Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Kamu Sejarahku #9

Berkali-kali Gerald tatapi wanita di sisinya. Menikmati belaian angin sore yang turut memainkan sebagian anak rambutnya. Menari-nari. Selebihnya berayun-ayun di tempat. Sesekali menunduk dan mendapati anak ombak terkecil menyapa ujung sepatu kanvasnya. Namun ia rela sepatunya sedikit basah. Mela menikmati pertunjukan sore oleh sang pemilik drama alam.

Setelah itu bergulir meratapi novel pertama sang penghuni memori lama. Ia genggam cukup kuat. Mengatur nafas sedemikian rupa. Seolah sanggup ia tata ritme detak yang sempat tak beraturan dari balik dada.

Gerald percaya takdir, maka ia berpikir mungkin ini adalah saat yang tepat.

Mela menyadari pergerakan tubuh Gerald dari ekor mata. Sepintas ada wajah yang menatap. Benar adanya, Gerald sedang menatapnya. Sebentar mata mereka bertemu. Gerald buru-buru meghindari. Novel dalam genggaman ia jadikan alasan. Mela mengikuti arah mata Gerald mendarat.

“Malam itu aku sengaja hadir.” Sedemikian berpikir keras, ia putuskan kalimat pembuka. Mela membeku. Rona ceria ketika berbalas sama dengan gemuruh ombak, sirna seketika.

“Aku hadir dengan potongan rambut dan kemeja terbaik.” Gerald memberi jarak satu tariakan nafas pada setiap kalimat. Diakhir hembusan, ada lengkung tipis di wajahnya.

“Aku meyakini satu alasan. Aku temukan semuanya di dalam sini.” Mengakhiri kalimat ketiga dengan mengayunkan novel dalam genggaman. Gerald ingin memberikan sebuah penekanan. Akhirnya tenaga yang sempat mencelat entah kemana, telah kembali pulang. Gerald mengangkat wajahnya. Dua pasang mata menatap sejajar.

“Tentang rambut gondrongku. Tentang efek cermin setiap kali kita menulis sambil berhadapan. Tentang tangan kidalku. Tentang kemeja pemberianmu. Tentang hadiah ulang tahun yang hampir terlambat. Tentang permainan pianoku. Tentang naluri musisi di dalam tubuhku. Tentang—.” Berhenti. Gerald dapati Mela semakin membeku. Dalam bungkam sepasang mata almond membulat. Dalam diam rahangnya menegas. Gerald juga menyadari nada bicara meninggi di akhir kalimat. Maka ia putuskan berhenti, walau belum selesai.

Gerald atur lagi nafasnya dalan tunduk. Mendorong bingkai kacamata yang ikut merosot hingga ujung hidung. Ia dapati sepatu kanvas Mela berubah warna. Beberapa kali anak ombak menyapu sisi lain dari sepatunya. Namun tak ia indahkan selama Gerald berucap.

Ketika wajahnya kembali terbit, Mela masih dengan tatapan amat beku.

“Kemudian seseorang datang membawa bunga. Saat itu juga aku memilih pergi. Berputar arah dan pergi.”

Satu tarikan nafas. Menghirup dan hembus.

“Tentang ketakutanku. Maaf jika kamu harus ikut menanggungnya.”

“Asal kamu tau, Mela. Setelah keputusanmu untuk menyerah, aku cepat-cepat datangi beberapa psikolog. Dengan begitu aku bisa mengatasi sendiri ketakutan ini. Tapi berjalannya waktu, aku hampir putus asa. Entah bagaimana caranya bisa buktikan kalau aku sudah banyak berubah.”

Semburat jingga memecah biru langit. Kemilau jingga turut jatuh di sepasang mata almond. Seperti efek kaca. Detik yang sama, sebagian beku mencair dari keindahan wajah Mela.

“Namun Tuhan kabulkan doaku. Aku bertemu Benjamin. Aku menyimak setiap pernyataan yang kamu tulis. Entah sudah habis berapa kali buku ini kubaca. Hingga aku beranikan untuk hadir di launching novel pertamamu. Aku pikir malam itu adalah waktu yang tepat.”

Gerald mendekatkan tubuhnya selangkah. Sangat pelan ia melangkah. Seolah takut sosok di hadapannya seketika melebur saat dirinya mendekat.

“Aku yakin. Kamu menulis tentang aku. Kamu masih mengenang aku. Barang kali kamu belum melupakan aku. Tapi kenapa, Mela? Siapa dia? Kalian bertemu setelah naskah novel ini rampung? ” Tanya Gerald. Setelah tukas panjangnya. Akhirnya pertanyaan itu terbit juga. Yang selama ini berputar-putar dalam angan. Inilah inti dari segala kalimat pembuka.

