Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Bertemu Lagi #8

Original Chocolate?

“Terima kasih.” Sahutnya spontan.

Dari meja barista ia beralih pada seisi café bertema hangat. Interior penuh dengan susunan kayu yang didesain sedemikian rupa. Sore itu tak terlalu ramai. Baru pukul 3 sore. Mungkin akan penuh sesak dengan pengunjung saat menjelang sunset.

Banyak meja kosong, namun ia masih mencari yang paling tepat. Melangkah masuk lebih dalam mungkin ada yang menarik. Benar saja. Sepasang tungkai mungilnya melambat. Menghampiri sebuah meja tepat di sisi jendela kaca raksasa. Untaian bibir pantai dari kejauhan jadi pemandangan di baliknya. Sayang sudah ada yang menempati. Bukan berarti ia bergulir pada meja yang lain. Ia terus mendekat.

Sepasang matanya membulat. Bagaimana takdir menggariskan kembali pertemuan yang sempat tertunda. Sosoknya benar-benar berada di depan mata. Potongan rambut dan balutan kemeja favoritnya. Hanya kehadiran kacamata wayfarer hitam berbingkai penuh menjadi hal baru baginya. Ada sebuah buku terbuka di hadapannya. Ternyata pria ini sedang membaca.

Sambil mendekat, ia terus menerka. Semakin dekat, ia tak salah menerka. Gerald?

***

Tertegun luar biasa ketika sebuah alunan maha lembut menyapa. Memanggil namanya. Tersenyum simpul padanya. Kini duduk berhadapan dengannya. Seisi otak sejenak membeku. Cepat-cepat Gerald menegak vanilla latte yang sudah tak beruap. Cukup lama ia abaikan karena sebuah novel. Untung akal sehat masih berpihak padanya, maka terucaplah pertanyaan tentang kabar. Kemudian lawan bicara melemparkan pertanyaan yang sama. Gerald jawab secukupnya. Bukan apa-apa, saraf motorik di balik kulitnya sedang menyusun strategi, agar gerak-geriknya tetap terlihat natural. Sesungguhnya ia gugup bukan kepalang.

Sosok dihadapannya bukan lagi gadis mungil yang ia kenal. Berjalannya waktu, ia telah menjelma jadi seorang wanita. Walau tubuhnya masih tetap kecil. Sepasang mata almond kesayangannya berhias eye shadow cokelat keemasan. Tetap menawan setiap kali ia berkedip.

Percakapan terhenti sejenak. Ia menegak minuman berembun yang ia bawa entah dari mana, mungkin meja barista. Gerald berdalih pada lembaran novel yang masih terbuka. Tak benar-benar ia baca isinya. Bola matanya bahkan tak bergerak.

“Aku lihat namamu di buku tamu.” Ujarnya lagi. “Tapi kenapa kita gak bertemu?”

Gerald menutup novelnya. Ia letakkan di sisi kiri tangan kidalnya. Tangan yang lain mencomot sugar brown dalam kemasan sachet. Disobek ujung kemudian dituangkan ke dalam cangkir. Padahal minumannya sudah habis setengah. Gerald sengaja, untuk memperlambat tempo.

“Ya, ditengah-tengah acara aku harus pergi. Ada urusan mendadak.” Tak sekalipun ia mendongak saat menjawab. Berakting sama sekali bukan spesialisasinya. Setelah puas menyusun pergerakan amatirnya, Gerald menatap wanita di hadapannya. Dia menghela nafas yang bisa jadi berarti ohh begitu.

Hening menyeruak lagi. Gerald tak tahu harus berimprovisasi seperti apa lagi. Sebisa mungkin ia tak terlalu lama bertemu tatap dengan Mela. Diam-diam hanya mencuri kesempatan. Seperti saat ini. Ia dapati Mela menemukan sesuatu hingga tersenyum simpul. Gerald mengikuti kemana sorot matanya jatuh.

“Kamu bisa kena kencing manis kalau lima sachet sugar brown habis untuk secangkir kopi.” Diakhir kalimatnya, ada lengkung senyum mengembang. Gerald ikut terkekeh ringan.

“Sebentar, itu vanilla latte?” Mela bertanya spontan. Gerald melengkungkan senyum simpul sambil mengangguk ringan.

“Jangan bilang kamu pesan original chocolate?” Balas Gerald.

Akhirnya keheningan mencair. Keduanya tertawa renyah. Menertawakan takdir yang menggariskan pertemuan di waktu yang—lagi-lagi—sempurna. Bertemu sekaligus mengenang minuman favorit masing-masing. Tatkala dulu sering mereka lakukaan saat masih memadu kasih. Dahulu kala. Hitungan tahun. Beberapa tahun yang lalu.

Original chocolate with raspberry flavor?” Gerald mencoba menebak. Mempertahankan kehangatan yang menyeruak ketika tawa renyah pecah beberapa detik sebelumnya.

Nope! Kali ini strawberry flavor.” Tetap mengembangkan senyum sisa tawa sebelumnya.

Mela nampak mencari sesuatu dari dalam hand bag. Tangan kanannya muncul dengan sebuah pulpen. Menyambut novel di sisi kiri Gerald. Membuka sampul terluar dan menarilah pulpen di atas lembar pertama. Gerald menyimak dengan seksama. Meresapi efek cermin yang sudah lama tak ia temui.

Hitungan detik, novel sudah kembali ke tempatnya semula. Gerald menyambut, hendak membaca apa yang Mela tulis.

“Eits!!! Nanti aja, dibaca kalau sudah di rumah.” Cegahnya gesit. Belum sampai jemari Gerald menggapai novel, tangan mungil Mela sudah lebih dulu sampai. Sampul terluar ia timpa agar tak dibuka Gerald.

“Okey, baiklah.” Jawab Gerald singkat sambil mengangguk ringan.

Senyum indahnya mengembang lagi. Senyum yang ia temukan berkali-kali saat launching buku pertamanya di ball room hotel. Kini senyum yang sama tersungging khusus hanya untuknya. Memicu kehangatan di sekujur tulang pipi, wajah Gerald menghangat dan tak berhenti tersenyum.

Bibir mungil Mela kembali menyeruput cokelat dingin. Sambil bergulir ke arah bibir pantai membentang dengan debur melambai. Minta dihampiri.

bersambung

Karena Kidal #7

Kamu Sejarahku #9

Category: Sejarah

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What color is fresh snow?