Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Ikatan Batin #1

Sore ini jadi korban utama. Atas perhatiannya yang hanya jatuh pada satu titik. Hanya satu dan hanya titik. Bahkan segala jenis permulaan berasal dari satu titik. Satu titik tempatnya berbalik pada kekeliruan hingga dapati hidup yang jauh lebih baik. Jadi ini adalah saat-saat untuk berbalas budi. Pada sang titik yang bawa ia kembali di garis takdir yang sempat dipungkiri.

Langit hangat yang harusnya meresap ke dalam pori-pori tubuh jadi supply tenaga baru. Lupa kondisikan tubuh untuk siap terima kehangatan sore. Bahkan transisi alam ini selalu ikhlas menyadur ganasnya panas siang dan menusuknya dingin malam. Hanya untuk dinikmati sesaat sembari mahatari bergulir. Kembali pada peraduan selimut ufuk barat. Berganti peran dengan bulan lengkap dengan jutaan dayang yang berkilau. Bintang.

Ia resah sendiri. Satu titik dalam hidupnya mengabarkan pesan. Resmi sudah tubuhnya meremang. Sang titik sekarat.

Rebahkan tubuh pada sandaran kursi. Meratap pada sore di luar bingkai jendela. Sekelilingnya bergulir. Datang mendekat kemudian mundur ke belakang. Pasrah. Biarkan pengait setiap gerbong ikut menariknya jauh melintasi jalur. Datangi satu titik yang kirimkan pesan lewat mimpi.

Ia juga dengan berat hati meninggalkan satu hati di belakang sana. Bertahun-tahun lamanya. Bisa katakan berkembang dan dewasa bersama. Bukan tega, tapi setengah tubuhnya sekarat dan sudah kirimkan pesan mendekat. Apa yang akan terjadi dengan setengah tubuh lain yang juga akan ikut sekarat?

***

“Key, kamu tetep mau pergi?”

Lelaki di hadapannya sudah setengah memohon. Sialnya, ia tak berdaya untuk pastikan tetap pergi atau bertahan. Tapi setengah tubuhnya resah dan terus gelisah.

“Maaf, Ben. Aku harus pergi sore ini juga. Aku sudah pesan tiket kereta.”

“Aku butuh kamu di sini, Key. Jangan pergi, aku mohon jangan pergi.”

Sepasang lengan ikut bertindak. Tenggelamkan tubuh mungil Keysa dalam dekapannya. Ia simak isak lembut yang menderu dari balik bibir terkatup, ia justru mempererat dekapannya. Dipikir ini hanya akan meluluhkan keras hatinya untuk menahan Keysa lebih lama.

“Beni ~~ Dia sekarat.”

Resah bercampur gelisah yang memeras habis air mata dalam bendungan. Padahal sekuat tenaga ia tahan agar tak ikut warnai keputusannya. Semakin kuat Beni menahan dalam dekap, maka gejolak dari dalam dirinya juga akan terus meronta.

“Kamu pikir aku gak akan sekarat lihat kamu pergi untuk orang lain?”

Masih terus memohon dalam kelembutan bisik yang ia atur sedemikian rupa. Ia mencintai wanita selembut sutera. Ia mencintai kelembutan yang banyak diidam-idamkan banyak hati. Sekaligus ketakutan yang cukup lama menggeluti kekhawatiran. Takut Keysa berpaling dari sisinya.

Keysa masih upayakan isaknya agar tak meledak dari balik dada. Sambil susah payah redakan sepasang lengan perkasa yang mengunci tubuhnya. Terkunci dalam dekap tubuh Beni. Pelan-pelan ia gapai wajah Beni. Membingkai. Menuntun sepasang mata Beni dalam tatapannya.

“Ini bukan perkara cinta. Aku mencintai kamu karena memang aku mau. Karena memang aku ingin.”

Beni dapati bola mata Keysa sedang yakinkan dirinya.

“Dia butuh kehadiranku, Ben. Dia sedang sekarat.”

Sepasang telapak tangan Keysa mereda. Beni masih lekat menatap. Hanya sebentar. Kemudian ia tenggelamkan wajah sambil menunduk. Tak lagi wajah Keysa dalam bayangnya.

“Ikatan macam apa yang mengikat batin kalian? Kenapa bukan batinku yang kamu ikat, Key?”

Lelaki di hadapannya kembali mengangkat wajah dan sepasang mata sudah berkilat amarah. Dirinya terperajat di tempat sambil terus berusaha yakinkan padanya. Bahwa cintanya tak ikut bermain dalam batin yang mengikat antara dirinya dengan satu titik di sana. Satu titik yang sama dengan titik di dalam tubuhnya.

“Aku gak punya kuasa untuk mengikat apapun, Beni. Ini bukan kuasa tangan-tanganku.”

Lelaki ini mencintai wanita selembut sutera. Amarah dalam diri pun tak berdaya meletup lebih besar. Bagaimana pun juga ini tentang keyakinan Keysa atas dirinya. Bukan suatu pembelaan diri. Ini tentang ketakutan yang menggerogoti toleransi atas wanita yang ia cintai. Belum cukup ikhlas terima kenyataan. Ia tak memiliki ikatan batin pada Keysa walau cintanya telah melibihi apa pun.

“Mungkin sulit, tapi aku berharap kamu bisa mengerti, Ben.”

Beni tak membantah. Diam ditempatnya. Memandang Keysa menjauh dengan satu koper semungil tubuhnya.

bersambung

Firasat #2

Category: Satu Titik

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 2 in addition to 9?