Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Lagu Mela #4

Pertanyaan berikutnya mulai berdatangan. Seperti yang telah Mela lakukan. Begitu pertanyaan selesai diucap, Mela mengatur nafasnya dan menjawab dengan sangat tenang. Sedangkan Benjamin? Ia hanya bertugas sebagai penentu siapa penanya berikutnya.

Tak ada pertanyaan apa pun yang ingin ia utarakan. Menyaksikan keberadaan Mela di depan sana, bagi Gerald itu sudah lebih dari cukup. Sesekali Benjamin melirik kearah Gerald, mana tahu tamu yang satu ini ingin bertanya sesuatu. Ia selalu mendapati Gerald mengarahkan sorot matanya pada Mela dan tetap bergeming walau hujan pertanyaan di dalam ball room mulai deras.

“Wah sepertinya banyak yang penasaran yah sama naskah Mela. Kalau aku perhatiin nih, semakin kesini pertanyaan yang muncul itu mulai mengarah kearah redaksional. Dari pada penasaran aku mau panggil seorang editor yang berjasa atas naskah Mela. Mari kita sambut  Bramantyo.”

Tepuk tangan menggema ke seantero ruangan, tapi tidak lebih meriah ketika Mela naik ke atas panggung. Sosok editor muncul dengan kemeja batik, resmi dan terkesan sedikit tua. Usianya sekitar awal 30-an. Dengan kemahiran Benjamin berceloteh, mengalirlah cerita kronologis naskah Mela.

Untuk sesi ini sama sekali tidak menarik perhatian Gerald. Spotlight bergulir sejenak kepada sang editor, bukan Mela lagi. Ia lebih banyak diam sambil memperhatikan penjelasan Bramantyo yang duduk di samping di sisi kirinya. Untungnya sesi ini tidak memakan waktu lama.

“Baiklah. Semua tentang buku pertama Mela sudah dibahas nih dan sekarang Mela punya kejutan untuk kalian semua.” Benjamin tetap tidak kehabisan akal untuk mempertahankan atmosfir yang hangat dan santai. Gaung mengitari ruangan. Ada yang berseru tanda bersemangat menyimak kejutan dari Mela. Ada yang berteriak “yeah” karena dapat bocoran tentang kejutan tersebut. Gerald masih bertahan dengan duduk diam sambil menikmati serpihan kenangan tentang Mela di kelapanya.

Tiba-tiba seorang pemuda usia 20-an naik ke atas stage. Ternyata Gerald melewatkan satu hal. Stage cukup lebar dan ada piano di sisi kirinya. Pemuda tersebut menghampiri piano. Mela bangkit dari sofa. Salah seorang stage manager memberikannya microphone dan ia melanjutkan langkatnya mendekati piano.

“Ini hadiah untuk kalian yang sudah hadir dan mengikuti acara launching hingga detik ini.” Mela mengawali penampilannya dengan prolog singkat. Tepuk tangan kembali riuh. Denting pertama mengalun. Seisi ruangan bisu. Mengizinkan piano dan suara Mela kelak yang akan kuasai sepenuhnya.

Satu seserpih tentang kenangan kembali mencuat ke permukaan. Ditengah-tengah kebingungan. Masalah kado. Ulang tahun Mela yang ke 20 tahun. Ia bahkan melewatkan sapa selamat pagi hanya karena audisi band oleh salah satu label musik termasyur di ibu kota. Lebih parahnya lagi, lupa terjaga tepat pergantian tanggal berlangsung demi ucapan selamat ulang tahun. Gerald justru terlelap lebih awal agar tidak terlambat audisi.

Tenggelam dalam rasa bersalah, Gerald setengah berlari meninggalkan panggung selesai tampil dihadapan juri. Tak mengindahkan pengumuman hasil audisi. Tapi kecepatan berlari meredam. Melambat dan berhenti. Ternyata sudah berdiri sosok mungil dengan senyum lembut. Kedua lengan ia lipat rapat di depan dada. Malam itu dingin.

“Gimana audisinya?” Sepasang matanya tak membulat namun tetap bertanya dengan aksen ceria seperti biasa. Gerald paham, Mela menyembunyikan sedikit kekecewaan.

Gerald tak menjawab. Hanya menggapai tangan Mela dan menuntunnya hingga sampai ke sebuah café terdekat. Sayangnya sudah hampir tutup. Genggaman tangan Gerald mereda. Meninggalkan Mela yang terpaku di tempatnya. Gerald menghampiri seorang waiter. Entah sedang membicarakan apa. Gerald melirik ke belakang, Mela menatapnya dingin. Hawa malam telah membekukan kehangatan sang kekasih.

“Silahkan aja a’. Cuman untuk pesan makanan gak bisa, sudah tutup.” Jawabnya sopan pada Gerald.

“Saya gak pesan makan kok. Makasih banyak ya.”

Mangga a’.

