Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Kertas Putih

Tungkai kecilnya bermain-main di udara. Punggung mungilnya bertumpu di kasur seharga nyaris sejuta. Bantal empuk menopang tengkuk dan kepala yang penuh dengan detail semesta. Ia serap saat menghirup udara sore atau sekedar menyimak cerita Emp tentang orang-orang hebat di dunia maya. Orang-orang hebat itu nyata, tapi Emp simak riwayat hidup mereka di jejaring sosial.

“Yeah, malam ini aku gak pake kaos kaki.” Telapak kakinya berputar-putar di udara. Seolah-olah sedang menapaki langit-langit kamar Emp. Amy cukup senang. Baginya perlu ada sebuah perayaan kecil tentang keajaiban ini. Baru kemarin ia kedinginan. Kaos kaki bola Emp ia pinjam, dipakai dan ditarik hingga menutupi lutut. Selimut Emp ia rebut untuk membukus tubuhnya. Mirip kepompong.

Emp hanya meng-iya-kan Amy yang berseru riang. Senyum tempias di wajah Emp yang menatap Amy sambil diam. Itu juga jika Amy sadar. Kamar Emp hanya bercahaya lampu meja yang sudah rusak dimmernya. Lampu dihadapkan ke dinding. Cahaya pecah disana dan sisanya adalah hasil pantulan yang memudar saat menjauh dari sang lampu. Masih bisa terlihat hijau tosca dinding kamar Emp. Agak tua karena penerangan yang apa adanya. Dan Amy menikmati itu.

Kini tungkainya mendarat di kasur. Lelah bermain-main.

“Amy, apa yang kamu pikirkan tentang anak?” Tanya Emp.

Kepala Amy berputar. Ia dapati Emp berbaring di sisinya sambil menatap langit-langit hijau tosca. Ia sadar Amy sedang menghujam dengan sepasang bola mata membulat. Pertanyaannya terlewat absurd untuk waktu Indonesia bagian normal. Belum masuk area waktu error dimana mereka suka membahas berbagai hal tanpa batas nalar dan logika.

“Kalau anak itu ibarat kertas putih, apa yang akan kamu lakukan dengan kertas itu?” Pertanyaan Emp berlanjut. Beralih membalas tatapan Amy yang masih membulat. Emp tak lagi bersuara. Jelas ini waktunya Amy menjawab.

Gadis ini menarik nafas. Menghirup serpihan semesta sebagai nutrisi otak sebelum ia habiskan banyak tenaga untuk menjawab Emp. Tangan kurus Amy bertemu dengan dinding hijau tosca, kamar Emp. Meraba permukaan dinding yang berjumpa dengan kulit tipisnya. Senyum tipisnya menyungging saat kembali menatap lelaki di sisinya yang masih diam.

“Anak itu memang seperti kertas putih. Masih kosong. Orang tua yang akan mengisi kekosongan itu. Anak akan mau jadi apa, karakternya mau dibentuk seperti apa, itu semua keterampilan dari sang orang tua.”

Amy berhenti sejenak untuk mengisi nafasnya lagi.

“Kalau aku jadi orang tua. Ada satu hal yang akan aku lakukan sebelum mengisi kertas putih itu.” Amy berhenti lagi. Tapi nafasnya masih penuh. Ia hanya berhenti sejenak untuk menyimak ekspresi wajah Emp. Setelah sebelumnya Amy menjawab sambil menerawang jauh ke dalam sekat-sekat otaknya. Emp masih menatapnya. Menanti sampai Amy selesai menjawab.

Jemari Amy masih mengelus permukaan dinding kamar hijau tosca milik Emp.

“Kertasnya memang putih. Semua anak yang hadir di bumi itu seperti kertas putih. Tapi pernah gak kamu berpikir tentang tekstur kertasnya. Walau sama-sama putih, apa iya sama tebalnya? Sama halusnya? Sama pola permukaannya? Siapa tau dia bukan putih cemerlang, tapi putih gading atau putih laguna.”

Nafas Amy habis lagi. Sambil ia menghirup oksigen, ia temukan kerut di dahi Emp. Hati Amy terasa lebih lapang dan menggelitik hingga terbit senyum di wajahnya.

“Darimana datangnya tekstur kertas itu? Dari genetik orang tuanya. Apa yang bisa kulakukan setelah aku paham bagaimana tekstur kertas putih anakku kelak? Minimal aku tahu jenis tinta apa yang tepat untuk mewarnai kertas ini. Seperti kertas kalkir yang berpasangan dengan tinta pulpen rapido. Kalau nanti kertas putih ini jadi lukisan, dia gak akan terlihat indah. Dia juga akan nyaman dengan cat dan warna di tubuhnya. Bisa jadi warna itu adalah warna kesukaannya.”

Kerut di dahi Emp sirna. Senyum Amy semakin merekah.

“Kelak aku ingin kenal dulu karakter anakku sebelum kulatih dia menjadi seperti yang aku dambakan. Pasti ada miniatur karakterku di sana.”

Selesai.

Dan Emp tertawa renyah sambil melempar sorot matanya pada langit-langit hijau tosca. “Ada yah folosofi kayak gitu?” Kembali menatap Amy dengan senyum menyeringai. Meragukan jawaban Amy.

“Ada dong. Ini buktinya.” Tukas Amy. Sedikit kesal.

“Tapi gak semua orang akan berpikir hal yang sama kan, Am?”

“Memang gak semua, Emp.”

Emp mengalah. Ia beri kesempatan Amy untuk mengembangkan jawabannya.

“Filosofi kertas putih ini terbit setelah aku menyepakati apa yang sedang aku pikirkan. Kamu gak perlu memahami ini. Cukup menyimak. Siapa suruh tadi nanya ke aku tentang ini?” Amy mulai kesal.

Emp kembali melengkungkan senyum sambil menatap Amy.

“Aku ngerti kok, Am.”

Mereka saling menatap. Senyum merekah di masing-masing wajah dan akhirnya tergelak bersama.

“Aku mikirnya gini. Kalau kamu kan hasil akhirnya jadi lukisan. Nah, kalau aku nanti mau jadi bidang tiga dimensi gitu kertasnya. Seru kan.” Tukas Emp di tengah-tengah tawa yang masih berlanjut.

“Ini ngomongin anak atau origami?” Tawa Amy kembali pecah dalam bilik remang hijau tosca yang terlihat tua. Disusul gelak tawa Emp.

Malam ini hujan tidak lagi turun seperti kemarin. Malam ini masih dingin. Tawa di tengah-tengah bilik hijau tosca menangkis dingin yang merembet masuk dari celah pintu atau ventilasi. Malam ini dingin kalah dengan tawa mereka hingga Amy tak butuhkan lagi kaos kaki Emp.

Tawa kita hangat

Category: Bilik Kecil

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 2 + 7?