Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Buang-buang Waktu

Bicara tentang buang-buang waktu.

Terkesan pesimis. Sesal yang baru mencuat di belakang. Sama seperti cuma dapat lelah setelah melakukan kegiatan sosial. Tindakan mulia padahal.

Bisa jadi akibat dari bosan menunggu. Dikira menunggu itu cuma menonton kelopak bunga rontok satu per satu.

Februari 2014 aku lulus. Pakai baju dan topi toga. Pakai kebaya dan berdandan dari pagi-pagi buta dengan hati senang. Berhujan selamat dan rangkaian bunga. Indahnya hari bertoga.

Sebulan pertama setelah itu. Maret 2014. Masih belum terasa. Euforia bahagia masih tersisa. Cuma sedikit berat karena harus kembali ke rumah. Sudah tak punya alasan bertahan di Bandung.

Dua bulan kemudian. April 2014. Aku bisa apa? Lebih banyak duduk di depan leptop dengan wifi berkuota tak terhingga. Mencari pekerjaan. Dari website ke website lain. Kadang kala bertanya kepada teman. Semangat masih berkobar. Kalau ditutup gelap, dia menyala sampai bikin mata silau. Segala jenis perusahaan aku kunjungi website nya. Ada lowongan di bidang teknik lingkungan, bersyukur, kalau tidak ada ya tinggal cari bidang lain yang masih sesuai dengan kemampuan diri. Nyatanya jurusanku ini belum populer, walau banyak yang bilang kalau teknik lingkungan sedang banyak yang membutuhkan. Entah siapa yang butuh.

Tiga bulan berikutnya. Mei 2014. Awal bulan kembali datang ke Bandung untuk mencari kerja. Status pengangguran belum begitu mengusik. Diajak berkelakar karena urusan yang satu ini, masih bisa tertawa lepas. Menjalani wawancara pekerjaan dan lebih banyak nunggunya.

Masuk bulan keempat. Juni 2014. Setiap hari ngecek email, mana tau ada panggilan tes atau wawancara. Sejauh ini aku baru tiga kali bertemu dengan isi email seperti itu. Pertama dari sebuah perusahaan konsultan IT di Jakarta Pusat. Kedua dari perusahaan migas di Balikapapan. Ketiga dari Djarum, tapi palsu. Aku ditipu. Untung belum ada uang yang hilang, cuma kecewa.

Jiwa idealisme sarjana baru lulus, “yang penting ijazah laku dulu”, nasihat dari Om yang menetap di Tuban.

Niat hati ingin setuju saja dengan perusahaan konsultan IT yang ada di Jakarta. Tapi masalahnya itu Jakarta. Jauh dari rumah (lagi). “Empat setengah tahun kuliah di Bandung, masa kerja juga masih jauh dari rumah”, keluh orang tua.

Aku? Bisa apa?

Dua minggu yang lalu datang ke wawancara pekerjaan di perusahaan migas, Balikpapan. Orang tua sudah pasti antusias. Perusahaan yang sudah sangat akrab di telinga mulai dari aku balita. Besar harapan orang tua bila aku bisa bekerja disana. Tapi masalahnya, aku harus menunggu (lagi). Dua minggu rasa dua tahun.

Aura pesimis mulai jadi jamur. Tumbuh setitik-setitik, menjalar. Merambat sampai lumpuhkan optimis yang dulu ikut berkobar bersama semangat kebahagiaan. Terdegradasi oleh waktu.

Aku sempat berbagi cerita dengan teman baru yang pernah merasakan setahun jadi pengangguran. Empat bulan rasanya sudah mual, ini satu tahun? Tapi dari hasil perbincangan itu, aku tak dapat apa-apa. Pesimis masih betah bernaung badan. Bernaung di nalar. Menyentil hormon, emosi bukan main labilnya.

Kembali lagi tentang buang-buang waktu. Jadi selama 4 bulan ini aku sudah buang-buang waktu?

Mari ditelaah lagi. Mundur beberapa langkah sejenak. Satu bulan pertama aku masih menikmati masa-masa berlibur. Dua bulan setelahnya aku menyebar CV ke berbagai perusahaan, walau belum banyak effort. Bulan ketiga kembali terbang ke Bandung untuk beradu nasib di Job Fair dan hadiri wawancara. Sampai ke bulan keempat, aku berpikir bahwa selama ini adalah buang-buang waktu.

Aku sedang membuang waktu?

Sepertinya tidak. Walau belum ada hasilnya tapi bukan berarti ini sia-sia. Belum ada hasil? Hhhmm… Sia-sia juga terkesan putus asa.

Oohh.. Aku tahu. Berarti aku harus lebih sabar menunggu.

Berdoa, tirakat dan menunggu. Kedua tangan dan kaki sudah membawa tubuh berselancar kemana-mana. Sekarang tinggal tangan-tangan ajaibNya yang menentukan.

Jadi selama ini aku buang-buang waktu?

Hei waktu, kamu merasa terbuang?

Jadi selama ini aku buang-buang waktu?

Aku tidak tahu.

Sepertinya aku butuh donor semangat. Would you help me, guys? 

  • Wana says:

    aku juga lagi gitu.. yaudah lah jadi petualang aja keliling dunia, macam si mc candels..

    June 9, 2014 at 6:04 am
  • ayu emiliandini says:

    itu mc candels siapa ya? hahaha… selamat datang sajalah di romadon… semoga cepet lebaran XD

    June 9, 2014 at 9:32 am
  • johantectona says:

    mungkin, kamu disuruh untuk rajin menulis, mungkin kamu disuruh nerbitin buku diselasela pencarianmu, sabar.. janganlah berburuk sangka, nikmatilah semua yang ada. ini serius, nikmatnya mencari pekerjaan itu akan sangat ngangenin, bahkan aku sempat kangen dan bahkan aku sempat mengulanginya :D

    June 30, 2014 at 12:49 am
  • ayu emiliandini says:

    hahaha thank you mas jo

    July 18, 2014 at 7:00 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 3 + 6?