Mela tertegun luar biasa. Setiap potongan kisah Gerald semasa kepergiannya, meninju uluh hati hingga sesak. Berkali-kali ia menghirup lebih dan menghembuskan perlahan. Tidak sepenuhnya. Sepasang matanya memanas. Saat ia pejam sebentar, terasa kelenjar air mata memeras cukup deras. Namun ia tidak setetespun luruh membasahi pipi. Sebisa mungkin ia tahan.

“Aku memang masih mengenangmu, tapi bukan untuk kembali.” Jawab Mela.

Debur ombak hampir menenggelamkan suaranya. Beruntung Gerald berada cukup dekat. Satu langkah di depan. Sepasang mata dibalik wayfarer berbingkai penuh menatapnya lekat. Ia sangat siap menyimak. Sebelum melanjutkan penjelasan cukup panjang, Mela melengkungkan senyum simpulnya. Satu cara agar pilu—yang kapan saja bisa pecah— tidak membasahi wajahnya.

“Aku memilih tetap terus melangkah ke depan. Kamu tau? Apa yang membuatku bisa melangkah sampai sejauh ini?”

Gerald tak menjawab. Tak tahu apa jawabannya.

“Kamu, Gerald.” Jawab Mela singkat. Simpul seadanya mengembang amat lebar.

“Seperti halnya guru terbesar dalam hidup, maka kamu adalah sejarahku. Aku banyak belajar tentangmu, termasuk ketakutan dan kekanganmu. Setelah sekian lama baru aku paham kalau sesungguhnya itu semua adalah caramu mempertahankan aku.”

Memaknai setiap penjelasan Mela. Ada daya yang melemahkan saraf tegang di sekujur tubuh Gerald. Genggaman melemah, namun buku setebal 200 halaman tak sampai merosot dari tangan. Masih tetap bergantung disana.

“Salahku, dulu justru menyerah. Salahku, dulu gak pernah berpikir sampai kesana.” Lanjut Mela. Tatapannya merendah pada warna biru langit kemeja Gerald. Memudar bersama semburat senja. Baru ia mengenalinya. Kemeja pemberiannya dulu. Bahkan masih sangat pas. Tidak kekecilan atau kusam. Dia benar-benar berpikir ingin kembali seperti dulu?

“Kemudian dia hadir. Gak ada sedikitpun memori tentangmu tersirat dalam tingkah lakunya. Dia jauh berbeda. Dari situ aku mengambil keputusan baru. Terus melangkah tanpa mengulang kesalahan yang sama. Maka aku berpikir lebih jauh. Mengamati lebih dekat. Memahami lebih dalam. Dan kamu tau, siapa yang mengajari aku?”

Mela mendekat setengah langkah. Menjangkau tangan kiri Gerald. Namun jemarinya bergeming.

“Jadi aku salah sangka?” Tanya Gerald.

Mela menggeleng ringan sambil mempertahankan senyum simpulnya.

“Bukan. Ini waktunya kamu memahami makna sejarah.”

Mela bergulir. Meninggalkan Gerald yang masih terpana di tempatnya. Sedangkah ia lebih memilih langit senja beraneka warna. Merasakan lagi lambaian angin pantai. Ia hirup dalam-dalam. Dadanya mengembang pelan kemudian ia hembus lebih pelan lagi. Sengaja ia tahan udara berkelembaban penuh di dalam paru-paru. Mengusir sesak yang sempat mengusik, agar ikut melebur ketika nafasnya berhembus.

Dapat Gerald rasakan kehangatan senja menyeruak dari sela jemari. Saat jemarinya balas menggenggam, maka kehangatan merambat hingga rongga dada dan saraf wajah. Menyentil otot pipi yang menarip ujung-tepi bibir dan menariknya ke atas. Betapa Gerald menikmati masa-masa nostalgia.

“Mel.”

“Ya?” Mela menoleh.

“Terimakasih.”

Tak ada jawaban. Hanya senyum amat lebar dan sepasang mata almond. Mungkin aksennya sudah banyak berubah, tapi senyumnya masih sama. Tak kuasa ia lepaskan tangan Mela. Dan masih sehangat dulu.

Jika Gerald hendak menjelaskan bagaimana Mela saat ini. Baginya, gadis kesayangannya telah tumbuh dewasa tanpa menghilangkan setiap detail yang akan selalu jadi favotirnya. Sepasang mata selebar kacang almond, senyum termanis dan hangat.

Bukan lagi waktu yang menguasai, tapi memang semuanya telah dikuasai oleh waktu. Ia bergulir dengan sejuta kejutan bersamanya.

bersambung

Bertemu Lagi #8

Terima Kasih, Mela #10

Category: Sejarah

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 8 times 7?