Mela hanya mendapati wajah Gerald jauh lebih cerah saat menghampiri Mela. Ia genggam lagi tangan gadis mungilnya. Ia tuntun ke dalam café. Jauh ke dalam hingga sampai ke sebuah panggung mungil. Ada beberapa alat musik tertata rapih. Ada piano.

Gerald duduk di kursi piano. Mela menyusul di sisi kirinya. Wajah Mela masih beku. Gerald membuka penutup keyboard dan memulai nada pertamanya. Hanya memandang kedua tangan yang menari sambil memainkan sebuah lagu.

Kebekuan Mela meluruh. Memandang wajah Gerald dan permainan jemari Gerald secara bergantian. Ada semu merah muda di pipi Mela. Menyusul bibir terkatup yang pelan-pelan melengkung. Ini alunan sebuah lagu. Menyambut bertambahnya usia Mela. Lagu selamat ulang tahun. Gerald bermain di tempo rendah di tengah kesunyian café yang sudah tutup. Tiap dentingnya melenyapkan kekecewaan karena Mela memulai hari spesialnya tanpa ucapan selamat ulang tahun tepat jam 12 malam atau sapa selamat pagi selayaknya sepasang kekasih.

Lagu berakhir. Jemarinya berhenti menari. Sorot mata bergulir pada Mela yang sudah berkaca-kaca.

“Maaf untuk hari ini.” Gerald lebih mirip berbisik dalam keheningan. Mela hanya menatap dalam senyum simpul. Sepasang biji almod kesayangan Gerald malam itu berkilau.

“Selamat ulang tahun.” Masih berbisik. Wajah Gerald mendekat. Ia dapati sebutir haru jatuh. Mengalir di semu merah pipi Mela. Bersamaan dengan senyum bahagia yang mengembang sempurna. Jemari Gerald menghapus berkas haru yang membasahi keindahan wajah Mela. Seketika Mela merapatkan tubuhnya. Kedua lengan mungilnya melingkar di lengan kiri Gerald.

“Gerald, nyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk aku.” Permintaan pertama di hari ulang tahunnya. Mela menatap lekat wajah pemuda kidal yang berhasil menghangatkan sekujur hatinya. Kini Gerald bisa bernafas lega, keresahannya terbayar sudah.

Menanggapi permintaan Mela, Gerald hanya mengangguk ringan dan kembali bermain dengan setiap nada piano. Mela masih mendekap lengan kirinya. Pelan-pelan ia longgarkan agar Gerald tetap leluasa memainkan setiap tuts piano.

Sebuah intro sesuai permintaan Mela. Syair dari seorang penulis kesukaan Mela. Dewi Lestari.

Tengah malamnya lewat sudah, tiada kejutan tersisa. Aku terlunta tanpa sarana saluran tuk ku bicara. Jangan berjalan waktu, ada selamat ulang tahun. Yang harus tiba tepat waktunya. Semoga dia masih ada menantiku.

Menyusul suara Mela di bait berikutnya.

“Mundurlah wahai waktu, ada selamat ulang tahun yang tertahan tuk ku ucapkan. Yang harusnya tiba tepat waktunya dan rasa cinta yang selalu membara untuk dia yang terjaga menantiku.”

Sontak Gerald menghentikan permainannya. Menatap Mela heran.

“Suaramu bagus.” Ucap Gerald singkat. Ada binar di mata Gerald. Ia temukan satu hal baru selama percintaan yang berlangsung baru seumur jagung.

“Oya?” Sepasang mata Mela membulat.

“Tapi mainstream.” Sahut Gerald singkat. Bibir mungil Mela cemberut dan sepasang biji almond kesayang Gerald meredup.

“Tapi aku suka.” Lanjut Gerald. Ternyata ia belum benar-benar menyelesaikan kalimatnya. Mela tak sanggup menatap Gerald. Lebih memilih tuts piano sebagai objek penglihatannya, berdalih menyembunyikan semburat hangat yang mengepul dari uluh hati hingga pipinya. Melihat reaksi Mela, Gerald hanya menghela nafas agar kebahagiaan yang telah ia bagi lebih leluasa merambat ke seluruh penjuru ruangan, termasuk Mela.

Tangannya yang lain merengkuh tubuh Mela dan mengecup dahinya.

“Gerald, terimakasih.”

Ia dapat rasakan Mela mengeratkan dekapannya. Begitu juga dengan Gerald. Hari ulang tahun Mela ditutup dengan kehangatan di tengah bekunya hawa angin malam dari sela ventilasi café.

Tepuk tangan para undangan mengejutkan lamunan Gerald. Ternyata penampilan Mela telah berakhir. Kesadaran Gerald belum pulih sepenuhnya. Ia meneguk segelas air putih dan merebahkan punggung ke sandaran kursi. Serpihan memori tentang Mela sudah menyatu dan kembali utuh. Jika tak sepenuhnya waspada, Gerald akan tenggelam di dalamnya.

bersambung

Launching Buku Pertama #3

Bertemu Benjamin #5

Category: Sejarah

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 8 plus 6?