Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Semua Berawal Dari Sini #1

“Yu, ikutan Kelas Inspirasi Bandung. Wacananya bakal ada putaran yang kedua.”

“Seriusan? Kebetulan banget, aku pengen jadi panitia nih, kang.”

“Yaudah ikutan aja, ntar dikabarin kalau ada pertemuan perdana.”

“Eh tapi aku lagi skripsi euy. Bisa gak yah? Ini aja baru beres urusan ng-lab langsung meluncur ke Jakarta.”

“Bisa! Skripsi itu bakal kelar kalau dikerjain.”

Hiruk pikuk Ecopark Convention Hall, 5 Oktober 2013. Jakarta. Matahari diluar sana sedang sibuk benderang dengan kekuatan maksimal. Walau katanya sudah ada air conditioning, tetap saja, di dalam hall, orang-orang sedang terbakar nasionalisme. Tak apa, toh aku disini ikut membara, bukan sekedar hangus terbakar. Yihaaayyy…

Dari sini semua berawal. Percakapan ringan diantara ribuan orang yang sedang menyalurkan tenaganya untuk kerja bakti. Ungkapan bergerak serentak dan terjebak di lingkungan positif. Festival Gerakan Indonesia Mengajar.

Makhluk orange gonjreng khas polo shirt Kelas Inspirasi Bandung yang pernah aku lihat waktu itu. Hei yah! Berjumpa lagi dengan orang ini hahhaa… Waktu itu pernah tak sengaja berkelakar di kedai kopi saat sedang sama-sama luang. Sekarang juga sama-sama luang dan kembali berkelakar tentang usia. Hanya beda tempat. Siapa sangka ternyata do’i adalah Koordinator Kelas Inspirasi Bandung putaran kedua. Sebut saja dia Ibrahim Imaduddin alias Big Boss Bamskii.

Masih terus menimbang-nimbang antara skripsi atau jadi panitia entah di divisi apa nanti. Tapi toh bener juga kata Kang Ibam, “Skripsi itu bakal beres, asal dikerjain!”

Sikat Yu!!! SIKAAAATTTT!!!!! Nyikat leptop sampai kinclong.

***

Hitungan minggu kabar itu benar-benar mendarat di kotak pos digitalku. Ajakan untuk #Ririungan di Saung Angklung Udjo. Ah deket dari kosan. Cincailah. Yang pasti waktu itu hari minggu pagi menjelang siang.

Angan-angan masih seperti suasana briefing seperti Februari 2013 lalu. Ternyata senyap. Tak ada X-banner atau atribut penggembira yang biasa bikin suasana makin meriah. Angin pun lewat sekali dua kali saja.

“Aku sudah di depan Saung Udjo nih, Kang.”

“Masuk aja ke dalem, Yu. Yang ada bangku bambu.”

“Gak ada banner kayak waktu itu?”

“Memang gak make banner, Yu.”

“Okey.”

Klik!

Di depan sudah ada dua makhluk orange gonjreng dengan polo shirt yang sama seperti Februari 2013 lalu. Satu tangan baru memadamkan telpon dari handphone tangan satunya lagi memberi salam ala hi five.

“Hi, Yu.” Sapa singkat Kang Ibam.

Yow. Baru segini orangnya?”

“Yes.”

“I’m the first.”

“Yes.”

Makhluk orange yang satunya lagi. Itu Kang Bhawi. Aku lupa waktu itu dia lagi sibuk apa. Oh yah, lagi sibuk ngutak-atik leptop yang terhubung langsung dengan TV LCD di depan stage. Gak lama kemudian dari layar TV muncul video-video dokumentasi Kelas Inspirasi Bandung putaran pertama 20 Februari 2013. Ah iya, SD tempatku dulu bertugas gak akan mungkin nongol di layar. Waktu itu fotografer cuma berdua sama Teh Fitri dan gak ada videografer.

Menapak tilas beberapa bulan lalu. Kikuk saat jadi pusat perhatian anak SD. Masih belum fasih bersenda gurau dengan anak-anak. Sesekali hanya ikut tersenyum saat beberapa bocah datang dan minta difoto. Baru akan keluarkan kamera dari casenya, mereka sudah duduk manis di depan mata. Siap-siap senyum. Sebenarnya mereka tak semenyebalkan yang aku kira. Mungkin, kalau aku bisa lebih luwes dari ini.

