga—mungkin Bryan sendiri yang akan menyambutnya dari dalam kotak.

Entah apa yang ia butuhkan saat ini.

Lagi-lagi derai hujan di luar sana. Sebagian angin menabrak jendela kaca raksasa di hadapannya. Yang bisa ia simpulkan. Kali ini hujan datang lagi. Satu kesimpulan yang membawanya kembali pada taraf normal. Dimana Amy akhirnya dapat melihat lagi potongan kisah, mengendap-endap masuk ke dalam kepala. Dari hujan, ada taxi. Kotak berisi sepasang mug dipangku sambil dipeluk longgar. Lalu taxi berhenti. Kepalanya bergulir. Ada bulir hujan, orang-orang berlarian di bawah rinai hujan. Sebuah kedai kopi berpenerangan hangat dan—.

Berhenti sampai disana.

Lalu kembali kosong. Baginya, waktu telah berkeputusan. Oleh sebab itu, “hari pengulangan”  enggan terjadi.

Original Chocolate & Vanilla Latte Part 3

Original Chocolate & Vanilla Latte Part 5

    Pingback/Trackback

    Kaca Mata Saya » Blog Archive » Original Chocolate & Vanilla Late #3

    Pingback/Trackback

    Kaca Mata Saya » Blog Archive » Original Chocolate & Vanilla Late #5

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 8 in addition to 5?