Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Karena Kidal #7

“Gerald~~ Ini permohonanku yang terakhir.”

Gerald masih membisu. Antara ingin menyumpal telinganya atau mencari penjelasan yang lebih masuk akal agar Mela enggan melengkapi kalimatnya. Namun ia tak kuasa memutuskan sambungan langsung jarak amat jauh. Setelah sekian lama berkutat dengan jarak semenjak Mela mengikuti keinginan keluar besar di belahan dunia yang lain. Saat ia tertidur maka Mela terjaga, begitu juga sebaliknya. Mengantarkan hubungan yang lebih mirip main kucing-kucingan.

“Aku menjaga penuh kepercayaanmu disini. Aku mohon lakukan hal yang sama, Ger.”

Hingga kalimat Mela berakhir, belum juga ia temukan kata yang tepat. Jelas ia mengerti, disana Mela ingin mendengar penjelasan, bukan pembelaan atas dirinya.

“Kamu~~~ ingin pergi? Menyerah?”

Sejuruh kemudian hening. Gerald tak dapati Mela bicara lagi. Lalu sayup-sayup isak kecil terdengar.

“Aku bahkan gak pernah berniat untuk pergi kemanapun. Maaf Gerald~~”

Kemudian isaknya pecah. Tusukan pelati tepat di gedang telinga Gerald. Berangan-angan jika seandainya ia sanggup menjelajahi diameter  bumi dan memeluknya disana. Meredam isak Mela jangan sampai meledak. Mencegah sepasang mata almond kesayangannya terbilas pilu. Apa daya, Gerald hanya berandai-andai.

“Bukan berarti aku gak pernah memaklumi keadaanmu. Tapi seharusnya ketakutan itu kamu yang hadapi sendiri, bukan aku. Kalau aku harus bertahan dengan kekanganmu~~ Aku sudah gak sanggup lagi.” Jelasnya dalam isak. Terbayang dalam benak Gerald bagaimana Mela bersusah payah menyelesaikan kalimatnya. Beberapa pelafalan tenggelam ketika sedu-sedan menekan uluh hatinya.

“Maafkan aku, Gerald. Maaf~~”

Sambungan terputus. Nada birama dua per empat bergaung di pendengaran. Tak ada lagi Mela. Bahkan ia menutup pembicaraan dengan parau. Berakhir seperti ini?

Langit malam menuju pagi jadi alasan sepasang mata Gerald memandang begitu jauh. Mana tahu ia menemukan wajah Mela dengan penuh pilu membasahi wajahnya. Tidak ada. Hanya langit gulita tanpa bintang. Mendung diperalihan malam makin buat suasana hatinya temaram.

Kuncinya hanya satu. Gerald terlalu takut. Sering kali ia kait-kaitkan dengan kondisi tangan kidalnya. Saat berburu jurnal elektronik dari luar negeri. Ketika kekidalan berasal dari perkembangan otak kanan yang lebih dominan. Kemudian disangkut pautkan dengan gejala penderita Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang dilansir oleh Dr. Carolyn Shoudhary dari Queen Margaret University di Edinburg dalam presentasi hasil temuannya di konferensi tahunan  British Psychology Society pada tahun 2011 lalu. Dimana gejala tersebut berperan dalam rasa takut pada pengguna dominan otak kanan atau kidal. Sebuah jawaban atas ketakutannya, takut kehilangan Mela disaat yang sempurna. Ketika ia tak kuasa menggapai keberadaan Mela hingga berdampak pada sikap yang mengekang. Sungguh penempatan waktu yang—dalam tanda kutip—sempurna.

Cintanya terlewat murni. Gerald putuskan untuk berbenah diri, karena kunci utama terletak pada dirinya. Tak mengindahkan hati lain yang terpesona dengan kemampuan eksaknya dan keterampilan bertutur. Ia anggap itu semata-mata sebagai hadiah seorang kidal. Tetap di hatinya, Mela bertumbuh bersama usia. Walau perlahan ia mulai pasrah sambil berdoa, jika memang diizinkan berjumpa.

Dan doanya terjawab bersama kehadiran Benjamin.

Hingga pertanyaan baru muncul bersama sosok pria berkemeja rapih dan rangkaian bunga. Mela tersenyum indah dibuatnya. Sebenarnya, dalam angan, Gerald sempat berharap ada senyum manis terbit khusus untuknya.

Gerald merindukan segalanya. Merindukan sepasang mata selebar kacang almond dan pipi merah semu saat tersipu malu.

Dua pasang ban mobil masih terus bergelinding. Satu tangan Gerald mematikan AC. Bergantian dengan tangan yang lain, membenamkan kaca jendela. Biarkan angin menerobos masuk. Setelah dibelai angin, ia hirup aroma yang sudah lama tak ditemui. Samar-samar irama debur menyapa dari kejauhan. Mungkin pantai di siang menjelang sore adalah ide cemerlang.

bersambung

Bukan Salah Ben #6

Bertemu Lagi #8

Category: Sejarah

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 6 in addition to 3?