Kembali ke #Ririuangan perdana.

Satu per satu para inspirator Kelas Inspirasi Bandung putaran pertama mulai berdatangan. Ada juga teman sesama fotografer. Gak banyak yang datang, mungkin 10 orang. Seingatku waktu itu ada Bu Ayu dan sang suami, Kang Yanuar, Kang Rio, Pak Desmond, Om Ferry dengan kaos hijau royo-royo Festival Gerakan Indonesia Mengajar. Dan segitu saja ingatanku. Ada aku tentunya di bangku paling depan.

#Ririungan dibuka dengan Laporan Pertanggung Jawaban Kelas Inspirasi Bandung putaran pertama (kemudian disingkat KI Bdg 1) Februari lalu. Duo orange (Kang Bhawi & Kang Ibam) duduk di depan menghadap para relawan KI Bdg 1, termasuk aku di bangku terdepan.

Dan paparan dimulai.

Siapa sangka panitia KI Bdg 1 waktu itu hanya 11 orang termasuk Kang Bhawi sebagai Koordinator Umum (Ketua) saat itu. Menjangkau 22 Sekolah Dasar, 120 relawan inspirator dan 45 relawan dokumentator (fotografer dan videogrfer). Pantesan SD Sindang Sari 3 gak kebagian videografer.

Dari sana tumbuhlah harapan baru yang akan jadi tunas semangat untuk Kelas Inspirasi Bandung putaran kedua (selanjutnya disingkat KI Bdg 2). Inginnya, bisa lebih banyak lagi SD yang akan dikunjungi oleh para inspirator. Inginnya, bisa merangkul lebih banyak lagi para profesional yang punya naluri besar untuk berbagi. Inginnya, melibatkan lebih banyak dokumentator agar seluruh momen inspiratif di dalam kelas tak ada yang terlewat. Inginnya, bergerak lebih leluasa dengan jumlah panitia yang lebih banyak dari KI Bdg 1.

Ingin ini~ ingin itu~ banyak sekali~ *nyanyik pakai baling-baling bambu*.

Aku? Masih tetap menimbang-nimbang dari bangku bambu barisan terdepan. Apa iya aku mampu jalanin ini semua bersamaan? Event ini akan lebih besar dari KI Bdg 1. Skripsi juga harga mati antara hidup atau mati suri.

Kemudian suara Kang Ibam beberapa minggu lalu kembali terngiang-ngiang berisik di telinga.

“Skripsi itu bakal beres, asal dikerjain!”

SKAKMAT!!!

Masuk ke sesi advice. Tentang apa-apa yang kurang dari KI Bdg 1 dan seharusnya bisa lebih baik di KI Bdg 2. Aku? Diam dalam bengong menyimak satu per satu angkat bicara. Hingga akhirnya aku cuma memikirkan satu hal.

“Gimana kalau twitter juga bantu ng-share posting-posting blog tentang Kelas Inspirasi Bandung yang ditulis langsung sama semua relawan? Pasti ada kebanggan tersendiri ketika tulisan kita di promote sama aku KI Bdg. Di group facebook banyak banget yang ng-share tulisan di blog. Sayang banget kalau cerita-cerita seru itu diem aja di dalam group.”

Dan sialnya, beres angkat bicara, duo orange ini saling pandang sambil melempar senyum yang artinya nah ini dia!!!

“Kang, kayaknya kita punya admin twitter baru nih.”

Setelah itu beberapa lembar kertas mendarat di tangan. Lembar absen dan beberapa lembar tabel kosong berisi beberapa divisi. Aku? Yah sudahlah, publikasi saja. Pahamnya cuma bahas twitter walau bukan manusia sosial media.

Dan inilah awal mula kisah mahasiswa teknik lingkungan galau skripsi yang merangkap peran jadi Koordinator Divisi Publikasi di Kelas Inspirasi Bandung putaran kedua.

Gimana jadinya? Liat aja ntar hahahaa…

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 4 times 7?