Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Launching Buku Pertama #3

Pintu ball room tertutup. Gerald mempercepat langkahnya. Menghampiri meja registrasi. Mengisi buku tamu. Pulpen menari di tangan kirinya. Ternyata pintu tak tertutup sempurna. Ada celah. Dari sana suara microphone merambat dan mendarat di pendengaran Gerald. Suara yang sudah cukup lama ia kenal. Itu suara Benjamin.

Sesi isi buku tamu selesai. Dengan senyum ramah, panitia di meja registrasi mengarahkan Gerald mendekati pintu.

Seisi ball room berkilau di matanya. Nuansa silver dan putih. Ada belasan meja bundar bertebaran rapih di depan stage. Satu meja dengan enam kursi di sekelilingnya. Ball room hampir penuh. Seorang panitian menghampiri dan mengarahkan Gerald pada kursi yang masih kosong. Dua baris dari belakang. Bagian depan sudah terisi penuh. Tidak mengecewakan baginya. Dari kejauhan Benjamin melemparkan senyum sapa sembari berperan jadi master of ceremony di atas stage. Itu artinya posisi Gerald masih menjangkau stage tanpa tertutup deretan punggung dan kepala tamu yang ada di barisan depan.

Benjamin hanya melirik sebentar, setelah itu kembali pada script yang ada di tangannya.

“Langsung saja kita panggil si penulis cantik yang akan berbagi cerita seputar buku pertamanya. Please welcome Mela Meilita~~,”

Tepuk tangan mengiringi kalimat Benjamin. Semakin meriah ketika sosok Mela akhirnya muncul dari ujung stage. Gerald ikut bertepuk tangan. Ada hangat mendesir di sekitar wajahnya. Ototnya pipi mengencang, menarik kedua sudut bibirnya. Dapat ia rasakan serpihan puzzle akan ingatan Mela tersusun secepat kilat. Sebagaimana ia mengenang sepasang mata selebar kacang almond. Ketika sedang ceria ia kan membulat lebih lebar. Bibir mungil yang semakin manis setiap kali ia tersenyum entah sekedar senyum simpul atau tipis.

Perawakan mungil berbalut gaun nuansa putih dan abu-abu pucat. Gerald menemukan kesimpulan atas nuansa interior di dalam ruangan. Sejauh ingatannya merekam, Mela sangat suka warna putih. Setuhan abu-abu mungkin jadi tambahan agar tidak terlihat jenuh.

Mela menghampiri Benjamin di atas stage. Ada senyum malu-malu sambil membalas tepuk tangan di para undangan. Merasa telah terbalas, tepuk tangan mereda. Mela dan Benjamin duduk bersama di sofa sambil berhadapan.

Format launching dirancang sedemikian rupa. Seperti talk show santai.

“Hai Mela,” sapa Benjamin setelah Mela nyaman dengan posisi duduknya.

“Hai Ben, apa kabar?” jawab Mela riang sambil melambaikan tangan mungilnya pada Benjamin.

“Mel, jangan curi start dong. Itu kan dialogku. Harusnya MC yang tanya apa kabar.” Celetuk Benjamin spontan. Seiri ball room tertawa renyah karena ulah Mela, begitu juga Gerald. Mela juga tertawa malu-malu.

“Okey, kalau begitu kita ulang lagi dari awal~~ Hai Mela.”

“Hai Ben.”

“Apa kabar?”

“Baik.”

“Yeah, minimal ini jauh lebih baik.”

Gelak tawa kembali pecah. Tanpa kecuali, mulai dari panitia hingga Mela sebagai pemeran utama dalam acara launching buku pertamanya. Kali ini lengkung bibir Mela sedikit lebih leluasa dari sebelumnya. Mungkin ia telah menguasai suasana. Gerald mengamati dengan seksama. Sampai lupa berkedip karena perhatikan semuanya. Cara Mela mencairkan suasana canggung menjadi lebih hangat. Cara tersenyum malu, seperti menahan ceriaan yang ingin meledak. Ia tahan pelan agar tidak langsung habis. Keceriaan yang tetap bertahan hingga akhir.

Masuk sesi tanya jawab dari para undangan. Diawali oleh pers kampus tempat dulu Mela pernah kuliah. Almamater yang sama dengan Gerald.

“Sejak kapan kak Mela mulai menulis? Memang hobi atau bakat terpendam?” Tanya salah satu pers mahasiswa dengan secarik kertas di tangan.

Mela tak membutuhkan moderator. Begitu pertanyaan selesai Mela menghirup oksigen dalam-dalam, ia hembuskan pelan dan langsung menjawab.

“Gak pernah ada rencana untuk jadi penulis satu novel utuh. Mungkin memang sudah garisnya. Hasrat itu sendiri yang menuntunku hingga jadi seperti ini. Bukan aku yang memutuskan untuk menulis– tapi aku dipilih.” Jawab Mela lengkap. Tempo bicaranya melambat di akhir kalimat dan ditutup dengan senyum simpul. Ada raut wajah kebingungan dari sang mahasiswa, namun tetap berusaha ia catat di secarik kertas yang sama.

Gerald tetap dengan titik pengamatannya. Semakin fokus pada senyum Mela pada si pemilik pertanyaan. Terbayang berbagai kenangan setiap kali senyum itu terbit. Tanpa sadar Gerald tersenyum tipis. Mengenangnya saja sudah mampu menghidupkan lagi rona-rona lama di sekujur hatinya. Senyumnya masih sama. Waktu bergulir dengan penuh kejutan.

bersambung

Kemeja Biru Langit #2

Lagu Mela #4

Category: Sejarah
Tag:

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 9 in addition to 9?