Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Potongan Rambut #1

Hari ini adalah hari besar Mela. Setelah berlalu, akan membekas jadi sejarah hidupnya.

Jauh-jauh hari Gerald sudah tandai bulatan merah di kalender. Bahwa hari ini adalah perayaan besar untuk Mela. Sebuah peluang sedikit memaksa untuknya. Ia pun tak banyak yakin, namun masih berniat untuk mencoba.

Beberapa kali bercermin. Perhatikan setiap jengkal penampilan. Sebagaimana dulu Mela sempat memuji potongan rambutnya.

You look much better, Ger. Kenapa gak dari dulu aja kamu potong pendek? Gondrong itu gak cocok untuk bentuk wajahmu.” Celoteh Mela ditengah keheningan. Komentar tiba-tiba selama makan siang berlangsung. Gerald lupa sarapan pagi, porsi makan siang jadi pelampiasan. Di saat yang sama Mela belum menyentuh makanannya. Sepasang mata selebar kacang almond mencuri kesempatan. Saat Gerald mengangkat wajahnya, senyum simpul Mela sudah melengkung manis.

“Oya? Hhhmmm… Tapi aku lebih suka sedikit gondrong.” Jawab Gerald singkat sambil mengunyah. Hitungan detik senyum Mela melonggar. Gerald masih kelaparan, ia kembali menyuap sendok ke mulut dan mengunyah lagi. Ia hanya dapati suara hiruk pikuk kantin kampus dan rahangnya yang sibuk mencincang makanan dalam mulut.

Matanya bergulir pada Mela. Gadis di hadapannya masih menatap. Senyum simpulnya sudah terbit lagi, tapi lebih tipis. Ia lirik piring Mela. Kepala sendok dan garpu masih terbungkus tissue.

“Melototin aku makan gak akan bikin kamu kenyang, Mela.”

Sejurus kemudian Mela melirik piring Gerald yang sudah hampir bersih. Kemudian melirik piringnya sendiri. Masih utuh.

Gadis di hadapannya kembali melengkungkan senyum yang berarti yeah kamu benar, baiklah aku makan sekarang. Mela sudah memulai suapan pertama. Gerald kembali tenggelam dalam kelaparan.

“Tapi aku suka potongan rambutmu yang sekarang.”

Celoteh Mela mulai lagi. Gerald merespon lebih cepat. Namun kali ini Mela tak menatapnya. Ia bicara sambil menyusun bulir nasi dan lauk di atas sendok kemudian tenggelam ke dalam mulut mungilnya. Selesai mengunyah dan menelan suapan ketiga, Mela bicara lagi.

“Jangan gondrong lagi ya.” Sepasang mata almond membulat. Ada nada sedikit memohon. Gerald melahap suapan terakhir sambil mengangguk pelan. Bila ia tanggapi lebih jauh, Mela akan mengabaikan makan siangnya lagi.

Dugaannya benar. Setelah itu, Mela tak bicara. Mulut mungilnya sibuk mengunyah. Tangan kanan memegang sendok dan garpu di tangan kiri. Inilah pemandangan yang selalu ia nikmati. Ketika duduk berhadapan, Gerald seperti cermin yang menirukan posisi sendok-garpu di tangan Mela. Saat Mela mendulang dengan sendok di tangan kanan, seperti efek cermin, Gerald dengan tangan yang berlawanan. Dia kidal.

Sejak saat itu, Mela konsisten dengan penilaiannya. Setiap kali rambutnya mulai menutupi mata, Mela bisa ngedumel seharian. Ketika ia baru pulang dari pangkas rambut, ia akan disambut senyum manis dari sang pujaan hati.

Sejauh ingatannya merekam kenangan, ini adalah potongan rambut yang sama. Terbayang-bayang senyum dan celoteh dengan aksen yang selalu sama. Apakah senyumnya nanti masih sama? Bagaimana dia sekarang?

bersambung

Kemeja Biru Langit #2

Category: Sejarah

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 4 * 8?