Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Firasat #2

Sepasang bola mata pantulkan warna cokelat terang. Itu terjadi setiap kali sinar matahari tepat jatuh di sana. Lekuk wajah tegas. Tulang pipi setegas sudut rahang. Wajahnya tirus. Sejauh ingatannya melayang, Ia bahkan jauh lebih tirus. Cokelat masih terang namun sepasang pelupuk lelah berkedip pelan. Sangat lemah dan ~~ sekarat.

Keysa terpaku di tempatnya. Belum beranjak dari ambang pintu. Terpana atas segala yang ia dapati.

Satu set tempat tidur hingga selimut sudah gambarkan kelemahan atas dirinya yang terbaring di sana. Ada selang infus menjuntai. Berhenti di permukaan punggung tangan. Meratapi jendela kaca raksasa. Sesekali meredam kedua bola mata. Seolah coba resapi sinar matahari yang menembus kaca hingga hujani wajahnya.

Keysa belum kuasa bergerak mendekat.

Kemudian sepasang matanya terbuka. Abaikan jendela kaca. Bergulir dan temukan Keysa dengan segenap tenaga yang tersisa.

“Iki…”

Langkah cepat hampiri sosok lemah dalam balutan selimut. Lelaki ini lengkungkan senyum simpul. Sambut kedua tangan Keysa yang merengkuh satu tangan tanpa selang infus. Jauh dalam ingatannya, tubuh ini menyusut.

“Key. Kamu datang?”

Semakin lekat wanita selembut sinar matahari sore membelai tiap sudut tangan kurus dalam genggaman. Kemudian jatuhkan pandangan pada wajah Iki. Kepada suaranya yang sudah terlewat parau. Susah payah bersuara untuk Keysa. Ia tahu wanita ini telah arungi banyak waktu untuk hadir demi dirinya.

“Pasti. Aku pasti datang, Iki. Pasti…”

Selanjutnya hanya pertemuan sepasang mata dalam diam. Ada keberadaan nyata. Walau demikian gelisah tetap ada. Wanita ini hanya coba menerka.

“Oh. Aku bantu kamu rasakan hangatnya matahari pagi ini.”

Bangkit dari sisi tempat tidur. Ada satu bagian jendela yang bisa dibuka.

Ternyata alam cepat berubah. Awan abu-abu gelap menggumpal. Menggantung dan halangi mahatari, entah bersembunyi dimana. Kemudian desir angin mengantam seluruh wajah Keysa. Menghantam uluh hati. Tubuh mungilnya tersentak.

Firasat datang bersama gejala alam. Nuraninya berbisik. Tapi tak ingin mendengar apa pun. Seluruh sel di dalam tubuhnya coba nyatakan. Ia tak ingin menyimak. Perseteruan terjalin. Ini untuk yang pertama dalam hidupnya. Gejolak yang sama mulai ingin meronta. Keinginan diri terdalam untuk didengar. Keysa hanya atur nafasnya sedemikian rupa. Sambil kuatkan sepasang tungkai gemetar. Kapan saja bisa ambruk.

Di balik tubuhnya ada Iki dengan segenap tenaga yang ia kumpulkan cukup lama. Menyibak selimut yang menutupi setengah tubuhnya. Melangkah tertatih. Bertumpu pada sebuah tiang infus beroda. Hampiri Keysa. Hampiri desir angin yang membawa awan gelap.

“Hujan pertama sepanjang musim kemarau.”

Iki bersikukuh untuk bersuara. Mungkin tak lantang, jadi ia putuskan bangkit dari ranjang pasien. Agar suaranya terjangkau oleh wanita anggun yang sempat ia puja. Sesaat.

Semakin jelas cekung di sekitar tulang pipi. Ia dikaruniai wajah tegas terutama di lekuk rahang dan tulang pipi. Tubuh ini beringsut menyusut. Tirusnya mengenaskan. Sepasang pupil cokelat terang makin menonjol dari balik pelupuk. Sambil berucap, hanya langit redup dalam jangkauan matanya. Sadar akan Keysa yang sedang menatapnya dalam diam.

Sebagian tubuhnya masih bertumpu pada tiang infus. Namun keseimbangannya melumpuh.

Keysa dapati Iki goyah. Oleng dan menimpa tubuhnya. Nafas kasar Iki memburu dadanya.

“Suster!! Tolong!!!”

bersambung

Ikatan Batin #1

Pamit #3

Category: Satu Titik

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 4 multiplied by 8?