Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Lelucon

Suntikan semangat datang bertubi-tubi. Setiap kali aku bercerita tentang bagaimana kabarku saat ini. Kepada beberapa teman, salah satunya teman lama.

“Gimana kabarnya sekarang?” Tanya seorang teman lama saat bertemu di beberapa kesempatan.

“Sedang menuju sarjana. Doakan aku cepat menyusul seperti kamu ya.” Dari senyum simpul, sengaja kukembangkan hingga seluruh wajahku merekah. Tak pernah terbesit di dalam benak bahwa ini adalah pertanyaan yang menyakitkan. Jawab jujur saja. Toh memang begini keadaannya.

Dia ikut tersenyum. Menepuk bahuku beberapa kali dan berkata, “Pasti bisa menyusul, Yu. Biasa nulis naskah di blog, pasti nulis tugas akhir juga bukan hal yang beratkan?” Kalimat terakhir ditutup dengan tawa renyah. Aku yang tertawa setengah terbahak. Lalu tawa kami sama-sama meledak.

Sama-sama menulis, memang tak ada bedanya. Tetap saja akan berkutat dengan laptop dan Ms.Word. Kembali pada objek di dalam tulisan. Menulis kisah-kisah fiksi di dalam naskah dengan menulis hal luar biasa konkret semacam pola gejala alam. Menyamakan kapasitas kedua hal tersebut adalah lelucon. Waktu itu aku dan teman lamaku sama-sama mengerti, makanya kami tertawa sangat jujur. Mungkin dia mengenang sepintas masa-masa gentingnya dulu. Masa yang sedang kujalani.

Pernah suatu hari aku bersyukur. Tentang kemahiranku menulis. Terbiasa menyusun kata-kata. Merekam setiap diksi baru setiap kali membaca dan kupakai saat menulis hal-hal yang menyenangkan. Bersyukur tentang kecerdasan visualku yang sangat dominan. Isi kepalaku terbiasa dengan gerak-gerik angan hingga jadi pola imajinasi yang siap kugambar ulang dalam tulisan. Hingga akhirnya kemahiran ini menjadi sarana terindah di masa-masa seperti ini. Di penghujung akademik, menuju sarjana.

Pernah suatu hari dosen pembimbing melontarkan sebuah pertanyaan yang mengejutkan. Pertanyaan ini hadir menjelang seminar hasil penelitian tugas akhir dan aku sempat mengeluh kesulitan. Kesulitan menulis jurnal online.

“Setahu bapak, kamu biasa menulis cerita di blog, tapi kenapa sekarang nulis jurnal penelitian kamu mengalami kesulitan. Sama-sama nuliskan?” Sejurus kemudian, kedua lengan gemuknya terlipat di depan dada. Dari berkerut dan menatap penuh tanya.

Kali ini bukan lelucon yang sempat buat aku dan temanku tertawa geli sekaligus jujur. Beliau menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursi. Lengan masih terlipat dan dahi masih berkerut. Aku terpaku beberapa saat. Menelaah apa yang salah dengan diriku. Urusannya sama-sama menulis dan mengatur letak posisi diksi dalam satu kalimat. Mengapa kali ini sulit?

Aku mundur beberapa hari kebelakang. Ketika tumpukan buku kimia berserakan di sekitarku. Pulpen di tangan kanan berulang kali menulis nama-nama unsur yang bereaksi di dalam reaktor, sedangkan tangan yang lain menggenggam tabel periodik. Sepuluh detik kemudian tangan kanan sudah bergulir dengan buku kimia elektroplating. Mengamati reaksi perubahan bilangan oksidasi yang belum kupahami asal-muasalnya. Mengapa bilangannya berubah? Mengapa perubahan yang terjadi selalu di titik waktu yang sama? Mengapa perubahan yang terjadi berbanding lurus dengan perubahan warna cairan di dalam reaktor?

Sebentar! Tadi aku bilang apa? Aku belum paham tentang reaksi oksidasi?

Seperti kejatuhan kerikil tepat diubun-ubun kemudian aku tersadar dari tidur siang super singkat. Kutata rapih ritme nafas kemudian membalas tatap dosen pembimbing yang masih menunggu dengan sabar.

“Ada perbedaan tingkat pemahanam saya, pak.” Jawabku yakin. Beliau tetap menunggu, mengerti bahwa aku belum benar-benar selesai menjawab.

“Selama ini saya menuliskan hal-hal yang dekat dengan saya. Tentang dunia saya. Pengalaman hidup, imajinasi, hingga suasana hati. Sedangkan materi tugas akhir ini jauh dari dunia yang saya geluti.”

Satu tarikan nafas, dan kembali atur kalimat.

“Saya butuh proses untuk mengenal materi ini. Itu sebabnya saya harus mengumpulkan teori sebanyak-banyaknya, melakukan penelitian di laboratorium, mencatat setiap perubahan pada reaktor, menganalisis seluruh gejala yang terjadi dan menarik kesimpulan. Kalau saya tidak melakukan semua tahap ini, mana mungkin saya paham dengan apa yang akan saya tulis.” Jelasku lengkap. Sangat lengkap.

“Jadi intinya kamu harus paham dengan apa yang akan kamu tulis?” Tukas beliau. Ada senyum jahil dari sudut bibir keriputnya. Aku mengerti, ini sindiran halus. Terjawab sudah bahwa sesungguh aku masih belum paham dengan materi tugas akhirku sendiri. Aku tergelitik, senyumku adalah ekspresi malu seorang bocah yang ketahuan menyembunyikan permen di balik punggung.

Kemudian otak kecilku masih berputar dengan kecepatan yang lebih lambat. Mengingatkanku pada salah satu naskahku yang bercerita tentang mahasiswa kedokteran. Sang karakter utama jatuh cinta pada salah satu pasien saat sedang co-asst di sebuah rumah sakit swasta. Aku mendatangi beberapa teman dari jurusan kedokteran untuk bertanya ini-itu. Tapi toh pada akhirnya aku berhasil menyelesaikan naskah itu. Dengan satu syarat tentunya. Dengan sebuah riset kecil dari hasil wawancara santai dan menyimak pengalaman sang teman yang mengalami sendiri sensasi berkutat di rumah sakit sebagai mahasiswa co-asst.

Lantas apa bedanya dengan menulis laporan tugas akhir? Bahkan menulis naskah pun aku butuh riset. Terutama saat akan menulis cerita dari luar duniaku.

Anggap saja aku sedang menulis naskah tentang arus listrik dan ion di dalam elektrolit yang saling bekerja sama untuk menyisihkan limbah logam pada limbah cair industri. Setiap reaksi kimia yang terjadi adalah kronologis adegan dari cerita yang kutulis.

Ya, sekarang aku mengerti. Lelucon yang sesungguhnya adalah diriku sendiri.

selesai

Category: Serpihan Kaca
  • Tas Kamera Murah says:

    Berbakat jadi novelis ya….
    Semangat ya…

    April 14, 2014 at 1:49 am
  • ayu emiliandini says:

    thank you :”)

    April 15, 2014 at 8:04 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is frozen water?