Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Bertemu Benjamin #5

Sampailah pada sesi yang telah ditunggu-tunggu oleh para tamu undangan, termasuk Gerald. Pemberian tanda tangan dan foto bersama penulis.

Para tamu memenuhi deretan meja dimana novel Mela tersusun rapih di atasnya. Berbondong-bondong membeli kemudian mengantri di sisi stage untuk mendapatkan tanda tangan dan foto bersama sang penulis. Gerald masih di tempat duduknya. Masih bergeming. Belum puas bernostalgia dengan berbagai jenis mimik wajah Mela. Mulai dari tersenyum, menyimak, berjelakar, tertawa malu-malu dan tertawa lepas. Betapa ia masih menyimpan setiap gambar itu dalam alam bawah sadarnya. Apa lagi dalam sesi ini Mela tak berhenti menyapa pembaca novelnya dan memberikan ekspresi terindah ketika berfoto bersama.

Gerald baru bangkit dari kursinya ketika antrian pembaca hampir berakhir. Sudah ia rencanakan. Ia ingin hadir sebagai pembaca terakhir. Menempatkan dirinya sebagai pelengkap hari besar Mela. Gerald sudah siapkan semuanya, dari rambut hingga kemeja dan tambahan kacamata wayfarer berbingkai hitam dan penuh. Berjalannya waktu dan tuntutan pekerjaan di hadapan layar komputer, matanya jadi minus.

Langkah pertama adalah deretan meja tempat novel Mela tertumpuk berikut dengan potongan harga yang cukup menggiur para pecinta novel roman. Gerald ambil satu. Kemudian seseorang menepuk ringan bahunya.

“Hei Ger, kamu hampir aja telat.” Sapa Benjamin.

“Hei… Makasih banget ya infonya.” Balas Gerald sambil menyambut jabatan tangan Benjamin.

“Yoi.. Gimana, Ger? Udah siap?”

Gerald tak menjawab. Kepalanya bergulir pada Mela yang masih terus tersenyum dengan sebuah pulpen yang menari-nari di tangan kanannya.

Sebuah kesempatan yang tak pernah ia duga. Sempat bersyukur ketika ia dipertemukan oleh Benjamin di sebuah acara kantor. Sebagai penyiar radio, tak jarang lelaki talkative ini menerima tawaran sebagai MC. Ia cukup profesional dalam menempatkan dirinya, bisa serius walau tetap santai hingga melawak. Membaca situasi adalah kelebihannya.

Lewat seorang teman kantor Gerald berjenalan dengan Benjamin. Waktu itu Gerald jadi salah satu panitia di divisi acara, maka Benjamin lebih banyak berkoordinasi dengan Gerald.

Hingga suatu hari saat itu tiba. Di kedai kopi dekat kantor Gerald, usai membicarakan konsep acara.  Tas Benjamin hampir penuh saat beberapa lembar materi acara hendak ia simpan. Akhirnya ia bongkar isi tas dan disusun ulang. Gerald terpaku pada sebuah nama di sampul buku yang dikeluarkan Benjamin dari dalam tasnya. Salah satu tangan Gerald menyambut dan mendekatkan ke wajahnya. Memastikan kalau ia tidak salah baca.

“Itu dia yang kemarin aku bilang, Ger. Sebulan ini aku kebanjiran job. Untung acara kantormu gak bentrok sama launching buku itu, makanya aku berani ambil.” Ujar Benjamin sambil terus menata isi tasnya.

“Buku ini sudah beredar di pasaran?” Tanya Gerald. Jauh di dalam hatinya ada ribuan tanya. Ia pilih bertanya perlahan. Benjamin menghentikan kegiatannya sejenak. Menatap Gerald sambil menerawang dalam ingatannya.

“Kalau gak salah sih belum. Itu juga aku dapat langsung dari penulisnya. Udah cantik, baik pula.” Selesai dengan kalimatnya, Benjamin kembali sibuk sendiri. Gerald menyembunyian senyum simpulnya dari balik bibir terkatup.

Nampak Benjamin sudah selesai menata. Namun Gerald masih menggenggam novel dengan rasa tak percaya. Berulang kali ia baca sinopsis di sampul belakang. Mela? Menulis novel?

“Ben, boleh ku pinjam sebentar?”

Benjamin bingung. Beberapa detik terbuang untuk mencerna spontanitas Gerald.

“Kamu suka baca novel?” Benjamin bertanya dengan rasa heran. Gerald bergulir menatap sampul novel tanpa menjawab. Lebih tepatnya ia tak menemukan kata-kata yang tepat. Sekian detik berlalu sembari ia memikirkan kalimat yang tepat untuk berdalih.

“Gak masalah, bawa aja dulu. Tasku juga kebetulan udah penuh. Tapi jangan sampai hilang ya. Ada tanda tangan penulisnya di lembar pertama. Mana tau tanda tangannya jadi mahal kalau dia sudah jadi penulis popular sekelas Dee.” Celoteh ringan Benjamin.

Penulis besar? Dee? Dewi Lestari. Percikan bunga kenangan tentang kegemaran Mela mengoleksi setiap karya sastra idolanya.

“Kapan launchingnya?”

“Akhir bulan ini, Ger.”

“Aku bisa datang?”

“Tentu. Semua orang bisa datang.”

Gerald menghela nafas lega. Berakting memasukkan buku novel ke dalam tas, namun sesungguhnya ia sedang ingin tersenyum bahagia.

“Ger? Kamu kenal Mela?”

Gerald tersentak. Ternyata Benjamin mengendus keganjalan dari spontanitas lawan bicaranya. Ingin tetap terlihat tenang, Gerald membenarkan posisi duduknya. Walau tak ada yang salah dengan sofa yang ia duduki. Walau begitu, Benjamin masih menatapnya, bahkan semakin lekat.

Mungkin sedikit penjelasan dapat melancarkan harapannya. Setelah menghela nafas panjang Gerald cerita sekilas tentang kisahnya. Benjamin menyimak, sesekali mengangguk sambil menyeruput secangkir excelso.

Dan berbuah manis. Ternyata Benjamin dapat dipercaya. Tempat, tanggal dan waktu, semuanya jelas. Memudahkan Gerald menyusun rencana dalam peluang yang datang menghampirinya.

bersambung

Lagu Mela #4

Bukan Salah Ben#6

Category: Sejarah

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 6 in addition to 3?