Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Bukan salah Ben #6

“Antrian sudah mau habis tuh, buruan.” Seru Benjamin.

“Makasih banyak ya, Ben.” Gerald menepuk bahu Benjamin dan berlalu.

Langkahnya beradu ketukan dengan degub jantung. Bagaimana mungkin ia melewatkan kesempatan berharga ketika ia telah cukup lama pasrah. Semakin dekat dan nafas ini berat. Melangkah, jantung berdetak dan menghela nafas. Bercampur aduk hingga langkahnya terhenti di tengah jalan. Ingin menyalahkan embun di sudut lensa kacamata. Sayang alat bantu penglihatan ini justru memperjelas kenyataan pahit yang baru ia ketahui. Ibarat cambuk tepat menyambar wajah.

Langkahnya didahului seorang pria berpotongan pendek sesuai bentuk wajah tegasnya. Berkemeja rapih dan menyembunyikan rangkaian bunga di balik punggung. Saat Mela menyadari kehadirannya, ia bangkit dari balik meja dan menyapa dengan peluk hangat. Wajah terindah dalam senyum bahagia terbit ketika rangkaian bunga mendarat di hadapannya.

Suasana menjadi sedikit ramai ketika para sahabat mendekati Mela yang masih berseri-seri. Dari gerakan tubuhnya, nampak Mela sedang memperkenalkan pria di sampingnya. Tangan kanan menjabati para tangan sahabat Mela dan tangan yang lain mendekap lembut pinggang Mela.

Debar di dadanya merambat ke seluruh nadi hingga nyeri. Sepasang matanya mendelik sambil terus mengatur nafas. Jangan sampai ia meledak di tempat. Ini~~ gak mungkin… Sekian meter di belakang Gerald, Benjamin juga menyaksikan adegan yang sama. Bergantian ia menatap Mela, pria di sisinya dan Gerald yang masih berdiri kaku. Entah apa yang dapat ia lakukan untuk Gerald.

Ia kembali dapati Gerald tak bertahan lama di posisinya. Ia berbalik. Setengah berlari dengan langkah lebar, berlalu tanpa mengindahkan Benjamin yang berkali-kali memanggil namanya. Gerald bergeming. Terus saja menjauh hingga punggungnya tenggelam dari balik pintu.

***

Sepintas ia mendengar sebuah nama yang tak asing. Sejenak mengabaikan keramaian yang mengitari keberadaannya. Melihat ke sekeliling. Mencari dari mana sumber suara berasal. Namun ia hanya dapati Benjamin membelakangi tubuhnya. Mengikuti arah mata Benjamin menghadap, tapi hanya daun pintu yang mengayun bekas didorong dari dalam. Tak lama sorot matanya bertemu dengan Benjamin. Mela melemparkan senyum sapa dan Benjamin menjawab dengan ramah.

Dekapan pria disisinya mengerat. Ia kembali pada para sahabat yang memberikan selamat atas suksesnya acara launching novel pertama.

***

Sejak saat itu Benjamin merasa bersalah. Berkali-kali ponsel Gerald berbunyi. Berkali-kali pula ia abaikan. Mulai dari getar hingga silent. Tetap saja cahaya ponsel berkelip-kelip dalam keremangan biliknya. Gerald buang jauh-jauh seluruh perhatiannya pada semesta di balik jendela apartemen. Apa daya, cahaya berkelip menang atas jagad raya. Dengan nama penelpon yang masih sama.

“Gerald, aku minta maaf soal waktu itu. Ternyata aku gak pernah tau tentang–.”

“Ini bukan salah mau, Ben.” Potong Gerald.

“Jadi, bagaimana keadaanmu sekarang?” Tanya Benjamin dari seberang sana. Sebuah kalimat yang ia tata sedemikian rupa. Ia pikir kini Gerald berada dalam kondisi amat rapuh. Disamping Benjamin kehabisan kata untuk bisa menghibur teman barunya.

Sedangkan Gerald masih meratapi semesta sebagai alasan berdalih. Sesungguhnya ia bertahan di sana sebagai jasad. Isi pikirannya entah kemana. Penghuni hatinya mencelat entah kemana. Tenaga menguap juga entah terbang kemana. Hanya jasad yang berusaha agar tetap bernafas. Satu-satunya pesan yang sampai ke otak, bahwa nafas ini akan semakin berat.

“Ben, aku butuh ruang.”

Ponsel menjauh dari daun telinga. Satu jari Gerald menekan tombol merah. Sambungan terputus. Setelah itu biliknya semakin sunyi. Tak ada yang berkelip lagi. Hanya denting jam dinding yang menang atas segala keheningan.

Begitu langit siang mulai membosankan, Gerald beranjak dari titiknya terpaku. Kembali hatinya terkoyak saat ia dapati sebuah buku bersandar di atas sofa. Bekas luka pecut tepat di wajah berdenyut. Mana mungkin? Mana mungkin begini jadinya? Sekeras kepalanya menggeleng, tak menjawab apa pun.

Gerald setengah berlari ke kamar mandi. Refleksi wajahnya di seberang cermin, berantakan. Ia tanggalkan kacamata. Segenggam air mengalir ia bilas ke wajah. Berkali-kali. Mungkin dengan dinginnya air dapat bekukan bekas luka dan denyutnya cepat berakhir. Hingga kerah baju dan sebagian rambutnya basah, wajahnya tetap berdenyut. Bahkan pelan-pelan perih karena dihantam air dingin.

Menyambar handuk di sisi wastafel. Ia usap asal basah di wajah. Menghampiri sofa. Menyambut buku novel pertama Mela yang tak sempat ditanda tangani sang penulis. Ditatap sejenak nama Mela di sudut sampul. Bergulir pada kunci mobil di atas meja.

Tak jelas ingin pergi kemana. Yang ia inginkan hanyalah membawa mobilnya melesat di jalan. Mana tahu ia bisa memungut kembali isi pikiran, penghuni hati dan tenaga yang mencelat dari tubuhnya. Memang jasadnya sudah kembali bernyawa, termasuk kepahitan yang juga datang padanya. Sebuah sesal.

bersambung

Bertemu Benjamin #5

Karena Kidal #7

Category: Sejarah
Tag: ,

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 3 + 9?