Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pamit #3

Sunyi. Satu-satu gelombang yang kuasai bilik steril hanya elektrokardiograf. Berkedip teratur sesuai ritme detang jantung Iki. Keysa masih di sisinya. Menunggu dengan setia.

Tak terbesit dalam benaknya lepaskan tangan Iki yang tak balas menggenggam. Padahal sudah tak kuat menahan lonjakan batin. Batinnya terus sampaikan isyarat yang sama. Firasat yang datang bersama gejala alam. Hantaman angin yang bawa awan menggantung belum sanggup hancurkan tembok ego. Matikan saraf untuk mendengar. Padahal nuraninya sudah berpesan berulang-ulang.

Letupan jantung menderu dari balik dada. Keysa paham ini hanya akan sia-sia. Apa pun yang ia lakukan, segalanya akan tetap bergulir dengan semestinya. Yang ia pertahankan hanya keegoisan diri. Ia bunuh tenaganya sendiri.

Kelopak mata Iki bergerak. Jemarinya juga demikian. Satu tangan Iki yang lain ini menggapai wajah sendu di hadapannya. Mulutnya coba membuka, kembali berusaha berucap. Keysa dekatkan wajahnya.

“Key, aku ~~~ ingin memohon.”

Parau. Lemah. Lebih serupa dengan berbisik dan terbata-bata. Keysa hanya anggukkan kepala pelan. Mulutnya terkatup rapat. Tubuhnya masih berseteru dan tak ingin bersuara dalam gelombang fisik.

“Berdoa ~~~ untukku, Key.”

Merekam baik-baik setiap bisik Iki yang penuh juang.

Tak berhasil menekan dada. Beralih pada tekanan berat dalam kelenjar air mata.

Isak mampu ia tahan. Tidak untuk pilu yang mengalir arungi wajahnya. Basahi pipi hingga bibir yang terkatup rapat. Iki masih menatap lemah. Menunggu Keysa menjawab. Merapatkan bibirnya pada tangan mereka yang bertaut cukup dalam. Bukan dingin, dapat Keysa rasakan tangan Iki tak sehangat terakhir kali ia ingat. Akhirnya isak memenangkan perseteruan di dalam diri. Enggan mengindahkan ucapan Iki.

Ayunan jemari Iki menyeka air mata yang basahi wajah Keysa. Mengingatkan Keysa pada permohonan Iki. Mengangguk pelan sambil terisak.

Keysa mulai pejamkan mata. Sejurus air mata semakin deras membelai wajah. Menyatukan satu titik dalam dirinya dengan titik yang sama dalam nafas Iki. Mengeratkan ikatan batin yang selama ini saling mengikat dalam jarak sekian ribu panah. Bicara pada Tuhan sambil sebut nama Iki berulang kali. Ego masih terus bertalu, namun bukan kuasanya menyalahkan Tuhan Yang Maha Indah. Apalah dirinya.

Ketukan elektrokardiograf semakin memekakkan telinga. Bertalu lantang. Melambat. Semakin lambat. Hanya ada satu garis lurus dalam layar. Bunyi yang mendera hanya satu nada tanpa ketukan staccato. Mengiris telinga tembus ke segala arah. Mengiris hati yang sedang pertahankan ego. Nuraninya menang. Tangis tersedu-sedu gaduhkan seisi bilik.

Suara melengking dari dalam ruang ICUP sampai pada telinga para staf rumah sakit. Berbondong-bondong hampiri Iki yang tak lagi bergerak. Seorang suster coba lepaskan genggaman Keysa.

“Iki… Iki… Suster tolong Iki… Iki!!!”

Apa daya. Kekalahan egonya terus memanggil nama Iki. Suster dan seorang staf medis jauhkan Keysa dari Iki. Meronta pun sudah tak sanggup. Tak ada tenaga yang tersisa. Tersedu pun sudah tak bersuara. Dalam benaknya tetap terus panggil nama Iki.

Tiba-tiba ada daya kuat datang. Sepasang tangan perkasa rengkuh Keysa dalam kehangatan.

“Beni?”

Penglihatannya terhalang bulir pilu yang belum habis mengalir. Lengan kokoh dengan hangat di tengah dada dalam dekap. Keysa kenal betul, ini tubuh Beni.

“Iki menunggu kehadiranku. Iki ~~~ Iki memohon ~~~ ingin diantar kepergiannya. Iki ingin aku yang antar. Iki~~~Iki pamit, Ben. Iki…”

Kegelisahannya adalah ego. Egonya adalah ketakutan. Ketakutannya adalah keresahan. Nuraninya benar, tapi egonya ingin membantah. Berharap bantahan di dengar. Keysa paham betul. Membantah hanya akan kuras tenaganya. Segala yang telah digariskan akan tetap terjadi. Mampu atau tidaknya diri menerima. Sanggup atau tidaknya diri ikhlas.

“Maafkan aku, Key. Aku butuh waktu yang lama untuk paham.”

Satu titik dalam hidupnya selesai dalam urusan balas budi. Hanya ada satu langkah untuk Keysa. Menerima. Walau bukan perkara mudah.

selesai

Firasat #2

Category: Satu Titik

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 2 + 4?