Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Original Chocolate & Vanilla Late #5

Bekas hujan semalam. Amy merapat kerah jaket tebal yang menyilang di dada. Sambil terus berjalan, ia longgarkan tali yang mengikat di pinggang. Menyimpul jaket serapat yang ia inginkan dan diikat lagi. Pagi ini nyaris beku. Perpaduan canggung antara musim gugur berangin musim dingin dan sisa hujan besar semalam. Gumpalan daun basah di tanah juga sudah pasti ulah alam semalam.

Amy tetap mengayuh langkahnya. Ada lilitan syal tebal sewarna salju bertemu susu yang menghangatkan leher hingga dada. Jadi ia bebas menghirup dan membuang kepulan uap nafas dengan leluasa. Udara dingin nan menusuk akan meleleh lebih dulu sebelum sampai paru-paru.

Malam penuh sesak berhasil ia lalui. Padahal cintanya kandas. Doa dan harapannya lepas dari genggaman. Sang raja waktu seolah enggan menilik dirinya barang sedetik. Justru bersyukur pada kosong yang masih melanda di sekujur tengkorak hingga ulu hati. Dalam doa pagi, Amy mengucap amin. Berterimakasih pada pengganti “hari pengulangan” yang tak berdampak psikologis. Amy tidak sakit hati karena kini tubuhnya adalah kekosongan semata.

Maka ia membuka mata. Menyambut baju-baju hangatnya, membuka pintu dan menyapa pagi. Berjalanpun langkahnya mantap. Bukan lunglai atau gontai seperti kalah dengan hembusan angin musim dingin di musim gugur.

Amy mencapai titik normalnya.

Salah satu tangan menyambut kunci dari dalam kantung. Sambil membuka pengunci pintu, ia temukan daun kuning-cokelat di sekitar teras. Sebagian bilasan air hujan masih tersisa. Berkilau layaknya lem transparan yang merekatkan dedaunan jadi penghias teras studio keramiknya. Amy justru tertarik pada sumber kemilau. Matahari berusaha cerah dibalik awan abu-abu tipis dan merata. Secerah pagi yang ia panjatkan dalam doa.

Pintu terbuka. Melangkah masuk. Berhambur ke penjuru ruangan. Mendapati secangkir cokelat beku, masih utuh di bingkai jendela. Semalam ia adalah cokelat panas yang hanya Amy genggam dan hirup aromanya. Dipikir dapat mengusir kekosongan yang belum ia kenali dan syukuri.

Tangan kecilnya menyambut. Benar saja, gelas cokelatnya sudah sedingin es. Amy bawa mendekat di kitchen sink. Membuka kran air. Sponge penuh busa ia usap ke seluruh sudut. Kini gelasnya sudah bersih lagi.

Setelah itu Amy membiarkan dirinya larut dalam keseharian normal, jauh sebelum ia memikirkan masalah “hari pengulangan”. Mengeja isi memo baik-baik, kemudian berlalu menghampiri tungku pembakaran. Mengeluarkan belasan cangkir berukuran mungil dan beberapa mangkuk dangkal berdiameter lebar. Semua itu adalah pesanan yang datang padanya.

Bagaimana dengan Bryan?

Jika ada yang bertanya, maka Amy akan menjawab lirih, “Mungkin dia bahagia, selebihnya aku tidak tahu.”

***

Ia berkali-kali memastikan kemana langkahnya bergulir. Ransel digendong sebelah bahu. Tangan yang lain menggenggam secarik kertas. Kertas yang dirobek asal dari tengah buku. Kemudian langkahnya terhenti di depan rumah mungil berbahan serba kayu. Lantai, dinding hingga atap. Kayu tanpa cat dengan potongan setiap tiang yang sempurna. Dan pintu yang setengah terbuka.

Dari celah pintu baru ia sadari, bangunan kayu ini bukan rumah. Banyak rak kayu berisi gelas, mangkuk dan piring berbagai ukuran. Ada yang sudah berwarna, selebihnya masih cokelat kemerahan. Aroma hangat menyeruak dari dalam rumah.

Ia buka pintu pelan-pelan agar tubuh jangkuknya dapat masuk tanpa suara. Langkah juga mengendap-endap agar wanita mungil di dalam sana tak terperanjat dengan kehadirannya. Potongan kertas ia lipat cepat dan diselipkan ke dalam kantung kemeja flannel. Tangan yang sama membuka risleting ransel. Menyambut sebuah termos.

Dari ruangan penuh rak kini ia hampir memasuki satu ruangan lagi. Isinya lebih rapih. Ada meja dan beberapa kursi di sisi jendela berjaca raksasa. Sisanya tiga baris meja panjang berikut dengan kursinya. Mungkin wanita mungil ini juga membuka kursus membuat keramik.

Nampak pemilik rumah hangat ini sedang merapihkan sisa tanah liat kering yang mengotori meja kursusnya. Sedangkan ia tertanam di ambang pintu. Ia lupa menyusun kalimat sapa. Pikirnya ingin mampir sebelum keberangkatannya ke tanah air.

***

Salahnya. Sepekan berkutat dengan harapan yang enggan datang padanya. Amy baru ingat meja kursusnya masih berantakan. Anak-anak kecil usia 7-10 tahun memang mengundang tawa ketika mereka pilih membentuk dinosaurus atau jenis bunga-bungaan pada gumpalan tanah liat. Jika ada yang usil, tanah liat jadi berubah fungsi sebagai alat rias wajah. Mencolek pipi teman di sampingnya dan kejar-kejaran. Amy mendapat kunjungan para murid elementary school yang ingin belajar tentang asal-usul gelas dan piring yang biasa mereka temui rumah mereka.

Hidungnya mendapati sesuatu. Bukan aroma tanah liat terbakar atau cat pewarna keramik. Seingatnya ia telah mencuci bersih mug cokelat berisi cairan cokelat beku.

Amy menghentikan kegiatannya. Mengikuti arah aroma ini datang. Dari belakang tubuhnya.

Harusnya jantung di balik lilitan syal berdegub kencang atau justru mencelat di saat yang sama. Kekosongan dalam tubuhnya menenangkan seluruh organ. Paru-paru masih tetap mengembang dan mengempis, normal. Seseorang yang sempat ia idam-idamkan dapat ia temui di “hari pengulangan” namun nyatanya meluruh bersama hujan malam itu. Saat ia tak banyak bertindak karena terperangkap di dalam taxi.

Bryan di hadapannya. Tubuh menjulang tinggi seperti biasa. Kemeja flannel super tebal senada dedaunan khas musim gugur, agak sedikit gelap. Ransel di bahu kirinya terbuka lebar dan uap mengepul dari dalam termos di tangannya. Jadi dari situ asal aromanya.

Lengkung senyum familiar menghampiri Amy.

“Selamat pagi.”

Amy mengikuti. Walau sesungguhnya tak ada yang menggelitik dari rongga dada yang memancing kinerja saraf wajahnya. Amy ingin melakukannya dan tersenyumlah dia. Mengembang, melebar jadi tawah renyah yang memancing tawa dari pria di hadapannya.

Dengan nafas yang sangat tenang, Amy menjawab.

“Selamat pagi, Bryan.”

Original Chocolate & Vanilla Late #4

Original Chocolate & Vanilla Late #6

    Pingback/Trackback

    Kaca Mata Saya » Blog Archive » Original Chocolate & Vanilla Latte #6

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 9 multiplied by 9?