Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Kemeja Biru Langit #2

Masih di depan cermin. Gerald bergulir pada kemeja di tubuhnya. Kemeja lengan panjang. Bukan kemeja pemberian Mela, tapi warnanya cukup mirip. Biru langit.

“Gimana? Suka?” Tanya Mela singkat. Suaranya riang. Ekspresi wajahnya berhias senyum mengembang dan mata yang membulat. Berharap Gerald mengatakan sesuatu yang akan menyenangkan hatinya.

“Lumayan.” Jawab Gerald lebih singkat. Berjalan di sisi Mela sambil melipat lengan kemeja hingga siku. Ternyata gerakan tangannya tak seimbang. Gerald sanggup melipat lengan kanan dengan sempurna namun tidak untuk lengan kiri. Tangan kanannya jauh lebih kaku.

Jemari kecil Mela menyambut tanpa diminta. Gerald menghentikan langkah sejenak agar Mela bisa melipat lengan kemejanya dengan baik.

“Tau gitu aku beliin lebih banyak kemeja biar kamu kelihatan lebih rapih.”

Gerald berhasil menemukan senyum simpul disela-sela gerakan mulut Mela saat bicara. Ini membangkitkan saraf wajahnya. Otot pipi Gerald mengencang, menarik sudut bibir hingga melengkung.

Mela selesai melipat, bahkan lebih rapih dari hasil lipatan tangan kidalnya. Kemudian lengan Gerald mulai terasa hangat. Dekapan sepasang lengan si mata almond. Mela mendongakkan kepalanya, agar sejajar dengan wajah Gerald.

“Besok pakai kemeja lagi ya.” Saran yang bernada memohon. Kali ini Gerald tak mampu berbuat banyak. Otot wajah semakin kuat. Ia justru terkekeh sambil mengacak-acak rambut Mela.

“Iya.. Iya neng geulis. Besok pakai kemeja. Lusa pakai kemeja. Sampai minggu depan pakai kemeja. Tidur pakai kemeja. Berenang pakai kemeja.”

Seketika tawa Mela meledak. Lengan kanannya semakin menghangat. Mengalir ke rongga dada hingga wajah. Menghabiskan langkah menuju gerbang kampus dengan gelak tawa.

Hingga di hadapan cermin pun Gerald tertawa sendiri. Seperti baru terjadi kemarin. Serpihan kenangan yang berhasil ia susun lagi. Saat gambarnya berputar di kepala, hawanya terlalu nyata. Apakah dia masih sehangat dulu?

Sepasang jarum dalam arlogi menariknya kembali ke bumi. Ia harus bergegas atau kesempatan emas di hari besar Mela jadi taruhannya. Perjalanan menuju hotel dihiasi beraneka ragam rekaan ekspresi Mela. Namun Gerald tak sanggup menerka lebih jauh. Biarkan waktu yang berikan kejutan untuknya. Untuk saat ini, waktu lebih berkuasa.

bersambung

Potongan Rambut #1

Launching Buku Pertama #2

Category: Sejarah

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What color is the sky on a sunny day?