Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Percaya Siklus

Pupil cokelat almond melirik Emp yang masih terpaku di depan komputer. Lalu kembali tenggelam dalam abu-abu cokelat lembaran novel “Dunia Sophie”. Tidak benar-benar Amy membaca. Kepalanya sudah pening. Menelaah perjalanan hidup si Sophie yang sedang bermain-main dengan Alberto. Menurutnya Alberto ini semacam arwah dari abad pertengahan. Menyeberangi zaman hanya untuk curhat.

Tebalnya novel sudah bikin pegal. Ditopang dengan tangan kurusnya. Salah sendiri, dia baca sambil tiduran. Sengaja. Supaya pergerakan Emp tetap dalam jangkauan mata Amy. Dan Emp bergeming.

Tiba-tiba gemuruh menyerbu dari balik jendela. Amy terusik. “Dunia Sophie” batal mendarat di wajahnya. Tubuh kecil ini keburu melesat. Menyelinap masuk ke balik tirai transparan. Dilihat dari belakang, hanya ada sepasang tungkai berkaos kaki bola setinggi lutut yang muncul dari balik tirai. Kaos kaki Emp yang diulur sampai lutut.

Jemari Amy dapat rasakan dentuman mungil dari bulir hujan yang menghantam jendela. Langit tertutup gulali abu-abu hitam, bergerumbul. Tanpa kilat. Tanpa guntur.

Otak kecilnya berputar pelan-pelan. Akibat berkutat dengan novel filsafat. Pemanasan nalar.

Satu per satu bulir hadir menghantam kaca. Telapak tangan Amy nempel di permukaan kaca.

“Emp?”

“Cetak-cetik” tetikus Emp berhenti. Derasnya gemuruh hujan, justru bisikan Amy yang lebih mengusik. Emp dapati Amy sudah berlutut di sisi. Kursi beroda ia putar agar dapat menghadap Amy.

“Emp. Kamu percaya siklus?”

Ia menatap Amy dan hujan di luar jendela, bergantian. Tak ada jawab. Amy paham betul, pasti Emp sedang bergumam seputar siklus hidrologi, siklus nitrogen, siklus sulfur dan berbagai siklus materi organik yang berputar-putar di alam semesta. Bergumam dalam benak.

“Emp. Aku percaya siklus.”

Titik pandang Emp jatuh di sepasang mata cokelat almond. Bertahan di sana hingga senyum simpulnya mengembang. “Karena kamu dan semua perempuan di muka bumi ini punya siklus? Tamu setiap bulan?” Amy tergelak. Bahunya sampai berguncang. Emp cukup terkekeh pelan. Lebih senang menikmati kebebesan Amy bersama tawanya.

“Benar juga. Tapi bukan itu maksud aku, Emp.”

Amy bangkit. Duduk di tepi tempat tidur yang ada di belakang meja komputer. Emp mengikuti, memutar kursi agar tetap berhadapan dengan Amy. Sampai akhirnya Amy siap dan Emp menarik nafas.

“Menurutmu, dari mana datangnya ide?”

Ini baru pertanyaan bagi Emp. Pupil mata Emp berputar ke berbagai arah, memikirkan jawaban. Amy menunggu, ia tahu, Emp sudah terlibat di dalam dunianya. Dunia Amy.

“Dari inspirasi.”

“Yap. Kemudian inspirasi itu datangnya dari mana?”

Amy senang. Ini akan menjadi awal diskusi yang menyenangkan.

Emp meregangkan otot kaki yang dari ditekuk. Menyandarkan punggung sambil menarik nafas dalam-dalam. “Inspirasi itu bisa datang dari mana saja, Amy. Dari taman. Dari musik. Dari percakapan di kantor. Bahkan dari bentuk hidungmu juga bisa jadi inspirasi.”

Kali ini Emp yang tergelak. Ia mencubit hidung Amy yang memang tidak begitu mancung. Amy coba menangkis tapi gagal. Akhirnya ikut tertawa. Pasrah kalah.

“Okey. Anggap saja inspirasi itu datang dari alam semesta.”

Emp masih menghabiskan sisa tawanya tapi Amy sudah kembali pada jalur diskusi. Emp tegakkan lagi punggungnya. Menyimak Amy.

“Anggap inspirasi itu seperti debu yang melayang-layang cantik di udara. Kemudian kehadirannya direspon oleh panca indera manusia. Kamu bilang bisa datang dari taman, musik, bahkan percakapan di kantor. Berarti ada peran telinga, mata, kulit, lidah, dan hidung.”

Emp menahan tawa. Amy hanya melirik, tak ingin risau. Sadar Amy sedang ingin serius, Emp mengatur nafas agar tawanya batal bersuara. “Betul.” Tukas Emp sambil menganggukkan kepalanya sekali.

Senyum simpul Amy terbit.

“Kemudian respon dari panca indera ini diolah di dalam otak. Bercampur aduk dengan berbagai input yang lebih dulu berdiam diri disana. Kemudian ‘ting!’ ide muncul sebagai hasil dari olahan tersebut.” Amy menjentikkan jarinya ketika berseru ‘ting!’. Seolah-olah bohlam kuning benar-benar menyala di atas ubun-ubunnya. Emp kembali mengangguk kecil. Ia setuju.

“Ide versi kamu, mungkin berupa desain visual 2 dimensi. Ide versiku bisa jadi sebuah naskah cerpen. Ide versi Melly Goeslaw, pasti berbentuk lirik lagu. Ide versi Hanung Bramantyo berupa film. Dan seterusnya.”

Nafas Amy habis. Berhenti sejenak untuk menarik nafas.

“Misalnya film. Film yang terinspirasi dari kehidupan di muka bumi. Ditonton oleh manusia yang juga terlibat di dalam kehidupan itu. Kemudian manusia-manusia ini terinspirasi oleh film tersebut dan muncul lagi ide-ide baru yang nantinya akan dipersembahkan kembali kepada alam semesta.”

Amy bangkit dari tepi kasur. Maju setengah langkah dan berlutut lagi di hadapan Emp. Kedua lengannya melipat di atas pangkuan Emp. Kepalanya sedikit mengadah agar sejajar dengan wajah Emp.

“Emp. Ini sebuah siklus.”

Senyum merekah di akhir kalimatnya.

“Tidak hanya materi. Inspirasi dan ide yang bukan materi juga bersiklus.”

Lengkung di bibir Amy semakin merekah hingga ke setiap sudut wajah. Emp menggapai pipi gempil Amy dengan sepasang telapak tangannya.

“Aku percaya bahwa kamu percaya dengan siklus, Amy.”

Amy tersenyum dengan seluruh jengkal tubuhnya. Dimana Emp kembali dengan senyum tipis. Menikmati kebahagiaan Amy bersama dunianya. Bersama kebebasan dalam tawa. Amy cantik dengan kebahagiaannya. Dan Emp sangat mensyukuri hal itu.

“Jadi. Siklus itu bukan cuma milik air, sulfur dan nitrogen. Tapi juga inspirasi, ide, bahkan nyawa dalam reinkarnasi. Siklus itu milik sejuta umat di muka bumi. Siklus juga milik aku dan seluruh perempuan di muka bumi.”

Mereka terbelak lagi. Kali ini bersama-sama. Sama-sama lepas. Sama-sama lantang. Amy bahagia dengan temuan barunya dan Emp bahagia telah berhasil melebur dalam dunia Amy.

Bulir hujan di luar sana setuju.

Utuh adalah mereka.

Category: Bilik Kecil

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is frozen water?