Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Original Chocolate & Vanilla Latte #6

Aku melihatmu lagi, Bryan. Tubuhmu segar bugar. Senyummu merekah saat berucap selamat pagi untukku. Kacamatamu masih sama. Bingkai hitam tipis dan merah di bagian gagangnya. Arlogimu masih dengan warna yang sama, merah agak pudar. Rambutmu sedikit lebih panjang. Suaramu masih sama. Khas tenor. Sekarang aku tahu, kabarmu saat ini sangat baik.

***

Aku tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu disini. Menerima kado kecil yang ternyata kamu buat sendiri. Inikah kamu yang sesungguhnya? Disinikah duniamu berada? Aku pikir, aku yang meninggalkanmu, ternyata kamu yang telah beredar hingga sejauh ini. Andai aku tidak melepasmu waktu itu, Amy. Sekarang pun sudah terlambat.

***

Saling bertanya kabar dan menghabiskan kalimat dengan senyum simpul atau menyeruput cokelat panas di gelas masing-masing. Bryan sengaja datang dengan bekal termos berisi cokelat panas yang ia buat sendiri. Bermodal resep dari internet dan bahan praktis dari mini market dekat vila. Amy tak akan pernah setuju dengan kopi atau vanilla, tapi ia tidak akan menolak cokelat. Panas atau dingin.

Bryan perhatikan Amy menghirup aroma cokelat yang mengepul dari mugnya. Memperlihatkan senyum simpul, tiupan kecil di permukaan cokelat untuk mengusir uap dan mulai menyeruput. Bryan menantikan pendapat Amy tentang cokelat buatannya.

“Bagaimana?”

Amy menatapnya namun bibir mungilnya masih mengatup. Nampak masih mengecap sisa cokelat dalam-dalam. Dan senyum simpul terbit lagi.

“Manisnya?” Bryan masih penasaran.

“Enak, manisnya pas.”

Giliran senyum Bryan yang mengembang. Satu tangannya merogoh kantong ransel. Empat bungkus sugar brown dalam genggamannya. Satu per satu di sobek dan dituang ke dalam gelas putih gading. Sambil terus mengaduk, Bryan berceloteh tentang perbedaan rasa antara sugar brown di sini dengan yang ada di Indonesia. Katanya sugar brown di tanah air jauh lebih enak.

Amy mengamati. Bagaimana jemari Bryan menggennggam gagang mug. Tangan yang lain mengaduk cokelat dengan sendok teh. Dan Amy berhenti di sana. Dimana kilau keperakan melingkari salah satu jemari Bryan. Sepintas potongan memori tentang malam dan hujan. Ketika ia temukan Bryan sangat bahagia sedangkan ia tertanam di dalam taxi yang baru akan melaju. Di dalam kedai kopi berpencahayaan hangat sedangkan ia membeku bersama hawa hujan yang meresap dari kaca jendela.

Aku mengerti, urusan apa yang membawamu terbang hingga sejauh ini.

Membatin tentang wanita di sisi Bryan waktu itu. Walau sesungguhnya tak sanggup berkhayal apa-apa. Amy masih kosong.

Bryan menyadari keheningam Amy, maka ia mulai dengan topik pembicaraan baru. Bahwa besok ia akan kembali ke tanah air, oleh sebab itu ia datang menghampiri Amy. Wanita mungil di hadapannya kembali tersenyum dan menyesap lagi cokelat mengepul dari gelas yang senada dengan isinya.

Saat mengulum cokelat dalam mulutnya, Amy kembali memanjatkan doa singkat. Permintaan maaf. Ia lupa akan keunggulan waktu yang tak akan pernah berjalan mundur walau dihirup dengan sekuat tenaga. Ditambah lagi permintaan keras kepala Amy tentang “hari pengulangan” demi kepuasan batinnya.

Inilah jawaban sesungguhnya. Pertemuan kembali terjalin dengan ciri khas waktu, perubahan. Tidak dalam pelukan udara lembab yang menghangatkan rongga dada, justru kebekuan menusuk sisa hujan semalam dengan angin musim gugur. Bukan original chocolate dan vanilla latte yang berdiri berdampingan di atas meja, melainkan dua gelas cokelat panas. Empat bungkus sugar brown yang berbeda rasa. Dan cincin perak di jemari Bryan.

Waktu telah mengamini doanya selama ini. Hanya wujud doanya yang tak sesuai harapannya. Tapi toh Amy tak dikuasai emosi apapun. Dirinya masih kosong dari dalam tengkorak hingga ulu hati. Apapun yang ia rasakan, setiap hela nafas adalah syukur yang tak berkesudahan.

***

Bahagiakah kamu? Aku rasa kamu sedang berbahagia saat ini, Bryan. Bahagiakah aku? Melihatmu bahagia adalah kebahagiaanku.

Biarkan gelas vanilla mendampingi hari-hari bahagiamu. Aku bahagia bersama cokelat manisku disini.

selesai

Original Chocolate & Vanilla Latte #5

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 4 + 8?